Gunungkidul,REDAKSI17.COM – Ketika kemarau membuat warga harus berjalan jauh demi mendapatkan air, harapan baru tumbuh dari perut bumi Gua Cekelan. Gotong royong Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY, TNI, relawan, dan masyarakat berhasil mengalirkan air sungai bawah tanah dalam uji coba. Upaya ini menjadi langkah awal membangun kemandirian warga Kalurahan Purwodadi, Kapanewon Tepus, Gunungkidul, dalam menghadapi kekeringan yang berulang setiap tahun.
Eksplorasi pengangkatan air Gua Cekelan berlangsung pada 13–15 Oktober 2026, dilanjutkan dengan pemantauan dan evaluasi pada 16 Oktober 2026. Kegiatan ini bertujuan memetakan potensi sumber air lokal yang dapat dikembangkan sebagai bagian dari solusi jangka panjang menghadapi kekeringan.
Anggota Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD DIY, Agus Fitriyanto Hidayat, menjelaskan kegiatan tersebut merupakan bagian dari kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau. Potensi sumber air di wilayah setempat diharapkan dapat dimanfaatkan secara bertahap dengan melibatkan masyarakat. “Ini masih uji coba, belum permanen. Namun, air sudah berhasil keluar sehingga masyarakat bisa melihat langsung bahwa ada potensi sumber air di dalam gua,� jelas Agus.
Dalam uji coba tersebut, tim memasang pompa celup dan pipa high-density polyethylene (HDPE) untuk mengalirkan air menuju penampungan sementara yang berjarak sekitar 200 meter. Pompa awal sempat mengalami kendala teknis sehingga diganti bersama perangkat panel kontrolnya. Setelah perbaikan, air berhasil dialirkan pada 15 Oktober 2026. Jaringan pipa juga telah diperpanjang sekitar 50 meter ke arah Gunung Batur, tetapi belum tersambung sepenuhnya hingga penampungan di kawasan tersebut.
Berdasarkan pengukuran awal secara sederhana, aliran sungai bawah tanah di dalam gua diperkirakan sekitar satu liter per detik. Sementara itu, air yang berhasil dialirkan melalui pompa dalam uji coba mencapai sekitar 0,7 liter per detik. Kedua angka tersebut menggambarkan pengukuran pada kondisi yang berbeda dan belum dapat dijadikan dasar untuk memastikan kapasitas pasokan air secara berkelanjutan. Pengukuran lanjutan diperlukan untuk mengetahui potensi debit dan pemanfaatannya.
Agus menegaskan pemetaan sumber air penting karena sekitar 75 persen warga Purwodadi, berdasarkan perkiraannya, merupakan petani yang banyak menghabiskan waktu di ladang. Sebagian bahkan menginap untuk menjaga lahan dan ternak. Ketersediaan air dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga maupun ternak, termasuk memasak, mandi, dan mencuci.
Bagi warga, sumber air yang lebih dekat berpotensi mengurangi waktu dan tenaga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Wastono, warga Cepogo, mengaku bersyukur atas hasil awal uji coba tersebut. Ia berharap keberadaan sumber air dapat memudahkan warga, terutama ketika harus menyediakan air minum bagi ternak.
“Terima kasih sekali karena saya ini sudah orang tua, tidak perlu sampai menginap hanya untuk mencari air minum sapi. Nah ini kalau sudah pasti keluar begitu alhamdulillah, alangkah enaknya,� ungkapnya.
Sementara itu, Supiyem, warga Ngandong, mengaku selama ini harus membeli air tangki untuk memenuhi kebutuhan di rumah. Saat berada di sawah, ia mengandalkan sumber air kecil yang ketersediaannya terbatas. Warga yang hendak mengambil air pun harus mengantre dan bergantian, sedangkan air tidak selalu tersedia.
Karena itu, keberhasilan uji coba pengangkatan air dari Gua Cekelan disambut dengan sukacita. Supiyem berharap potensi sumber air tersebut dapat membantu memenuhi kebutuhan warga sehingga mereka tidak selalu kesulitan mendapatkan air. “Senang sekali, alhamdulillah, airnya sudah mengalir. Karena tidak ada halangan,� imbuh Supiyem.
Pengalaman sulit mendapatkan air juga dirasakan Waridin, warga Ngandong, yang harus berjalan sekitar tiga kilometer untuk memperoleh air yang lebih jernih. Air tersebut dibawa menggunakan jeriken dengan bantuan pikulan. Karena itu, ia menyambut gembira upaya pengangkatan air dari Gua Cekelan.
“Hati saya senang,� ujarnya. Ia menilai air yang terlihat dalam uji coba tampak jernih. Namun, kejernihan secara kasatmata belum menjamin air aman dikonsumsi. Pengujian kualitas air tetap diperlukan sebelum air ditetapkan untuk kebutuhan tertentu, terutama konsumsi.
Agus menegaskan, keberhasilan uji coba bukan akhir dari proses. Pengelolaan sumber air perlu dibahas bersama masyarakat agar pemanfaatannya sesuai kebutuhan dan tidak menimbulkan persoalan di kemudian hari. Warga akan bermusyawarah untuk menentukan pola pengelolaan, sementara BPBD DIY akan terus mendampingi proses tersebut.
“Keputusan pengelolaan harus dibicarakan bersama masyarakat. Harapannya, sumber air ini bisa dimanfaatkan dengan baik dan tidak menimbulkan konflik di kemudian hari,� katanya.
Eksplorasi sumber air bawah tanah juga dilakukan di Gua Ledok, Kalurahan Girisekar, Kapanewon Panggang, pada 2026. Sebelumnya, sumber air di wilayah Keceme, Girisekar, yang dieksplorasi pada 2018, menurut Agus, masih dimanfaatkan oleh empat rukun tetangga (RT) dan membantu mengurangi ketergantungan warga terhadap pasokan air menggunakan tangki.
Eksplorasi Gua Cekelan melibatkan 25 personel dari 11 unsur, yakni TRC BPBD DIY, TAGANA Gunungkidul, SAVE RESCUE Indonesia, Relawan ABHINAYA Bantul, Relawan Pacarejo, RAPI Gunungkidul, SAR DIY, Kombi, Kompak, Koramil Tepus, dan Babinsa Purwodadi. Kolaborasi ini menunjukkan penanganan kekeringan membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk masyarakat yang akan mengelola sumber air tersebut.
Sebelum dimanfaatkan lebih luas, sistem pengangkatan air masih memerlukan pemeriksaan instalasi, pengukuran debit lanjutan, pengujian kualitas air di laboratorium, serta kajian terhadap kondisi lingkungan gua dan kawasan karst. Langkah ini penting untuk memastikan pemanfaatan sumber air berlangsung aman, terukur, dan tetap menjaga kelestarian lingkungan.
Gotong royong di Gua Cekelan menjadi langkah awal membangun kemandirian menghadapi kemarau. Dengan pengelolaan bersama dan tetap menjaga kelestarian lingkungan, potensi sumber air lokal diharapkan menjadi bagian dari solusi jangka panjang agar warga tidak terus bergantung pada bantuan air saat kekeringan datang.
Humas Pemda DIY








