TEHERAN,REDAKSI17.COM – Amerika Serikat memperluas tekanan ekonomi terhadap Iran dengan menyasar sektor perkeretaapian.

Langkah tersebut menambah tantangan bagi Teheran yang semakin mengandalkan jalur darat untuk menjaga arus perdagangan di tengah terbatasnya akses melalui laut.

Dikutip dari DW, pada 1 Oktober, Departemen Keuangan AS menjatuhkan sanksi kepada tiga perusahaan kereta api Iran, bersama tujuh produsen mobil dan lima pemasok suku cadang otomotif asing.

Sanksi tersebut merupakan bagian dari operasi yang disebut Economic Outcast.

Washington menyatakan industri perkeretaapian dan otomotif Iran menjadi sumber pendapatan sekaligus mendukung kapasitas logistik negara tersebut.

AS juga mengaitkan kedua sektor tersebut dengan jaringan yang melibatkan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).

Waktu penerapan sanksi tersebut menjadi sorotan. Sejak blokade maritim AS membatasi secara tajam jalur perdagangan selatan Iran, Teheran berupaya mengalihkan lebih banyak barang melalui perbatasan darat dan jaringan kereta yang menghubungkan negara itu dengan China, Asia Tengah, Rusia, dan Turki.

Dengan begitu, transportasi kereta semakin penting bagi perdagangan Iran justru ketika Washington mulai menyasar sektor tersebut.

Perluas Jaringan

Shahriar Naghizadeh, direktur jenderal perdagangan luar negeri di otoritas perkeretaapian Iran, mengatakan negaranya memiliki sekitar 15.000 kilometer jalur kereta utama dan sekunder.

Iran juga memiliki lebih dari 35.000 gerbong dan hampir 500 lokomotif diesel, menurut pernyataannya yang dikutip kantor berita semi-resmi Mehr.

Jaringan tersebut mengangkut sekitar 44 juta ton barang pada tahun kalender Iran yang berakhir Maret 2026, meningkat dari sekitar 40 juta ton pada tahun sebelumnya.

Pemerintah menargetkan volume angkutan mencapai 54 juta ton pada tahun ini.

Iran terhubung dengan pasar negara-negara tetangga melalui 13 perlintasan kereta lintas batas. Jaringan ini memberikan akses darat ke Turki, Azerbaijan, Afghanistan, Pakistan, serta jalur lanjutan menuju Asia Tengah dan China melalui Turkmenistan.

Namun, sanksi baru AS menimbulkan pertanyaan mengenai kelanjutan kerja sama perusahaan kereta asing, perusahaan pengurusan pengiriman barang, bank, dan perusahaan asuransi dengan operator kereta Iran.

Jalur China-Iran

Bloomberg melaporkan pada Mei bahwa frekuensi kereta barang dari Xi’an, China, menuju Teheran meningkat.

Sebelum blokade AS, perjalanan tersebut berlangsung sekitar sekali sepekan. Frekuensinya kemudian naik menjadi satu perjalanan setiap tiga hingga empat hari.

Pada September, sebuah kereta berangkat dari China membawa suku cadang otomotif, barang konsumsi, dan muatan lainnya.

Kereta tersebut melintasi Kazakhstan, Uzbekistan, dan Turkmenistan sebelum memasuki Iran melalui Sarakhs. Waktu tempuh yang diperkirakan untuk perjalanan itu adalah 14 hingga 16 hari.

Bagi Iran, layanan tersebut membuka akses ke pemasok China tanpa harus melewati kawasan sekitar Selat Hormuz.

Namun, jadwal perjalanan yang diumumkan operator belum tentu mencerminkan waktu pengiriman yang benar-benar dialami importir.

Pengiriman Tak Pasti

Sebuah perusahaan pengiriman barang asal China mengatakan kepada DW bahwa waktu pengiriman aktual dapat jauh lebih lama daripada jadwal yang dipublikasikan. Pemeriksaan di perbatasan, prosedur kepabeanan, dan ketersediaan kereta menjadi sejumlah penyebab keterlambatan.

Perusahaan tersebut memperkirakan perjalanan kereta dari China bagian barat menuju Teheran membutuhkan waktu 50 hingga 60 hari dalam kondisi saat ini.

Sebagai perbandingan, pengiriman melalui jalur darat menggunakan truk di rute serupa memakan waktu sekitar 22 hingga 25 hari.

Perbedaan antara jadwal perjalanan 14 hari dan estimasi komersial hingga 60 hari memperlihatkan salah satu kendala utama yang dihadapi Iran.

Pemeriksaan bea cukai, pergantian lebar rel, masalah pembayaran, dan sanksi juga berpotensi menambah waktu pengiriman.

Peningkatan frekuensi kereta membutuhkan lebih banyak lokomotif dan gerbong, serta koordinasi dengan sejumlah negara yang dilalui.

Penuhi Kebutuhan Industri

Alireza Salavati, Direktur Pelaksana Middle East Analytica yang berbasis di London, mengatakan transportasi kereta semakin berguna bagi Iran.

Namun, jalur ini tidak bisa dianggap sebagai pengganti perdagangan laut.

“Jalur darat yang dapat digunakan kini menghubungkan China dan Iran, tetapi saya tidak akan menyebutnya sebagai pengganti angkutan laut,� kata Salavati kepada DW.

Dalam kondisi normal, kapal mampu mengangkut barang dalam volume jauh lebih besar dengan biaya per unit yang lebih rendah.

Kereta lebih menarik untuk barang yang membutuhkan kecepatan dan kesinambungan pasokan, meskipun ongkos angkutnya bukan yang termurah.

Barang-barang tersebut mencakup komponen otomotif, mesin, elektronik, dan bahan baku industri. Ketiadaan komponen semacam itu dapat menghentikan seluruh lini produksi.

Tekanan Modal Kerja

Menurut Salavati, dampak keterlambatan pengiriman terhadap perusahaan tidak cukup diukur dari biaya angkut saja. Waktu perjalanan juga menentukan berapa banyak modal yang tertahan dalam persediaan barang.

Ia mencontohkan produsen yang mengimpor bahan baku senilai US$1 juta setiap 30 hari.

Jika pengiriman memakan waktu 30 hari, sekitar US$1 juta modal akan tertahan dalam barang yang masih dalam perjalanan.

Jika waktu pengiriman dapat dipangkas menjadi 15 hari, jumlah modal yang tertahan bisa berkurang signifikan, bergantung pada pengaturan pembayaran.

Sebaliknya, keterlambatan yang semakin panjang dapat memperburuk kondisi keuangan perusahaan.

Ketika biaya bahan baku naik dan waktu pengiriman bertambah dari 30 menjadi 45 hari, perusahaan membutuhkan modal kerja tambahan untuk mempertahankan tingkat produksi yang sama.

Salavati menjelaskan, sebuah pabrik bisa saja memiliki pelanggan dan pesanan, tetapi tetap harus mengurangi produksi karena terlalu banyak modal tertahan dalam barang yang belum tiba.

“Keandalan sama pentingnya dengan kecepatan. Kereta yang dijadwalkan tiba dalam 15 hari tidak banyak berguna jika kontainernya menunggu sepekan sebelum berangkat, atau jika bank maupun perusahaan asuransi menolak menangani pengirimannya,� kata Salavati.

Sanksi baru AS menambah ketidakpastian dalam perhitungan tersebut.

Alihkan Jalur Perdagangan

Optimalisasi jaringan kereta dapat memberi Iran lebih banyak pilihan perdagangan daripada hanya mengandalkan pelabuhan di wilayah selatan. Namun, kapasitas keseluruhan jaringan tersebut masih terbatas.

Strategi sanksi Washington dirancang untuk mengisolasi Iran dengan menutup akses melalui jalur maritim, keuangan, penerbangan, dan kini perkeretaapian.

Salavati menilai tekanan tersebut justru dapat mempercepat integrasi Iran dengan jaringan alternatif.

“Upaya Washington untuk mengisolasi Iran juga dapat mendorong negara itu semakin masuk ke dalam lingkup ekonomi China dan semakin dekat dengan sistem strategis Rusia yang terbentuk selama perang,� ujarnya.

Namun, China dan Rusia tidak serta-merta dapat menggantikan kerugian ekonomi akibat tekanan AS. Importir Iran tetap membutuhkan perusahaan asuransi, bank, dan pelanggan yang mampu menanggung biaya lebih tinggi.

Kereta kontainer hanya dapat mengangkut sebagian kecil volume barang yang dibawa kapal kargo besar. Maka dari itu, untuk saat ini, jalur kereta hanya menjadi alternatif terbatas bagi perdagangan Iran.

Keberhasilan jangka panjangnya bergantung pada akses pembiayaan yang lebih baik dan keandalan pengiriman yang meningkat.

Bahkan dengan perbaikan tersebut, kereta tetap tidak dapat sepenuhnya menggantikan angkutan laut.