Oleh M. Basyir Zubair (Embas)
Ada sebuah kisah yang nyaris tidak pernah diceritakan secara jujur: bahwa mahkota kerajaan terbesar di Jawa abad ke-17 berpindah tangan bukan karena kelaziman hukum waris, tetapi karena wangsit, usia, dan satu pria menakutkan yang berdiri di depan kerumunan sambil berkata: “Maju, aku sendiri yang menghadapi kalian.”
Inilah kisah pergantian tahta Kerajaan Mataram Islam yang paling bergolak dan paling sedikit dianalisis dari sudut yang benar-benar jujur. Bukan sekadar drama keluarga kerajaan biasa. Ini adalah benturan antara hukum waris, legitimasi trah, dan kekuasaan seorang sesepuh yang mampu membekukan seisi kerajaan hanya dengan satu ancaman.
FAKTA: PARA TOKOH UTAMA
Pangeran Martapura (nama asli: Raden Mas Wuryah) putra mahkota, lahir 1605, usia 8 tahun saat jumenengan (1613)
Ratu Tulungayu (Ratu Lung Ngawu), Garwa Padmi (permaisuri) Panembahan Hanyakrawati, asal Ponorogo
Mas Rangsang (kemudian Sultan Agung), putra Hanyakrawati dari Dyah Banawati/Ratu Mas Adi, cucu Sultan Hadiwijaya Pajang, usia 20 tahun (1613)
Pangeran Purbaya (nama kecil: Jaka Umbaran), putra sulung Panembahan Senopati dari Rara Lembayung, putri Ki Ageng Giring III, sesepuh Mataram
Sumber usia Martapura: J.P. Coen, kepala perdagangan VOC, mencatat Martapura berumur 8 tahun saat naik tahta (dikutip dalam Babad Tanah Jawi, ed. Soedjipto Abimanyu)
I. RAJA SEHARI: PENOBATAN YANG TIDAK PERNAH SUNGGUH-SUNGGUH
Ketika Panembahan Hanyakrawati, bergelar resmi Sri Susuhunan Adi Prabu Hanyakrawati Senapati-ing-Ngalaga Mataram, wafat tahun 1613 karena kecelakaan berburu kijang di Hutan Krapyak, persoalan suksesi segera meledak. Ia meninggal dengan meninggalkan dua janji yang saling bertabrakan.
Janji pertama diberikan kepada Ratu Tulungayu dari Ponorogo, istri pertama sekaligus permaisuri sahnya. Janji itu lahir di masa Mas Jolang masih berstatus Adipati Anom, sebelum ia naik tahta, dan sebelum kedua istrinya memiliki anak. Mas Jolang berjanji: jika kelak ia menjadi raja, putra yang lahir dari Ratu Tulungayu akan menjadi Adipati Anom (putra mahkota).
Namun takdir berjalan tidak sesuai urutan. Mas Jolang kemudian menikah lagi dengan Dyah Banawati putri Pangeran Benawa, raja terakhir Pajang, dan dari pernikahan itulah Mas Rangsang lahir lebih dulu. Baru setelah Mas Rangsang hadir di dunia, Ratu Tulungayu mengandung dan melahirkan Raden Mas Wuryah. Janji yang semula dibuat dengan asumsi putra Tulungayu akan menjadi anak pertama, kini berbenturan dengan fakta bahwa Mas Rangsang sudah lebih dulu ada.
Janji kedua datang menjelang ajal. Berdasarkan ramalan Panembahan Bayat penasihat spiritual keraton, Hanyakrawati berwasiat bahwa Raden Mas Rangsang yang harus meneruskan tahta. Alasannya: Rangsang akan membawa Mataram menaklukkan seluruh Jawa.
“Dua janji, satu tahta. Tidak ada kerajaan yang bisa duduk di dua kursi sekaligus.” Solusi yang dipilih keraton mencerminkan kecerdikan politik sekaligus kelicikan yang halus: Raden Mas Wuryah, Pangeran Martapura, dinobatkan menjadi raja, lalu keesokan harinya diturunkan. Penobatan kilat ini bukan lelucon. Ini adalah cara keraton Mataram memenuhi janji kepada pihak Ponorogo secara formal, sekaligus membuka jalan bagi Mas Rangsang tanpa secara terang-terangan mengingkari wasiat almarhumah permaisuri.
TITIK BALIK: KRONOLOGI PERGANTIAN TAHTA 1613
1613 → Panembahan Hanyakrawati wafat di Hutan Krapyak saat berburu kijang
1613 → Pangeran Martapura (8 tahun) dinobatkan menjadi Raja Mataram ke-3
1613 → Keesokan harinya: Pangeran Purbaya mengumumkan jumenengan Mas Rangsang
1613 → Mas Rangsang naik tahta, usia 20 tahun, sebagai Raja Mataram (Sultan Agung)
1613+ → Gejolak dari pihak Ponorogo; Pangeran Purbaya pasang badan sebagai tameng
Gelar awal Sultan Agung: Susuhunan Anyakrakusuma (gelar ‘Sultan Agung’ baru dipakai sekitar 1640an)
II. JAKA UMBARAN: SANG HAKIM YANG TIDAK PERNAH DIPILIH
Sosok paling menentukan dalam drama ini bukan Martapura, bukan Mas Rangsang melainkan Pangeran Purbaya, seorang pria yang hidupnya sendiri adalah luka panjang yang ditutup dengan kekuatan.
Nama kecilnya Jaka Umbaran. Diumbar dalam bahasa Jawa berarti diterlantarkan. Ia dilahirkan dari pernikahan yang tidak bahagia antara Danang Sutawijaya calon raja Mataram dengan Rara Lembayung (disebut juga Niken Purwasari), putri Ki Ageng Giring III dari Desa Sodo, Paliyan, Gunungkidul.
Pernikahan itu adalah transaksi politik: Ki Ageng Pemanahan, ayah Sutawijaya, meminta maaf atas insiden wahyu kelapa muda yang terminum salah orang dengan cara menikahkan putranya kepada putri Giring.
Sutawijaya tidak mencintai istrinya dan segera pergi meninggalkan Rara Lembayung yang tengah mengandung. Jaka Umbaran tumbuh tanpa ayah, tanpa pengakuan, di pinggiran kekuasaan yang sedang dibangun oleh sang ayah kandung di Kotagede.
Kisah bagaimana Jaka Umbaran akhirnya diakui sebagai putra Panembahan Senopati, melewati perjuangan keras dan pengorbanan tragis ibunya, adalah salah satu kisah paling pilu dalam sejarah dinasti Mataram. Namun begitu ia diakui dan diberi gelar Pangeran Purbaya, ia tumbuh menjadi sosok paling ditakuti di keraton.
“Babad Tanah Jawi mencatat: putra Panembahan Senopati yang paling sakti ada dua, Raden Rangga yang mati muda, dan Pangeran Purbaya yang hidup panjang dan mengerikan.”
Kesaktian Purbaya bukan sekadar cerita leluhur. Rekam jejaknya nyata: ia menjadi pelindung tahta Mataram ketika Sultan Agung berperang ke Batavia. Ia masih hidup cukup lama untuk ikut menghadapi Pemberontakan Trunajaya dan gugur di usia senja, dikeroyok pasukan gabungan Makassar dan Madura pada Oktober 1676.
III. ANCAMAN TERBUKA DI MUKA UMUM
Yang membedakan peralihan tahta Mataram 1613 dari sekadar drama suksesi biasa adalah cara Pangeran Purbaya mengumumkannya: di hadapan publik, dengan ancaman eksplisit.
Berdasarkan Babad Tanah Jawi yang dikutip Soedjipto Abimanyu, ketika Purbaya mengumumkan naiknya Mas Rangsang menggantikan Martapura, ia sekaligus menantang siapa pun yang tidak setuju untuk maju menghadapinya secara langsung. Tidak ada yang berani. Dan memang tidak ada yang bisa.
DEBAT ILMIAH: LEGITIMASI TRAH VERSI PURBAYA
Pangeran Purbaya mengajukan argumentasi trah untuk melegitimasi Sultan Agung:
Sultan Agung (Mas Rangsang) → lahir dari Dyah Banawati, putri Pangeran Benawa, Sultan Pajang
Pangeran Martapura → lahir dari Ratu Tulungayu, putri bangsawan Ponorogo
Menurut Purbaya: trah Pajang (keturunan Hadiwijaya) lebih tinggi dari trah Ponorogo. Argumen ini bisa diperdebatkan. Secara hukum waris kekerabatan matrilineal-patrilineal Jawa,
Martapura lahir saat ayahnya sudah menjadi raja, Rangsang lahir sebelum ayahnya naik tahta. Inilah mengapa secara teknis Martapura adalah putra mahkota yang lebih sah. Namun ‘wangsit’ dan ‘sakti’ mengalahkan ‘teknis hukum’ dalam realitas politik Mataram.
Ada satu detail yang sering luput: mengapa Pangeran Purbaya bukan patih atau pembesar keraton lain, yang tampil sebagai pengumum? Ini bukan kebetulan. Purbaya adalah putra sulung Panembahan Senopati, saudara tiri Hanyakrawati lain ibu, yang berarti ia adalah paman atau pakde dalam istilah Jawa bagi Martapura dan Mas Rangsang. Ia adalah sesepuh satu generasi di atas konflik itu. Dengan tampil mengumumkan sekaligus mengancam, Purbaya menempatkan dirinya bukan sebagai pihak yang berpihak, tetapi sebagai hakim yang memutus. Dan karena tidak ada yang sanggup menantangnya, putusannya menjadi hukum.
IV. POLA YANG BERULANG: JANJI YANG SELALU DIBATALKAN
Yang paling mengejutkan dari drama suksesi 1613 bukanlah hasilnya, tetapi bahwa ini bukan pertama kalinya terjadi di Mataram. Setidaknya satu generasi sebelumnya, pola yang hampir identik sudah terjadi.
Panembahan Senopati pendiri Mataram menikahi Retno Dumilah dari Madiun, yang dikenal sangat sakti. Pernikahan itu sendiri kontroversial: Senopati tidak mampu mengalahkan Retno Dumilah dalam perang, sehingga ia menaklukkan sang putri bukan dengan pedang melainkan dengan rayuan dan janji. Janjinya: putra yang lahir dari Retno Dumilah akan menjadi putra mahkota.
Dari pernikahan itu lahir Pangeran Pringgalaya (alias Raden Mas Julik). Namun menjelang akhir hayatnya, Senopati membatalkan janji itu. Wangsit yang ia terima menyatakan bahwa tahta harus jatuh kepada Raden Mas Jolang yang ibunya adalah Ratu Mas Waskitajawi dari Pati. Jolang kelak naik tahta bergelar Panembahan Hanyakrawati.
FAKTA: RETNO DUMILAH DAN PERSOALAN JANJI SENOPATI
Retno Dumilah adalah putri Pangeran Timur, penguasa Madiun, keturunan Brawijaya Majapahit. Senopati menikahinya setelah Retno Dumilah tidak berhasil dikalahkan secara militer.
Putra Retno Dumilah dengan Senopati: Pangeran Pringgalaya (Raden Mas Julik). Pringgalaya justru terbukti setia kepada Hanyakrawati, dialah yang memadamkan pemberontakan Pangeran Jayaraga pada 1607 (sumber: catatan genealogi Mataram Islam).
Pola: janji kepada istri → wangsit → janji dibatalkan → putra istri diabaikan dari tahta. Pola ini berulang dua generasi berturut-turut: Senopati → Jolang, lalu Jolang → Sultan Agung
Kemiripan struktural antara kedua peristiwa ini bukan kebetulan. Ini adalah cara kerja politik keraton Mataram: janji pernikahan digunakan sebagai alat memperluas aliansi, tetapi mudah dibatalkan atas nama ‘wangsit’ ketika kalkulasi politik berubah. Wangsit menjadi instrumen legitimasi yang tidak bisa digugat, karena siapa yang berani mempertanyakan pesan dari leluhur atau dari Tuhan?
“Wangsit adalah konstitusi Mataram. Tidak ada mahkamah yang bisa menggugatnya. Tidak ada saksi yang bisa membantahnya.”
V. LUKA PONOROGO YANG TIDAK PERNAH SEMBUH
Pihak yang paling dirugikan dari drama 1613 adalah kerabat Ratu Tulungayu dari Ponorogo. Permaisuri yang sah, yang anaknya sudah sempat dinobatkan menjadi raja, meski hanya sehari semalam, harus menelan kenyataan pahit bahwa putranya dilengserkan.
Penolakan Ponorogo terhadap naiknya Sultan Agung adalah nyata dan tercatat.
Namun Pangeran Purbaya telah menutup semua pintu perlawanan. Martapura tetap hidup, ia tidak dibunuh tetapi ia disingkirkan dari lintas kekuasaan selamanya. Raden Mas Wuryah yang lahir di Kotagede pada 1605 dan sempat satu hari duduk di singgasana Mataram itu tercatat kemudian dengan nama Pangeran Adipati Martapura, dan dalam beberapa sumber juga dikenal kemudian sebagai Mbah Raden Santri.
Sementara itu, Sultan Agung yang naik tahta pada 1613 dalam usia 20 tahun, terbukti memenuhi ramalan Panembahan Bayat. Ia menjadi penguasa terbesar yang pernah dimiliki Mataram: menaklukkan Madura (1624), menundukkan Surabaya, menyerang Batavia dua kali (1628 dan 1629), dan membangun Imogiri sebagai kompleks makam keramat yang masih berdiri hingga hari ini.
CERMIN DUNIA: SUKSESI KONTROVERSIAL DALAM SEJARAH DUNIA
Mataram 1613 bukan satu-satunya kerajaan yang mengalami pergantian tahta penuh drama:
• Kekaisaran Mughal (India): Shah Jahan dikuasai putranya Aurangzeb (1658) melalui perang saudara brutal
• Kesultanan Utsmaniyah: hukum suksesi Ottoman mengizinkan pembunuhan saudara secara legal untuk mencegah perang
• Dinasti Tudor (Inggris): Edward VI digantikan Lady Jane Grey selama 9 hari sebelum Mary I naik tahta
• Perbedaan Mataram: suksesi diselesaikan tanpa pertumpahan darah langsung, hanya lewat ancaman dan wangsit
VI. APA YANG DIWARISKAN?
Tragedi suksesi Mataram Islam di awal abad ke-17 ini mewariskan beberapa pelajaran yang tidak bisa diabaikan oleh siapa pun yang ingin memahami mengapa Mataram kemudian menjadi besar, sekaligus mengapa ia kemudian runtuh dari dalam.
Pertama: sistem suksesi Mataram tidak pernah memiliki aturan yang jelas dan mengikat. Wangsit selalu bisa digunakan untuk mengesampingkan hukum waris formal. Ini membuat setiap pergantian raja menjadi potensi krisis.
Kedua: kekuatan personal seorang sesepuh, bukan institusi yang menjamin stabilitas. Ketika tidak ada Pangeran Purbaya, ketika tidak ada figur yang cukup ditakuti untuk membekukan perlawanan, sistem ini rentan roboh. Dan memang di generasi berikutnya, Mataram mulai retak dari dalam.
Ketiga: janji kepada perempuan kepada para permaisuri, adalah janji yang paling mudah diingkari dalam politik kerajaan Jawa. Retno Dumilah, Ratu Tulungayu, keduanya kehilangan hak atas janji yang diberikan kepada mereka. Anak-anak mereka disingkirkan dari tahta bukan karena tidak layak, tetapi karena kekuatan politik berpihak ke arah lain.
“Dua raja dalam satu generasi naik tahta bukan karena mereka adalah putra mahkota yang sah, tetapi karena ada seorang lelaki yang lebih sakti dari siapa pun yang bersedia berdiri di depan khalayak dan berkata: coba tantang aku.”
Itulah Kerajaan Mataram Islam di awal terbentuknya. Bukan sistem yang sempurna. Bukan suksesi yang mulus. Tetapi dari kegaduhan itulah lahir Sultan Agung salah satu raja terbesar yang pernah berdiri di atas tanah Jawa.
CATATAN SUMBER DAN BATAS KLAIM
BATAS KLAIM: MANA DATA, MANA NARASI
DATA KERAS (bersumber dari kronik dan catatan VOC):
→ Tahun suksesi 1613 ✓
→ Usia Martapura (8 tahun) dan Sultan Agung (20 tahun) menurut J.P. Coen, VOC ✓
→ Kematian Hanyakrawati di Hutan Krapyak saat berburu kijang ✓
→ Martapura adalah putra Ratu Tulungayu (Ponorogo) ✓
→ Sultan Agung putra Dyah Banawati, cucu Pangeran Benawa Pajang ✓
→ Pangeran Purbaya adalah Jaka Umbaran, putra Senopati-Rara Lembayung ✓
NARASI BABAD (sastra sejarah, bukan catatan administrasi):
→ Ucapan/pidato Pangeran Purbaya saat pengumuman suksesi
→ Detail ‘wangsit’ Panembahan Bayat
→ Detail kisah Jaka Umbaran mendapat pengakuan dari Senopati
→ Konteks emosional Retno Dumilah dan Ratu Tulungayu
Babad Tanah Jawi adalah karya sastra-sejarah, bukan prasasti atau dokumen hukum.
Pembaca dianjurkan memahami perbedaan ini sebelum mengutip sebagai fakta mutlak.
Wallahu a’lam bishawab.
DAFTAR PUSTAKA
Sumber Primer / Kronik
Abimanyu, Soedjipto. Babad Tanah Jawi: Teks Lengkap Berdasarkan Naskah Asli. Yogyakarta: Laksana, 2013. [Edisi terjemahan dan anotasi naskah Babad Tanah Jawi, rujukan utama kisah Martapura dan Sultan Agung]
Sumber Akademik
Ricklefs, M.C. A History of Modern Indonesia Since c. 1200. 4th ed. Basingstoke: Palgrave Macmillan, 2008. [Rujukan standar sejarah Mataram Islam dan Sultan Agung dalam konteks Asia Tenggara]
Ricklefs, M.C. War, Culture and Economy in Java 1677–1726: Asian and European Imperialism in the Early Kartasura Period. Sydney: Allen & Unwin, 1993. [Konteks gejolak pasca-Sultan Agung dan warisan sistem suksesi Mataram]
Kumar, Ann. The Diary of a Javanese Muslim: Religion, Politics, and the Pesantren, 1883–1886. Canberra: Australian National University, 1985. [Konteks budaya Jawa Islam dan narasi babad]
Sumber Catatan VOC dan Kolonial Belanda
Coen, Jan Pieterszoon. Bescheiden omtrent zijn bedrijf in Indië. Vol. 1–3. Uitgegeven door H.T. Colenbrander. ‘s-Gravenhage: Martinus Nijhoff, 1919–1923. [Catatan resmi VOC yang menyebut usia Martapura (8 tahun) pada masa suksesi 1613; dikutip secara tidak langsung dalam berbagai karya sejarawan Mataram]
de Graaf, H.J. De Regering van Sultan Agung, vorst van Mataram 1613–1645, en die van zijn voorganger Panembahan Seda-ing-Krapyak, 1601–1613. ‘s-Gravenhage: Martinus Nijhoff / KITLV, 1958. [Studi mendalam Belanda tentang pemerintahan Sultan Agung; mencakup kronologi suksesi dan peran Pangeran Purbaya]
Sumber Genealogi dan Silsilah
Hariyanto. “Gerakan Dakwah Sultan Agung: Arti Penting Perubahan Gelar Sultan Agung Terhadap Gerakan Dakwah di Jawa pada Tahun 1613 M – 1645 M.” Jurnal Al-Bayan 24, no. 1 (2018): 129–130. [Konteks perubahan gelar dan legitimasi keagamaan Sultan Agung]
Lestari, Dwi. Takhta Raja-raja Jawa. Yogyakarta: Anak Hebat Indonesia, 2020. [Ringkasan populer-akademik raja-raja Mataram termasuk kisah Pangeran Martapura]





