Home / Reportase / Tampilkan Atraksi Silat, Kapolsek TPTM Iptu Kodam Pukau Peserta Kemah Kebangsaan Mahasiswa Riau

Tampilkan Atraksi Silat, Kapolsek TPTM Iptu Kodam Pukau Peserta Kemah Kebangsaan Mahasiswa Riau

NextUI hero Image

 

Dihadiri Kapolda Riau, Rocky Gerung dan Hurriyah selaku aktivis HAM

 

ROKANHILIR,REDAKSI17.COM – Kapolsek Tanah Putih Tanjung Melawan (TPTM) Kabupaten Rokan Hilir Iptu Kodam Firman Sidabutar,SH.,MH aktif melestarikan budaya melayu dengan menampilkan seni bela diri Pencak Silat yang energik dan penuh filosofi dalam berbagai kesempatan. Pendekatan ini menunjukkan sisi humanis Polri yang berbudaya, sekaligus aktif menjaga tradisi lokal di tengah tugas penegakan hukum.

 

Ia nampak sering memperlihatkan aksinya diberbagai kegiatan masyarakat, di acara pernikahan maupun kegiatan lainnya.

 

Berkat kebolehannya dalam seni bela diri Silat tersebut, ia turut dilibatkan untuk mengisi acara yang di hadiri oleh Kapolda Riau Irjen Pol Dr Herry Heryawan S.I.K., M.H., M.Hum.

Dalam kegiatan Kemah Kebangsaan mahasiswa Riau yang juga diisi oleh Rocky Gerung.

 

Iptu Kodam yang berpasangan dengan Aiptu Ibnu Munim diberikan waktu 10 menit untuk menunjukkan aksinya bersama 2 dua pasang pesilat setempat.

 

Penampilan mantan Kapolsek Kubu Polres Rohil ini pun mampu menghipnotis dan mendapat apresiasi positif dari peserta kemah.

 

Kegiatan yang dipusatkan di Rimbang Baling kabupaten Kampar ini diinisiasi oleh Tumbuh Instutute. Mengangkat tema karhutla, keadilan ekologis, dan masa depan ekologis. Dihadiri ratusan peserta, kegiatan ini bertujuan membangun kesadaran kritis mahasiswa terhadap isu karhutla, menghadirkan ruang dialog terbuka lintas perspektif

 

Kegiatan tersebut dilatarbelakangi oleh beberapa faktor, diantaranya

Karhutla di provinsi Riau telah menjadi isu berulang yang tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi kesehatan publik, stabilitas sosial, Mendorong mahasiswa menjadi bagian dari solusi pencegahan karhutla, menguatkan nilai kebangsaan melalui pendekatan ekologis, serta membangun jejaring kolaborasi antar mahasiswa, masyarakat dan pemangku kepentingan ean kepercayaan terhadap tata kelola negara.

 

Selanjutnya, mahasiswa yang tergabung dalam BEM dan Cipayung Plus, merupakan kekuatan intelektual yang memiliki kapasitas dalam membentuk opini publik dan mendorong perubahan sosial

 

Namun keterlibatan mahasiswa dalam isu karhutla selama ini masih bersifat sporadis dan belum tergabung sebagai gerakan kolektif yang terarah

 

Melalui kampung kebangsaan di Rimbang Baling, Tumbuh Instutute menginisiasi ruang dialog terbuka, refleksi ekologis, dan konsolidasi gagasan mahasiswa, dengan menghadirkan berbagai perspektif, negara, akademisi, aktivis, dan masyarakat

 

Kegiatan ini menjadi titik temu antara dialektika kritis dan pengalaman langsung, untuk membangun kesadaran, sekaligus komitmen bersama dalam menghadapi karhutla.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *