Sri Sultan Sebar Udhik-Udhik, Gamelan Sekati Kondur
Yogyakarta,REDAKSI17.COMÂ –Â Sri Sultan Hamengku Buwono X, Raja Keraton Yogyakarta sekaligus Gubernur DIY, menyebarkan udhik-udhik di tengah antusiasme masyarakat yang memadati kawasan Pagongan Masjid Gedhe Yogyakarta, Selasa (25/08) malam. Prosesi tersebut mengawali rangkaian puncak Hajad Dalem Sekaten Be 1960/2026 sebelum dua perangkat Gamelan Sekati, Kiai Gunturmadu dan Kiai Nagawilaga, dikembalikan ke Keraton Yogyakarta dalam prosesi Kondur Gangsa.
Sri Sultan hadir didampingi Putri Dalem GKR Mangkubumi dan GKR Bendara, serta Mantu Dalem KPH Wironegoro dan KPH Purbodiningrat. Turut mendampingi perwakilan Kadipaten Pakualaman, para cucu, dan Abdi Dalem Keraton Yogyakarta.
Mengenakan baju takwa berwarna biru gelap bermotif bunga merah dan putih, Sri Sultan terlebih dahulu menuju Pagongan Kidul, tempat Kiai Gunturmadu berada. Udhik-udhik kemudian disebarkan kepada Abdi Dalem Wiyaga yang bertugas menabuh Gamelan Sekati, sebelum dilanjutkan kepada masyarakat.
Antusiasme masyarakat terlihat ketika Sri Sultan menyebarkan udhik-udhik. Warga berdesakan di sekitar Pagongan untuk mendapatkan udhik-udhik yang terdiri atas beras kuning, uang logam, dan bunga. Dari Pagongan Kidul, Sri Sultan bersama rombongan kemudian menuju Pagongan Lor, tempat Kiai Nagawilaga berada, untuk kembali menyebarkan udhik-udhik.
Carik Kawedanan Kaprajuritan Keraton Yogyakarta, Mas Jajar (MJ) Yuda Kawindra, menjelaskan udhik-udhik merupakan simbol sedekah dan berkah Sri Sultan kepada kawula. “Udhik-udhik itu merupakan simbol sedekah dari Sri Sultan kepada masyarakat yang isinya berupa beras kuning, uang logam atau koin, dan bunga. Itu melambangkan suatu sedekah dan berkah bagi rakyat dari Raja Keraton,” katanya.
Setelah prosesi di kedua Pagongan, Sri Sultan menuju Kagungan Dalem Masjid Gedhe dan kembali menyebarkan udhik-udhik kepada Abdi Dalem Suranatan yang bertugas di Masjid Gedhe. Usai menyebarkan udhik-udhik, Sri Sultan menuju serambi Masjid Gedhe untuk mengikuti pembacaan riwayat Nabi Muhammad SAW.
Pembacaan dipimpin Kiai Pengulu Keraton dan diikuti para kerabat Pura Pakualaman serta Abdi Dalem perwakilan berbagai kawedanan di Keraton Yogyakarta. Suasana berlangsung khusyuk. Riwayat kehidupan Nabi Muhammad SAW dibacakan menggunakan bahasa Jawa. Bertindak sebagai pembaca teks Maulid, Pengajeng Urusan Pengulon Raden Riya Mangkuhadiningrat.
Pada bagian srokalan, para hadirin berdiri sebagai bentuk penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW. Dalam prosesi tersebut, para hadirin juga menyematkan sumping sekar. Setelah mengikuti pembacaan riwayat Nabi Muhammad SAW, Sri Sultan jengkar kembali menuju Keraton. Bersamaan dengan itu, prosesi Kondur Gangsa dimulai.
Kondur Gangsa merupakan prosesi kembalinya Kiai Gunturmadu dan Kiai Nagawilaga dari Pagongan Masjid Gedhe ke Keraton Yogyakarta. Kedua gamelan pusaka tersebut selanjutnya ditempatkan di Bangsal Trajumas. “Setelah Sri Sultan kembali ke Keraton, gamelan diusung oleh para Kanca Gladhag dan prajurit juga mengantarkan kembalinya Gamelan Sekati ke Bangsal Trajumas,” ujar Yuda.
Iring-iringan Kiai Gunturmadu dan Kiai Nagawilaga bergerak meninggalkan Pagongan Masjid Gedhe menuju Keraton dengan dikawal prajurit dan diusung Kanca Gladhag. Prajurit Patangpuluh dan Nyutra berada di depan Pagongan Selatan, sedangkan Prajurit Wirabraja dan Nyutra Hitam berada di depan Pagongan Utara.
Masyarakat yang berada di sekitar Pagongan Masjid Gedhe tetap menyaksikan perjalanan kedua perangkat Gamelan Sekati menuju Keraton Yogyakarta. Berbeda dari prosesi sebelumnya, Gamelan Sekati pada tahun ini tidak ditabuh hingga tengah malam. Kedua gamelan langsung dibawa kembali ke Keraton setelah Sri Sultan jengkar dari Masjid Gedhe.
Selama Hajad Dalem Sekaten yang berlangsung 19–25 Agustus, halaman Kagungan Dalem Masjid Gedhe tidak hanya menjadi ruang berlangsungnya rangkaian tradisi, tetapi juga menjadi tempat masyarakat menikmati berbagai sajian dan kerajinan khas Sekaten. Kehadiran kuliner dan kerajinan tersebut turut menghidupkan suasana Sekaten sekaligus mempertemukan tradisi dengan aktivitas masyarakat.
Berbagai sajian khas Sekaten yang tersedia antara lain Sego Gurih atau Nasi Gurih Sekaten, Endog Abang atau Telur Merah, Sate Gajih atau sate lemak bacem, serta Roti Kembang Waru dan Roti Jok. Masyarakat juga dapat menemukan kerajinan khas Sekaten, seperti sumpil, kembang dan sirih pinang, Kapal Thot-Thot atau Otok-Otok, Pecut Sekaten atau cambuk mainan, pasaran gerabah tanah liat atau kreweng, serta sempritan burung dan celengan gerabah.
Kondur Gangsa adalah rangkaian lanjutan setelah Miyos Gangsa yang digelar secara terbuka di Kagungan Dalem Pagelaran Keraton Yogyakarta pada Rabu (19/08). Saat itu, Kiai Gunturmadu dan Kiai Nagawilaga dikeluarkan dari Keraton menuju Pagongan Masjid Gedhe untuk ditabuh selama rangkaian Sekaten.
Sekaten merupakan tradisi Keraton Yogyakarta yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan Mulud dalam penanggalan Jawa untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW. Tradisi tersebut diwariskan sejak masa Sultan Agung Hanyakrakusuma dan terus dijaga hingga kini.
Setelah Kondur Gangsa, rangkaian Hajad Dalem Sekaten Be 1960/2026 berlanjut pada Garebeg Mulud, Rabu (26/08). Sesuai dhawuh atau perintah dalem Sri Sultan, Garebeg Mulud tahun ini digelar secara sederhana tanpa gunungan dan iring-iringan prajurit. Sedekah raja kepada kawula diwujudkan melalui pembagian ubarampe pareden kepada Abdi Dalem di Bangsal Srimanganti Keraton Yogyakarta.
Humas Pemda DIY

