Umbulharjo,REDAKSI17.COM– Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta terus menggencarkan Gerakan Mengonsumsi Protein (Gembrot) sebagai upaya strategis dalam mendukung percepatan penurunan angka stunting di Kota Yogyakarta. Program ini menyasar kelompok rentan, khususnya ibu hamil, ibu menyusui, serta anak usia di bawah dua tahun.
Kepala Bidang Pangan Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta, Ashardini Eka Setianingsih, menjelaskan bahwa program ini telah dilaksanakan secara rutin sejak 2020. Latar belakangnya adalah masih rendahnya konsumsi protein masyarakat yang tercermin dari skor Pola Pangan Harapan (PPH).
“Kelompok pangan sumber protein di masyarakat kita masih kurang. Ini menjadi perhatian serius karena berkaitan langsung dengan upaya penurunan stunting,” ujarnya saat dikonfirmasi pada Jumat (24/4/2026).
Ashardini menuturkan, terdapat tiga faktor utama dalam penanganan stunting, yakni ketersediaan pangan, akses pangan, dan pengetahuan masyarakat terkait gizi. Dari sisi ketersediaan dan akses fisik, Kota Yogyakarta dinilai cukup memadai. Namun, akses ekonomi dan pemahaman gizi masih menjadi tantangan.
“Ada masyarakat yang secara ekonomi kesulitan mengakses pangan bergizi, tetapi ada juga yang sebenarnya mampu, namun kurang pengetahuan sehingga pola konsumsi anak tidak sehat,” jelasnya.
Ia menegaskan, penanganan stunting tidak hanya dipengaruhi faktor ekonomi, tetapi juga pola asuh dan kebiasaan konsumsi keluarga. Oleh karena itu, edukasi menjadi kunci penting dalam program ini.
Dalam pelaksanaannya, Bimbingan Teknis (Bimtek) Gembrot digelar di 14 kemantren dengan melibatkan masing-masing 45 peserta pada 7 hingga 21 April 2026. Peserta juga mendapatkan paket bahan pangan tinggi protein, seperti ayam dan lele berbumbu beku serta telur omega.
Tim Penggerak PKK Kota Yogyakarta turut dilibatkan untuk memberikan pelatihan praktik pengolahan makanan berbahan protein agar lebih variatif dan menarik.
Salah satu pengurus Pokja 3 TP PKK Kota Yogyakarta, Tolok Triasih menjelaskan pentingnya teknik memasak dalam pengolahan pangan keluarga.
“Dalam memasak tetap perlu memahami teknik, meskipun sederhana untuk konsumsi rumah tangga. Jika tekniknya benar, memasak menjadi lebih efektif dan efisien, bahan tidak terbuang, dan olahan bisa lebih bervariasi. Apalagi untuk anak, protein sangat penting tetapi harus dikemas lebih menarik,” ujarnya.
Ia menambahkan, masyarakat diharapkan tidak hanya memahami pentingnya protein, tetapi juga mampu mengolahnya menjadi menu yang beragam, bergizi seimbang, dan aman (B2SA), sehingga anak-anak tertarik untuk mengonsumsinya.
Sementara itu, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, Aan Iswanti, menyampaikan bahwa meskipun prevalensi stunting di Kota Yogyakarta menunjukkan tren penurunan, angkanya masih perlu ditekan.
Ia menyebutkan, pada 2025 prevalensi stunting tercatat sebesar 9,71 persen, turun dari sebelumnya 14,8 persen.
“Per Maret 2026, angka stunting kembali turun menjadi 8,16 persen. Ini harus terus diintervensi agar dapat mencapai target di kisaran 5–6 persen,” ujarnya.



