Home / Nasional dan Internasional / Harga BBM AS Melonjak Tajam Dampak Perang Iran, Trump Janji Akan Turun Drastis!

Harga BBM AS Melonjak Tajam Dampak Perang Iran, Trump Janji Akan Turun Drastis!

Washington,REDAKSI17.COM – Harga bahan bakar minyak (BBM) di Amerika Serikat melonjak tajam di tengah konflik yang masih berlangsung antara Washington dan Teheran.

Kenaikan ini terjadi seiring blokade di Selat Hormuz yang belum juga dibuka, serta kebuntuan diplomatik antara kedua negara.

Dilansir melalui kantor berita Reuters (1/5/2026), menurut data dari American Automobile Association (AAA), harga rata-rata bensin di AS kini mencapai 4,30 dolar AS per galon atau sekitar 3,8 liter.

Angka tersebut naik sekitar 27 sen hanya dalam satu pekan terakhir, dan jauh lebih tinggi dibandingkan sebelum perang dimulai pada 28 Februari lalu yang masih berada di bawah 3 dolar AS per galon.

AAA juga mencatat, harga bensin saat ini menjadi yang tertinggi dalam empat tahun terakhir, sejak Juli 2022.

Bahkan di negara bagian seperti California, harga bensin dilaporkan menembus lebih dari 6 dolar AS per galon, memperburuk beban ekonomi masyarakat.

Lonjakan harga ini dipicu oleh kenaikan harga minyak dunia yang kini berada di atas 100 dolar AS per barel, tanpa kepastian kapan jalur distribusi utama energi global di Selat Hormuz akan kembali normal.

Konflik yang melibatkan Donald Trump dan Iran tidak hanya berdampak pada geopolitik, tetapi juga memicu tekanan inflasi dan ketidakpastian ekonomi di dalam negeri AS.

Meski demikian, Trump tetap bersikeras bahwa kondisi ini hanya bersifat sementara.

Ia menyatakan bahwa harga bahan bakar akan turun drastis setelah konflik berakhir.

“Begitu perang usai, harga gas akan anjlok,” kata Trump kepada wartawan.

Ia juga kembali menegaskan bahwa tujuan utama AS adalah mencegah Iran memiliki senjata nuklir.

Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa harga energi tidak langsung stabil meskipun sempat terjadi gencatan senjata pada 8 April lalu.

Harga bensin justru terus mengalami kenaikan, menandakan dampak konflik masih kuat terasa di pasar global.

Di sisi lain, Iran melalui Presiden Masoud Pezeshkian menyampaikan kritik keras terhadap blokade yang dilakukan AS.

Ia menyebut tindakan tersebut sebagai bentuk tekanan yang tidak bisa terus ditoleransi.

Iran juga menolak tuduhan pengembangan senjata nuklir dan tetap bersikap menantang dengan menolak negosiasi langsung selama blokade masih berlangsung.

Situasi ini menunjukkan bahwa konflik belum mendekati akhir, sementara dampaknya terus dirasakan masyarakat global, terutama melalui lonjakan harga energi yang signifikan.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *