Beranda / Tokoh / Mengenal Ahmad Jalaludin

Mengenal Ahmad Jalaludin

“Gelar sarjana kok cuma jadi tukang sapu?”
Cemoohan itu sudah kenyang ditelan oleh Pak Ahmad Jalaludin. Mantan guru honorer asal Cianjur ini pernah berada di titik terendah dalam hidupnya. Puluhan tahun mengabdi, mencetak ribuan murid pintar, namun gajinya bahkan tak cukup untuk membeli beras satu karung.
Dengan berat hati, beliau menanggalkan seragam gurunya. Bukan karena tak lagi cinta mengajar, tapi karena perut keluarganya tak bisa menunggu mukjizat.
Beralih Menjadi Pengrajin Sapu Ijuk
Pak Ahmad tidak malu. Beliau beralih profesi menjadi pengusaha sapu ijuk. Tangannya yang dulu halus memegang pulpen, kini kasar dan sering terluka karena merangkai serat-serat ijuk setiap hari. Beliau berkeliling, menawarkan dagangannya dari satu kampung ke kampung lain di pelosok Jawa Barat.
Banyak yang menyayangkan, “Sayang ilmunya, Pak Ahmad.”
Namun, mereka tidak tahu bahwa di dalam kepalanya, ada rencana besar yang sedang ia rakit bersama tiap helai sapu yang ia jual.
Satu Batang Sapu, Satu Batu Bata untuk Sekolah Gratis
Alhamdulillah, berkat ketekunan dan doa, usaha sapu ijuknya berkembang pesat. Namun, alih-alih membangun rumah mewah atau membeli mobil baru, Pak Ahmad justru melakukan hal yang membuat semua orang terdiam.
Dari keuntungan tiap batang sapu yang terjual, beliau kumpulkan rupiah demi rupiah untuk satu tujuan mulia: Membangun SMP IT dan PAUD gratis bagi warga tidak mampu di Cianjur.
Beliau tidak ingin melihat ada anak di kampungnya yang putus sekolah hanya karena biaya—seperti dirinya yang dulu harus berhenti mengajar karena masalah ekonomi.
“Saya berhenti jadi guru untuk bisa tetap menjadi pendidik. Kalau dulu saya hanya bisa mengajar, sekarang lewat sapu ijuk ini, saya bisa membiayai mereka sekolah sampai tuntas,” ujar Pak Ahmad dengan mata berkaca-kaca.
Kini, bangunan sekolah itu berdiri sederhana namun penuh berkah. Anak-anak yatim dan dhuafa di pelosok Cianjur bisa belajar dengan tenang tanpa perlu memikirkan biaya SPP atau seragam. Semua dibiayai dari “keringat” sapu ijuk Pak Ahmad.
Pesan untuk Kita Semua
Kisah Pak Ahmad Jalaludin mengajarkan kita bahwa pangkat dan jabatan bukanlah penentu kemuliaan seseorang. Seorang penjual sapu bisa memiliki jiwa pahlawan yang lebih besar daripada mereka yang duduk di kursi empuk.
Mari kita doakan agar usaha sapu ijuk Pak Ahmad semakin berkah, dan sekolah yang beliau bangun menjadi amal jariyah yang tak terputus.
Sehat selalu, Pak Guru Ahmad! Engkau adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang sesungguhnya.
DULU DIHINA KARENA JUAL SAPU, KINI IA MEMBANGUN MIMPI ANAK-ANAK YATIM: KISAH PAK AHMAD DARI CIANJUR

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *