
Gunungkidul,REDAKSI17.COM – Pemerintah Kabupaten Gunungkidul menggelar acara Sarasehan Peternak di Bangsal Sewoko Projo, Kapanewon Wonosari, Rabu, (6/5/2026) sebagai langkah strategis dalam mengoptimalkan potensi peternakan sekaligus memberikan perlindungan nyata bagi para petani dan peternak. Kegiatan ini menjadi tindak lanjut dari arahan Bupati Gunungkidul untuk mengangkat potensi ternak lokal dan melibatkan lembaga jaminan sosial guna melindungi masyarakat agraris.
Dalam forum tersebut, Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih menekankan pentingnya BPJS Ketenagakerjaan sebagai bentuk proteksi bagi para petani yang merupakan ujung tombak ekonomi keluarga. Pemerintah daerah melalui dana APBD (DBHCHT 2026) telah mendaftarkan 200 petani tembakau ke dalam program jaminan sosial ini dan Bupati mengintruksikan untuk para Peternak juga mendapatkan perlindungan dari BPJS Ketenagakerjaan.
“Sebagai bukti nyata manfaat program, dilakukan penyerahan simbolis santunan kematian (JKM) kepada ahli waris peternak yang meninggal dunia.” ungkap Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih

Perlindungan ini kini juga diwajibkan bagi mahasiswa yang melakukan praktik lapangan (PKL/Koas) di lingkup Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul guna mengantisipasi risiko kecelakaan kerja.
Bupati Gunungkidul, yang juga berbagi kisah masa kecilnya sebagai anak petani, mengajak para peternak untuk senantiasa menjaga kebersihan kandang dan kesehatan ternak melalui tradisi Gumbregan yang akan jatuh pada pertengahan Mei.
“Momentum ini diharapkan memperkuat posisi Gunungkidul sebagai gudang ternak sehat di Daerah Istimewa Yogyakarta.” kata Bupati Endah.
Menghadapi musim Qurban 2026, Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada (UGM) juga turut berkontribusi dengan menerjunkan tenaga dokter hewan dan mahasiswa koas untuk mengawal pelaksanaan penyembelihan agar berjalan sesuai standar kesehatan.
“Kita bergerak karena ingin perbaikan nasib. Semangat ‘obah mamah’ inilah yang harus dibawa dalam memajukan sektor peternakan kita,” pungkas Bupati dalam arahannya.
Di sektor kesehatan hewan, Dinas Pertanian dan Pangan melaporkan adanya peningkatan kesadaran masyarakat dalam melaporkan kematian ternak melalui aplikasi “Lapor Bup”.
“Meski angka kematian tercatat mencapai 53 ekor lebih tinggi dari periode yang sama tahun lalu, hal ini dinilai sebagai tren positif karena menunjukkan masyarakat mulai menghindari praktik penjualan daging bangkai (brandu) dan lebih memilih melapor untuk mendapatkan penanganan resmi.” ujar Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Gunungkidul,
Rismiyadi. Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Gunungkidul menyebutkan, data menunjukkan bahwa sapi Peranakan Ongole (PO), yang merupakan unggulan lokal Gunungkidul, memiliki daya tahan yang lebih tinggi terhadap penyakit dibandingkan sapi jenis persilangan (seperti Simmental).
“Sapi PO rata-rata hanya mengalami risiko kematian di atas usia 7 tahun, sementara jenis lain sering terdampak di bawah usia 2 tahun.” imbuh Rismiyadi.
Sebagai bentuk kepedulian, Pemerintah Kabupaten memberikan tali asih kepada 22 peternak yang ternaknya mati akibat penyakit menular tertentu berdasarkan Peraturan Bupati.


