Wirobrajan,REDAKSI17.COM-Pemerintah Kota Yogyakarta bersama Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Serayu Opak kembali melanjutkan upaya penataan sungai di wilayah Kota Yogyakarta.

Setelah sebelumnya melakukan normalisasi di Sungai Code, kini fokus penanganan beralih ke Sungai Winongo yang dinilai memerlukan perhatian serius.

Kegiatan normalisasi Sungai Winongo ini dipusatkan di Bendung Tanjung Patangpuluhan dan dipimpin langsung oleh Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, Jumat pagi (24/4/2026).

Hasto menegaskan bahwa langkah ini merupakan bagian dari komitmen untuk mengembalikan fungsi sungai sebagaimana mestinya.

“Normalisasi ini bertujuan untuk mengembalikan fungsi sungai agar bisa berjalan optimal, baik sebagai saluran air maupun sebagai bagian dari ekosistem kota,” ujar Hasto di sela kegiatan.

Ia mengungkapkan bahwa Sungai Winongo sudah cukup lama tidak tersentuh kegiatan normalisasi, sehingga berbagai permasalahan muncul, mulai dari sedimentasi hingga penyalahgunaan bantaran sungai.

Sebagai bagian dari upaya pemulihan ekosistem, dalam kegiatan tersebut juga dilakukan pelepasan ribuan ikan ke Sungai Winongo. 

“Kita lihat sendiri kondisi Sungai Winongo, khususnya di sisi timur, dipenuhi kandang ayam, kandang burung, bahkan dimanfaatkan untuk bank sampah. Tentu saja hal ini tidak dibenarkan karena bisa mengganggu aliran air dan berpotensi menyebabkan banjir,” tegasnya.

Menurut Hasto, keberadaan bangunan liar dan aktivitas yang tidak sesuai di badan sungai menjadi salah satu penyebab tersumbatnya aliran air. Oleh karena itu, normalisasi dilakukan untuk memastikan aliran sungai kembali lancar dan aman.

Ia berharap, melalui upaya ini, Sungai Winongo dapat kembali berfungsi dengan baik, sehingga risiko luapan air saat musim hujan dapat ditekan, sekaligus mencegah potensi longsor di bantaran sungai.

“Harapan kami, setelah normalisasi ini, Sungai Winongo bisa berfungsi optimal, tidak terjadi banjir, dan tidak terjadi longsor,” tambahnya.

Tidak hanya berhenti pada normalisasi, Pemerintah Kota Yogyakarta juga telah menyiapkan langkah lanjutan berupa pemasangan trash barrier. Langkah ini nantinya berfungsi untuk menjaring sampah yang terbawa arus sungai agar tidak menumpuk di hilir.

“Setelah normalisasi selesai, target berikutnya adalah pemasangan trash barrier supaya sampah yang hanyut bisa tertahan dan lebih mudah ditangani,” jelas Hasto.

Sebagai bagian dari upaya pemulihan ekosistem, dalam kegiatan tersebut juga dilakukan pelepasan ribuan ikan ke Sungai Winongo. Langkah ini diharapkan dapat memperbaiki habitat sungai sekaligus membuka potensi baru sebagai destinasi wisata berbasis lingkungan di Kota Yogyakarta.

Selain penanganan fisik, Pemkot juga menekankan pentingnya peran masyarakat dalam menjaga kebersihan sungai. Untuk itu, Hasto telah memerintahkan aparat wilayah untuk melakukan sosialisasi kepada warga sekitar serta melakukan pemantauan rutin guna mencegah kembali munculnya bangunan liar dan aktivitas yang merusak sungai.

Sementara itu, Kepala BBWS Serayu Opak, Maryadi Utama, menjelaskan bahwa proses normalisasi dilakukan dengan menurunkan dua alat berat yang bertugas mengeruk sedimen di dasar sungai.

Normalisasi dilakukan dengan menurunkan dua alat berat yang bertugas mengeruk sedimen di dasar sungai.

“Normalisasi di Sungai Winongo ini dilakukan dengan pengerukan sedimen menggunakan dua alat berat yakni ekskavator. Tujuannya untuk membuka aliran sungai agar lebih lancar hingga ke hilir,” jelas Maryadi.

Ia menambahkan, kelancaran arus sungai menjadi faktor penting dalam mencegah terjadinya banjir. Dengan aliran yang tidak terhambat, potensi meluapnya air saat debit tinggi dapat diminimalisir.

“Kalau arus sungai lancar, maka air tidak akan meluap. Ini yang menjadi tujuan utama dari normalisasi,” pungkasnya.