SULTAN AGUNG

Raja, Ruh, dan Gunung yang Tidak Pernah Diam
Oleh M. Basyir Zubair
“Manunggaling kawula lan Gusti dudu manunggaling zat, nanging manunggaling karsa.”
Pemahaman inti tasawuf Jawa
Ada yang salah dalam cara kita membaca Sultan Agung. Selama ini, ia dibaca sebagai raja besar yang gagal. Dua kali menyerang Batavia, dua kali kandas. Begitulah versi yang paling sering beredar: seorang pemimpin ambisius yang dikalahkan logistik dan wabah. Selesai. Dikubur bersama pasukan yang tak pernah sampai.
Tapi ada cara membaca yang lain. Dan cara itu jauh lebih menggelisahkan.
Sultan Agung Hanyokrokusumo bukan hanya seorang raja yang berperang. Ia adalah seorang salik, seorang musafir batin yang kebetulan memegang kekuasaan tertinggi di tanah Jawa. Dan dalam tradisi tasawuf, seorang salik tidak dinilai dari seberapa jauh ia menaklukkan wilayah. Ia dinilai dari seberapa dalam ia menaklukkan dirinya sendiri.
Inilah perspektif yang nyaris tidak pernah disentuh dalam tulisan-tulisan tentang Sultan Agung.
I. Mas Rangsang: Api Sebelum Menjadi Cahaya
Nama pertamanya bukan Sultan Agung. Ia lahir sebagai Raden Mas Jatmika, dan tumbuh dikenal dengan nama Mas Rangsang. Dalam leksikon Jawa, rangsang mengandung makna yang bergolak: gairah, dorongan, api yang menyala dan ingin bergerak ke mana-mana.
Nama itu bukan kebetulan. Di balik nama ada tanda. Dan membaca tanda adalah pekerjaan seorang arkeolog sekaligus pekerjaan seorang sufi.
Dalam banyak tradisi mistik, perjalanan seseorang dimulai dari api, bukan api yang membakar, melainkan api yang mencari. Api yang belum tahu ia sebenarnya adalah cahaya. Mas Rangsang adalah nama fase itu: fase sebelum seorang raja memahami bahwa kekuasaan bukan tujuan, melainkan medan ujian.
Ketika ia naik tahta, ia mengambil gelar Sultan Agung Hanyokrokusumo. Perhatikan kata agung: besar, agung, mulia, bukan dalam pengertian militaristik, melainkan dalam pengertian kosmologis. Dalam tradisi Jawa, seorang raja yang benar-benar agung adalah raja yang mampu menjadi cermin semesta, merefleksikan keselarasan antara alam atas dan alam bawah, antara mikrokosmos dan makrokosmos.
Inilah yang membedakan Sultan Agung dari kebanyakan raja. Ia tidak hanya memerintah. Ia bertanya.
II. Dua Ibu Kota, Satu Makam: Membaca Maqam dalam Lanskap
Para sejarawan mencatat perpindahan pusat kekuasaan Mataram sebagai strategi politik atau pertimbangan militer. Kotagede, kemudian Kerto. Arsip Belanda mencatatnya. Berita Cina menyebutnya. Peta kolonial menggambarkannya. (Perpindahan berikutnya ke Plered adalah keputusan Amangkurat I, sang putra bukan Sultan Agung.)
Tapi ada cara membaca yang lain untuk dua perpindahan yang memang milik Sultan Agung itu.
Dalam tasawuf, perjalanan seorang salik mengenal konsep maqam stasiun-stasiun rohani yang harus dilalui sebelum sampai pada fana dan baqa. Setiap maqam bukan sekadar tingkatan; ia adalah ruang yang harus didiami, diresapi, dan ditinggalkan pada waktunya.
Kotagede adalah maqam pertama: tanah leluhur, tempat akar ditancapkan, tempat kerajaan lahir dari keberanian bertaruh. Di sini, Panembahan Senopati membangun fondasi. Di sini, Sultan Agung mewarisi bukan hanya tahta, tetapi juga ingatan tanah, batu, sumur, masjid, dan makam para pendahulunya yang sudah menyatu dengan tanah Kotagede.
Perpindahan ke Kerto bisa dibaca sebagai lompatan ke maqam kedua: ekspansi, penaklukan, penyatuan wilayah. Di sinilah Sultan Agung menjadi raja dalam pengertian penuh, menekan pesisir yang selama ini setengah merdeka, menyatukan pedalaman dan pantai, membangun ibu kota baru sebagai pernyataan bahwa Mataram bukan lagi kerajaan kecil di ceruk perbukitan. Ini adalah fase mujahadah dalam skala geopolitik: perjuangan melawan resistensi lahiriah.
Tapi kemudian Sultan Agung berhenti. Ia tidak membuat ibu kota ketiga. Yang ia bangun bukan istana baru. Yang ia bangun adalah makam. Di Giriloyo, lalu di Imogiri. Ini adalah gerakan ke maqam ketiga, tapi bukan lagi perpindahan horizontal di peta. Ini adalah gerakan vertikal: dari dunia kekuasaan ke dimensi yang sama sekali lain. Dari Kerto yang ramai ke bukit Imogiri yang sunyi. Dari istana ke makam. Dari logika raja ke logika salik.
Dua ibu kota. Satu makam. Itulah lintasan Sultan Agung yang sesungguhnya.
III. Serangan Batavia: Kegagalan atau Ujian?
Kita perlu berbicara jujur tentang Batavia.
Tahun 1628 dan 1629, pasukan Mataram menyerang Batavia. Dua kali. Dua kali gagal. Logistik dibakar oleh VOC sebelum sampai ke tangan pasukan yang sudah kelelahan. Ribuan nyawa hilang. Catatan VOC mencatat kemenangan mereka dengan detail.
Para penulis abad ke-20 sering memosisikan ini sebagai cacat besar dalam kepemimpinan Sultan Agung: ambisius tapi tidak realistis, heroik tapi tidak efektif. Sebuah kegagalan epik.
Tapi tunggu sebentar. Dalam tradisi tasawuf, ada konsep yang disebut isyarat, tanda yang diberikan semesta kepada seorang salik ketika ia sudah terlalu jauh melangkah ke arah yang salah. Isyarat itu tidak selalu nyaman. Ia bisa datang sebagai kehilangan, kekalahan, atau batas yang tiba-tiba muncul di depan langkah.
Apakah kegagalan Batavia adalah isyarat semacam itu? Kita tidak bisa memastikan apa yang ada dalam batin Sultan Agung setelah 1629. Itu bukan wilayah arkeologi maupun sejarah, itu wilayah yang lebih dalam. Yang bisa kita baca adalah perubahan arah setelah kegagalan itu. Sultan Agung tidak berhenti. Ia bergeser. Bukan ke ekspansi militer baru, melainkan ke arah yang lebih dalam: kalender, sastra, dan makam.
Seorang raja yang semata-mata ambisius akan mencoba lagi. Seorang salik akan berhenti dan bertanya: apa yang sebenarnya diminta dari saya?
IV. Kalender Jawa: Menyatukan Dua Waktu
Tahun 1633 Masehi. Sultan Agung mengeluarkan sebuah keputusan yang tampaknya administratif tetapi sesungguhnya adalah pernyataan filosofis. Ia menggabungkan kalender Saka, sistem perhitungan waktu Hindu-Jawa kuno, dengan kalender Hijriyah Islam. Bukan mengganti yang satu dengan yang lain. Tapi menyatukannya.
Ini bukan sekadar reformasi administrasi. Ini adalah pernyataan ontologis: bahwa waktu kosmis (dharma Hindu-Jawa, siklus alam semesta) dan waktu religius (perjalanan umat menuju Allah dalam tradisi Islam) bukan dua hal yang bertentangan, melainkan dua wajah dari satu kenyataan.
Dalam tasawuf Ibn Arabi, yang kemungkinan besar sudah masuk ke Jawa melalui jaringan ulama pesisir, ada konsep wahdat al-wujud: kesatuan wujud. Semua yang tampak berbeda pada hakikatnya berpangkal pada satu sumber. Kalender Sultan Agung bisa dibaca sebagai aplikasi konsep ini ke dalam urusan kenegaraan: menyatukan yang tampak berbeda karena ia melihat kesatuan di baliknya.
Dan itu bukan kerja seorang birokrat. Itu kerja seorang yang sudah merasakan sesuatu di kedalaman batinnya.
V. Sastra Gending: Ketika Raja Menulis untuk Jiwa
Di antara peninggalan Sultan Agung yang paling sering diabaikan adalah Sastra Gending, sebuah teks yang ia tulis sendiri, atau setidaknya ia supervisi langsung.
Bukan manifesto perang. Bukan kode hukum. Bukan catatan penaklukan.
Sastra Gending adalah meditasi tentang keselarasan antara manusia dan semesta, antara penguasa dan yang dikuasai, antara gerak lahir dan diam batin. Ia menggunakan metafora gending musik gamelan sebagai lambang: bahwa hidup yang baik adalah hidup yang selaras, seperti nada-nada yang tidak saling mengalahkan tetapi membentuk harmoni.
Dalam konteks tasawuf, ini berbicara tentang fana’ fi Allah yang bukan berarti lenyap, melainkan selaras, ketika ego yang kecil berhenti berteriak dan mulai mendengar irama yang lebih besar.
Bahwa seorang raja yang sedang memimpin kerajaan terbesar di Asia Tenggara pada zamannya sempat duduk dan menulis tentang keselarasan jiwa, ini bukan kebetulan. Ini adalah tanda bahwa ia tahu: tanpa keselarasan batin, semua kekuasaan lahir hanyalah kebisingan.
VI. Imogiri: Gunung yang Dibangun untuk Ruh
“Gunung adalah tempat manusia mendekati langit. Makam adalah tempat manusia melepaskan bumi.”
Refleksi atas arsitektur sakral Jawa
Sebelum Ada Batu, Ada Pilihan
Sultan Agung tidak mendirikan Imogiri secara tiba-tiba. Sebelum Imogiri, ada Giriloyo, sebuah kompleks makam di kawasan Wukirsari yang sudah ia siapkan lebih awal. Nama itu sendiri sudah berbicara: giri berarti gunung, loyo bisa dibaca sebagai lemah, turun, runtuh. Gunung yang merendah.
Tapi kemudian ia memilih puncak yang lebih tinggi lagi: Bukit Merak di Imogiri. Dan di sinilah sesuatu yang luar biasa terjadi.
Dalam sejarah arkeologi, kita terbiasa membaca seorang raja yang membangun istana sebagai pernyataan kekuasaan. Tapi seorang raja yang membangun makam sebelum ia mati dan membangunnya di puncak bukit yang membutuhkan ratusan anak tangga untuk dicapai, sedang mengatakan sesuatu yang sama sekali berbeda.
Ia sedang mengumumkan: kekuasaan saya akan berakhir, dan saya tahu itu.
Geografi Ruhani: Membaca Imogiri Lapis demi Lapis
Secara fisik, Imogiri terletak di perbukitan Sewu di selatan Yogyakarta, pada ketinggian sekitar 75 meter di atas dataran sekitarnya. Untuk mencapai kompleks makam utama, peziarah harus menaiki tangga, ratusan anak tangga batu yang membentuk jalur vertikal menuju ke atas.
Dalam arkeologi lanskap, ini disebut elevated sacred space, ruang sakral yang sengaja ditempatkan di ketinggian untuk menciptakan pemisahan antara dunia profan (bawah) dan dunia sakral (atas). Pola ini bukan hanya Jawa; ia ditemukan dari Aceh hingga Maluku, dari Mesir hingga Mesoamerika.
Tapi Imogiri bukan sekadar elevated. Ia dirancang sebagai gunung buatan, versi manusiawi dari kosmologi gunung sebagai axis mundi, poros dunia, titik di mana langit dan bumi bertemu.
Dalam tasawuf Jawa, ada pemahaman bahwa manusia adalah al-insan al-kamil, manusia sempurna, yang menjadi titik pertemuan antara Yang Ilahi dan dunia materi. Seorang raja yang memahami tasawuf tidak akan melihat dirinya sebagai puncak kekuasaan, melainkan sebagai titik pertemuan: antara langit dan bumi, antara kehendak Ilahi dan kebutuhan rakyat, antara dunia dan akhirat.
Imogiri mewujudkan pemahaman itu dalam batu, tanah, dan tangga.
Anak Tangga sebagai Perjalanan Maqam
Bayangkan menaiki tangga Imogiri. Setiap langkah adalah satu langkah meninggalkan dataran di bawah. Setiap anak tangga membawa kaki lebih jauh dari keramaian, lebih dekat ke keheningan. Ini bukan arsitektur yang tidak disengaja.
Dalam tasawuf, perjalanan ruhani digambarkan sebagai perjalanan yang memerlukan usaha, bukan karena Tuhan jauh, tetapi karena ego manusia berat. Setiap maqam yang dinaiki memerlukan pelepasan sesuatu: ego, keangkuhan, ketergantungan pada dunia lahir.
Semakin tinggi seseorang naik dalam maqam, semakin sedikit yang ia bawa.
Tangga Imogiri adalah perwujudan fisik dari proses itu. Peziarah yang naik bukan hanya berpindah lokasi, ia melakukan latihan melepaskan. Napas yang makin berat adalah pengingat bahwa tubuh ini batas. Pemandangan yang makin luas adalah isyarat bahwa perspektif harus melebar bersama ketinggian.
Dan di puncak, di hadapan makam Sultan Agung: bukan prestasi militer yang menunggu. Bukan piagam penaklukan. Hanya batu nisan. Dan keheningan yang sangat berat.
Makam sebagai Pernyataan Teologis
Ada sesuatu yang perlu dipahami tentang cara Sultan Agung membangun Imogiri yang tidak banyak dibahas.
Ia tidak membangun makam hanya untuk dirinya. Imogiri dirancang sebagai kompleks makam kerajaan, tempat di mana para raja dan sultan Yogyakarta dan Surakarta kelak akan dikebumikan bersama. Ini adalah keputusan yang luar biasa.
Dalam geopolitik Jawa, Yogyakarta dan Surakarta adalah dua entitas yang lahir dari perpecahan Mataram (Perjanjian Giyanti, 1755 satu abad setelah Sultan Agung wafat). Mereka sering bersaing, kadang berselisih, dan memiliki identitas yang berbeda.
Namun semua raja dan sultan dari kedua entitas itu, ketika wafat, naik ke puncak bukit yang sama. Ke makam yang sama. Ke keheningan yang sama.
Di hadapan kematian, tidak ada Yogyakarta dan Surakarta. Tidak ada dua kerajaan. Tidak ada perpecahan Giyanti. Ada satu kesatuan yang lebih mendasar: semua kembali kepada Yang Satu.
Apakah Sultan Agung sudah melihat ini ketika ia membangun Imogiri? Tentu kita tidak bisa memastikan. Tapi geografi sakral yang ia ciptakan menjawabnya sendiri.
Imogiri dan Konsep Gunung dalam Tasawuf Jawa
Dalam kosmologi Jawa yang sudah bercampur dengan tasawuf Islam, gunung bukan hanya formasi geologis. Ia adalah tanda, ayat yang menunjuk ke sesuatu yang lebih tinggi dari dirinya sendiri.
Gunung itu diam, tapi tidak mati. Ia bertahan melampaui generasi, melampaui kerajaan, melampaui perang. Dalam diam itulah kekuatannya: ia tidak bergerak, tapi semua yang bergerak akhirnya kembali ke dasarnya. Sungai-sungai mengalir dari gunung. Angin berputar di sekitarnya. Manusia mendaki dan turun. Tapi gunung tetap ada.
Ketika Sultan Agung memilih puncak bukit sebagai tempat makamnya, ia memilih untuk menjadi gunung dalam pengertian spiritual: menjadi titik rujukan yang diam, yang tidak perlu berteriak untuk didengar, yang hadir bahkan ketika tidak terlihat.
Para peziarah yang datang ke Imogiri dan mereka datang setiap Jumat Kliwon dan Selasa Kliwon, ribuan orang, tidak datang untuk mengagumi artefak. Mereka datang untuk merasakan. Dan apa yang mereka rasakan itu sulit dijelaskan dalam kategori sejarah atau arkeologi. Ia termasuk dalam kategori lain: kehadiran yang melampaui kematian.
VII. 1645: Kematian yang Bukan Akhir
Sultan Agung wafat pada tahun 1645. Tubuhnya dimakamkan di Imogiri, di puncak yang ia bangun sendiri.
Tapi ada yang aneh dengan kematian Sultan Agung dalam ingatan kolektif Jawa.
Ia tidak pergi. Dalam berbagai babad dan tradisi tutur, Sultan Agung sering digambarkan sebagai sosok yang masih hadir, bukan dalam pengertian supranatural yang naif, melainkan dalam pengertian yang lebih dalam: kehadirannya terasa dalam cara orang Jawa menghitung waktu (kalender Jawa masih dipakai), dalam cara mereka memahami kekuasaan dan tanggung jawab raja, dalam cara mereka memandang hubungan antara manusia dan tanah.
Dalam tasawuf, ini disebut baqa’, kelanggengan setelah fana’. Seorang yang telah benar-benar fana’ yang telah melepaskan keakuannya di hadapan Yang Maha Ada, tidak lenyap. Ia justru menjadi lebih hadir, karena tidak ada lagi sekat ego yang memisahkannya dari apa yang ada di sekitarnya.
Sultan Agung yang wafat di Imogiri dan Sultan Agung yang masih terasa dalam tradisi, dalam kalender, dalam ingatan tanah Jawa, mungkin keduanya adalah satu orang yang sedang menjalani dua fase dari satu perjalanan yang sama.
VIII. Perspektif yang Selama Ini Tidak Ditulis
Mengapa perspektif ini jarang ditulis?
Sebagian karena sejarah akademik modern, yang tumbuh dari tradisi Eropa abad ke-19 cenderung memisahkan domain: ada sejarah politik, ada sejarah agama, ada sejarah ekonomi. Tasawuf masuk ke kategori keagamaan, dan keagamaan sering dianggap urusan privat yang tidak relevan untuk memahami kebijakan publik seorang raja.
Sebagian lagi karena ada rasa tidak nyaman ketika seorang tokoh sejarah dibaca dari dalam dari batinnya, bukan hanya dari tindakan luarnya. Itu terasa spekulatif. Terasa tidak ilmiah.
Tapi arkeologi sendiri sudah lama mengakui bahwa lanskap bukan netral.
Setiap pilihan ruang, di mana istana dibangun, di mana makam ditempatkan, bagaimana pola permukiman disusun, adalah ekspresi dari cara manusia itu memahami dirinya dan dunia. Membaca pilihan-pilihan Sultan Agung bukan spekulasi. Itu adalah arkeologi batin yang menggunakan bukti fisik sebagai titik masuk.
Dan bukti fisik itu ada: Imogiri masih berdiri. Kalender Jawa masih dipakai. Sastra Gending masih bisa dibaca. Tiga perpindahan ibu kota masih bisa ditelusuri di peta. Jalur-jalur logistik yang ia bangun masih meninggalkan jejak dalam pola desa-desa di Karawang dan Jawa Barat.
Tanah menyimpan. Dan arkeolog membaca apa yang disimpan tanah.
Penutup: Raja yang Paling Misteri adalah Raja yang Paling Jujur
Sultan Agung adalah raja yang misteri. Tapi misterinya bukan misteri yang dibuat-buat, itu misteri yang lahir dari kejujuran yang jarang dimiliki seorang penguasa.
Ia jujur bahwa kekuasaan itu sementara. Maka ia membangun makam.
Ia jujur bahwa waktu itu lebih besar dari satu sistem. Maka ia menyatukan kalender.
Ia jujur bahwa keselarasan batin lebih penting dari ekspansi wilayah. Maka ia menulis tentang keselarasan.
Dan ia jujur bahwa kematian bukan ancaman, melainkan kelanjutan perjalanan. Maka Imogiri bukan benteng pertahanan terakhir. Ia adalah pintu.
Pintu ke mana? Ke sesuatu yang tidak bisa ditaklukkan dengan pasukan, tidak bisa diukur dengan peta, dan tidak bisa dikalahkan oleh VOC.
Ke tempat semua gunung akhirnya kembali diam.
Catatan Metodologis
Artikel ini tidak mengklaim bisa masuk ke batin Sultan Agung. Apa yang dilakukan di sini adalah membaca pilihan-pilihan arkeologis dan historiografis yang ia tinggalkan — lokasi makam, pembangunan Imogiri, reformasi kalender, penulisan Sastra Gending — dan menafsirkannya dalam kerangka tasawuf Jawa yang memang sudah menjadi arus intelektual di Mataram Islam. Interpretasi sufistik bukan berarti anti-ilmiah; ia adalah salah satu lensa pembacaan yang sah, khususnya untuk tokoh yang hidup dalam tradisi di mana batas antara politik dan spiritualitas memang tidak pernah tegas.
Untuk pembaca yang ingin menggali lebih jauh konsep maqam dalam tasawuf Jawa, dapat dirujuk karya-karya yang membahas suluk pesantren Jawa abad ke-17—18, termasuk suluk-suluk yang dikaitkan dengan lingkaran Mataram Islam. Identifikasi langsung antara Sultan Agung dan teks-teks suluk tertentu memerlukan verifikasi filologis yang lebih ketat dari apa yang dapat dilakukan dalam artikel populer-akademis ini.
Daftar Pustaka Selektif
Sumber Primer
Babad Tanah Jawi. Berbagai versi dan turunan.
Sastra Gending. Teks yang dikaitkan dengan Sultan Agung Hanyokrokusumo.
Serat Centhini. Konteks intelektual Jawa abad ke-18—19 yang mewarisi tradisi Mataram.
Sumber Sekunder
De Graaf, H.J. dan T.H. Pigeaud. Kerajaan Islam Pertama di Jawa. Jakarta: Grafiti Pers.
Ricklefs, M.C. A History of Modern Indonesia Since c. 1200. Stanford: Stanford University Press.
Lombard, Denys. Nusa Jawa: Silang Budaya. Jakarta: Gramedia.
Simuh. Sufisme Jawa: Transformasi Tasawuf Islam ke Mistik Jawa. Yogyakarta: Bentang Budaya.
Woodward, Mark R. Islam in Java: Normative Piety and Mysticism in the Sultanate of Yogyakarta. Tucson: University of Arizona Press.
Balai Pelestarian Cagar Budaya Yogyakarta. Data situs Astana Imogiri dan Giriloyo.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *