Sultan Agung berkulit Gelap, catatan2 orang Belanda yang jumpa Sultan Agung mengatakan Sang Sultan berkulit Gelap bahkan lebih gelap daripada orang Jawa pada umumnya. Namun foto Sultan Agung yang beredar saat ini cenderung Coklat.
Kulit Sultan Agung disebutkan lebih gelap dibandingkan orang Jawa pada umumnya, namun tetap menonjol dengan hidung kecil yang tidak pesek, mulut datar agak lebar, dan wajah bulat yang tenang namun cerdas. Salah satu ciri khas yang paling mencolok menurut De Haen adalah sorotan matanya yang tajam dan “seperti singa,” sebuah perumpamaan yang menegaskan wibawa serta aura kekuasaan yang terpancar dari seorang raja besar.
Selain deskripsi fisik, de Haen juga mencatat perilaku dan gaya bicara Sultan Agung. Menurut dia, Sultan cenderung lamban dalam berbicara, tetapi ada kesan kekuatan dan ketegasan di balik ucapannya yang kasar. Gambaran ini mungkin mencerminkan kepribadian Sultan Agung yang karismatik, yang tidak hanya dihormati oleh rakyatnya tetapi juga disegani oleh para pendatang asing.
Pakaian Sultan Agung: Antara Kesederhanaan dan Kemegahan
De Haen juga menyinggung pakaian Sultan Agung yang saat itu mencerminkan ke-Jawa-an yang kental. Sultan mengenakan kain batik berwarna putih biru yang diproduksi secara lokal di Mataram. Busana tersebut dilengkapi dengan kopyah dari kain linen yang berwarna putih, atau dalam istilah Jawa disebut kuluk. Pemakaian kuluk putih ini, selain menunjukkan kepatuhan Sultan Agung terhadap ajaran Islam, juga menegaskan citranya sebagai pemimpin spiritual sekaligus politik.
Selain itu, De Haen memperhatikan bahwa Sultan Agung membawa keris di bagian depan tubuhnya, sebuah kebiasaan yang berbeda dengan adat Jawa pada umumnya. Di masa itu, keris biasanya dikenakan di bagian belakang atau samping. Penyimpangan ini mungkin dimaksudkan sebagai simbol kekuasaan atau pengaruh Sultan terhadap budaya yang ia pimpin. Jemari Sultan dihiasi oleh cincin-cincin berintan yang berkilauan, sebuah tanda kemewahan yang sering kali dikaitkan dengan status seorang raja besar.





