Teheran,REDAKSI17.COM – Harga minyak mentah jatuh lebih dari 7 persen pada perdagangan Senin (2/11/2026), setelah pembicaraan antara pejabat Iran dan Qatar meningkatkan harapan berakhirnya perang AS-Israel dengan Iran dan stabilnya pasokan minyak mentah dari Timur Tengah.
Kontrak berjangka minyak Brent ditutup anjlok 7,63 persen menjadi USD104,77 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS merosot 7,36 persen menjadi USD96,46 per barel.
Harga Brent sempat menyentuh level terendah USD103,28 per barel, sedangkan WTI mencapai USD95,15 per barel.
Sejumlah analis menyebut harapan terobosan diplomatik menjadi salah satu pemicu penurunan harga minyak setelah Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei telah memberikan kewenangan tertentu kepada pemerintah untuk melakukan pembicaraan damai.
Pezeshkian mengatakan Teheran akan berupaya menyelesaikan masalah melalui dialog, tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut, menurut media pemerintah Iran.
Para negosiator Iran juga menggelar pembicaraan selama beberapa hari dengan mediator Qatar yang bertujuan mengakhiri perang.
Presiden AS Donald Trump pada Senin mengatakan Iran ingin mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang dan menyebut kesepakatan tersebut bisa terjadi.
Pada Senin malam, mediator Qatar bertolak ke Teheran untuk melakukan pembicaraan dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi terkait potensi kesepakatan antara AS dan Iran.
Analis Raymond James Pavel Molchanov mengatakan indikasi kemajuan dalam pembicaraan AS-Iran telah menekan harga minyak.
Namun, dia menilai pasar tetap perlu skeptis mengingat dalam beberapa bulan terakhir telah muncul sejumlah harapan perdamaian yang pada akhirnya tidak membuahkan hasil.
“Pasar minyak masih sangat sensitif terhadap setiap berita dari Timur Tengah,” ujar Analis UBS Giovanni Staunovo.
Menurut dia, kekhawatiran terhadap eskalasi konflik yang segera terjadi telah mendorong harga minyak naik pada pekan lalu. Namun, harga kemudian anjlok tajam pada awal pekan ini seiring berlanjutnya pembicaraan diplomatik antara AS dan Iran.
Penurunan harga juga terjadi setelah Brent mengakhiri Oktober di level tertinggi dalam enam bulan. Saat itu, pasar mencemaskan konflik di Timur Tengah kembali meningkat setelah pemilu sela AS pada Selasa (3/11).
Pembicaraan tersebut berlangsung setelah meningkatnya serangan terhadap kapal tanker minyak yang melintas di Selat Hormuz.
Meski demikian, terdapat pula tanda-tanda peningkatan pengiriman minyak dari sejumlah negara eksportir utama.
Dengan perkembangan tersebut, pasar minyak kini menghadapi tarik-menarik antara harapan deeskalasi konflik dan risiko gangguan pasokan yang masih membayangi kawasan Timur Tengah. (Aldo Fernando)








