Jakarta,REDAKSI17.COM –Â Mayor Jenderal Mohsen Rezaei, sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, pada Minggu (11/10) mengatakan Amerika Serikat (AS) telah menanggapi tujuh syarat yang diajukan Iran untuk mengakhiri perang dan membuka kembali Selat Hormuz. Namun, Teheran menilai tanggapan tersebut belum memadai.
“Amerika telah memberikan tanggapan kepada kami, dan kami menilai tanggapan mereka belum memadai,” kata Rezaei dalam wawancara dengan Press TV. “Tentu saja, mereka harus menyelesaikan hal-hal yang masih belum jelas. Kita harus melihat apakah mereka dapat mengatasi ketidakjelasan tersebut sehingga tahapan berikutnya bisa dimulai atau tidak.”
Rezaei menyoroti bahwa Iran telah menggelar tiga putaran perundingan dengan Amerika Serikat. Dalam setiap putaran, menurut dia, pihak AS meninggalkan meja perundingan sebelum prosesnya tuntas, lalu menyerang Iran.
“Karena itu, kami tidak akan lagi kembali ke model diplomasi yang lama. Pihak yang menandatangani kesepakatan sendiri lalu menarik diri darinya tentu harus ditangani melalui metode diplomasi yang berbeda,” ujarnya, merujuk pada keputusan Presiden AS Donald Trump yang meninggalkan kesepakatan sebelumnya dengan Iran.
“Tentu saja, kami tidak pernah meninggalkan diplomasi dan tidak akan melakukannya. Namun, kami telah mengubah cara berdiplomasi,” tambahnya.
Rezaei mengatakan, selama dua bulan terakhir, AS telah mengirimkan proposal melalui tiga jalur, yakni Pakistan, Qatar, dan bahkan Irak, sekaligus meminta Iran menyampaikan proposalnya sendiri.
“Kami mengumumkan tujuh syarat kepada Amerika: jika kalian tidak memenuhi syarat-syarat ini, Selat Hormuz tidak akan dibuka untuk kalian dan tidak akan ada perundingan,” katanya. “Amerika kini telah memberikan tanggapan. Dalam tanggapan tersebut, mereka menerima beberapa syarat kami, sementara masih ada hal-hal yang belum jelas terkait syarat lainnya.”
Rezaei, yang juga menjabat sebagai perwakilan Pemimpin Revolusi Islam di Dewan Keamanan Nasional Tertinggi, menegaskan bahwa akhir perang berada “di tangan rakyat Iran”. Ia mengatakan Iran tidak akan meninggalkan perlawanan, keteguhan, dan upaya pertahanannya hingga “pihak musuh” mengakui hak-hak Iran.
Ia menggambarkan serangan AS terhadap Iran sebagai “salah satu perang paling bodoh dalam sejarah umat manusia—perang yang menindas, jahat, dan tidak manusiawi yang dilancarkan terhadap Iran.”
Menurut dia, pemerintahan Donald Trump, yang “secara membabi buta menyerahkan kendali” kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, memasuki perang tanpa penilaian dan perhitungan yang akurat.
“Mereka mengira dapat mengakhiri perang dalam waktu singkat dan menjadikan Trump sebagai salah satu pahlawan besar dalam sejarah Amerika. Namun, kini, dengan kebodohan yang sama, mereka tidak mampu keluar dari perang tersebut. Orang-orang bijak di Amerika perlu turun tangan, menggandeng mereka, dan menarik mereka keluar dari perang,” ujarnya.