Standard Post
facebook sharing button
twitter sharing button

Surabaya,REDAKSI17.COM – Dewan Pengurus Wilayah Partai Kebangkitan Bangsa (DPW PKB) Jawa Timur menggelar apel peringatan Hari Santri Nasional di Lapangan Grha Gus Dur, Gayungsari, Surabaya, Kamis (22/10/2026).

Momentum ini dimanfaatkan untuk mendorong santri memperkuat pengabdian kepada bangsa sekaligus mengambil peran dalam menjaga kelestarian lingkungan.

Sekretaris DPW PKB Jatim Multazamudz Dzikri yang bertindak sebagai pembina apel menegaskan, semangat perjuangan santri tidak boleh terbatas pada penguasaan ilmu agama dan pengabdian sosial. Menurutnya, santri juga harus menjadi garda terdepan dalam menjaga lingkungan dan mencegah kerusakan alam.

Di tengah ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla), menjaga kelestarian alam menjadi salah satu bentuk pengabdian yang membutuhkan kepedulian serta tindakan nyata dari seluruh elemen masyarakat.

“Di tengah tantangan zaman ini, salah satu medan pengabdian yang harus menjadi perhatian kita adalah menjaga bumi, menyelamatkan lingkungan, serta mencegah kebakaran hutan dan lahan,� tegas Multazam di hadapan peserta apel.

Anggota DPRD Jawa Timur tersebut mengingatkan bahwa kebakaran hutan bukan sekadar persoalan kerusakan pepohonan, tetapi juga mengancam kehidupan masyarakat. Asap kebakaran dapat mengganggu kesehatan, merusak lingkungan, hingga menghilangkan sumber penghidupan warga.

“Kita tidak boleh membiarkan hutan terbakar, udara tercemar, rakyat kehilangan sumber penghidupan, kesehatan masyarakat terancam asap, dan anak-anak kita mewarisi lingkungan yang rusak,�

ujarnya.

Ia menilai, semangat jihad santri harus mampu menjawab berbagai persoalan nyata yang dihadapi masyarakat. Jika pada masa lalu perjuangan santri identik dengan mempertahankan kemerdekaan dan melawan penjajahan, saat ini semangat tersebut juga perlu diwujudkan melalui

upaya menjaga kelestarian alam.

“Berarti, jihad santri hari ini adalah melawan karhutla,� tandasnya.

Multazam menambahkan, tanggung jawab menjaga lingkungan tidak hanya berada di tangan pemerintah maupun petugas di lapangan, tetapi juga menjadi kewajiban seluruh elemen masyarakat, termasuk kalangan santri.

Santri diharapkan berperan aktif dalam mengedukasi masyarakat, menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan, serta mencegah berbagai tindakan yang berpotensi memicu kebakaran hutan dan lahan.

“Menjaga alam adalah tanggung jawab kita sebagai manusia. Menjaga hutan berarti menjaga kehidupan, menjaga lingkungan berarti menjaga masa depan generasi mendatang,� katanya.

Ia pun mengajak para santri menjadikan peringatan Hari Santri Nasional sebagai momentum membangun gerakan kepedulian lingkungan yang berkelanjutan, bukan sekadar kegiatan seremonial tahunan.

“Kalau belum mampu memadamkan api, jangan menjadi penyebab kebakaran. Kalau belum mampu meredakan bencana, setidaknya jangan ikut menciptakannya,� tegasnya.

Santri Harus Menjadi Penentu Arah Zaman

Dalam kesempatan tersebut, Multazam juga mengingatkan pentingnya menerjemahkan tema Hari Santri Nasional tahun ini, yakni “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas�, ke dalam kerja nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

Menurutnya, tema tersebut tidak boleh berhenti sebagai slogan dalam pidato atau tulisan di spanduk. Semangat Hari Santri harus diwujudkan melalui tekad, gerakan, dan kontribusi nyata bagi kemajuan bangsa.

“Jangan biarkan tema ini berhenti menjadi tulisan di spanduk atau sekadar menjadi slogan di panggung. Jadikan ia tekad, jadikan ia gerakan, jadikan ia kerja nyata. Sebab, Indonesia Emas tidak akan lahir nyata dari pidato yang indah,� ujarnya.

Ia menjelaskan, cita-cita Indonesia Emas membutuhkan fondasi yang kuat, mulai dari pendidikan berkualitas, ekonomi berkeadilan, politik yang bermartabat, hingga kepemimpinan yang berpihak kepada rakyat.

Dalam konteks tersebut, santri memiliki tanggung jawab untuk terus meningkatkan kapasitas diri dan terlibat aktif dalam menyelesaikan berbagai persoalan bangsa. Nilai-nilai keagamaan, kata dia, harus diwujudkan melalui tindakan konkret yang menjawab kebutuhan masyarakat.

“Santri tidak boleh hanya menjadi penonton ketika sejarah ditulis. Santri harus tampil sebagai penentu arah zaman,� pungkasnya.

Melalui apel peringatan Hari Santri Nasional tersebut, DPW PKB Jatim berharap santri terus berkembang menjadi kekuatan penggerak perubahan.

Pengabdian santri diharapkan tidak hanya diwujudkan melalui ucapan, tetapi juga melalui tindakan nyata, termasuk menjaga lingkungan, melindungi kehidupan, dan mewariskan bumi yang lebih baik kepada generasi mendatang.