Beranda / Tokoh / SUNAN GRESIK

SUNAN GRESIK

Membaca Ulang Maulana Malik Ibrahim dari Batu Nisan, Jalur Samudra, dan Arkeologi Awal Islam Jawa

Mohammad Basyir Zubair | EMBAS

Di banyak buku pelajaran, Maulana Malik Ibrahim sering diperkenalkan secara sederhana, seorang ulama dari Gujarat, Persia, atau Asia Tengah yang datang ke Jawa lalu mengislamkan masyarakat dengan damai. Narasi itu diulang terus-menerus hingga terasa final. Padahal, jika dibaca melalui perspektif sejarah maritim dan arkeologi, sosok Sunan Gresik justru jauh lebih rumit, dan mungkin lebih besar daripada sekadar “wali pertama”.
Pertanyaan paling penting sebenarnya bukan siapa beliau? Tetapi dunia seperti apa yang melahirkan kedatangannya ke Jawa?
Karena Maulana Malik Ibrahim tidak muncul dari ruang kosong. Ia adalah bagian dari gelombang besar perubahan Samudra Hindia pada abad ke-14 hingga awal abad ke-15, masa ketika jalur perdagangan Islam menghubungkan Gujarat, Hormuz, Malaka, Pasai, hingga pesisir utara Jawa.
I. Batu Nisan Itu Berbicara
Dan bukti paling keras dari semua itu bukan babad. Melainkan batu. Makam Maulana Malik Ibrahim di Desa Gapurosukolilo, Gresik, memiliki nisan bertarikh 822 H / 1419 M, artefak Islam paling penting dan paling awal yang dapat diverifikasi di Jawa. Inskripsi Arab pada nisannya menyebut gelar-gelar yang sangat tinggi, “guru para pangeran”, “tongkat sekalian para sultan dan wazir”, “siraman bagi kaum fakir dan miskin”. Ini bukan bahasa makam orang biasa. Ini bahasa makam seorang figur kosmopolitan kelas tinggi dalam jaringan ulama Samudra Hindia.
“Makam ini bukan hanya kuburan seorang wali. Ia adalah penanda arkeologis bahwa Jawa telah masuk ke jaringan Islam internasional jauh sebelum berdirinya Demak.”
FAKTA ARKEOLOGI
Peneliti J. P. Moquette pada awal abad ke-20 menunjukkan bahwa tipologi batu nisan di makam Gresik memiliki kemiripan kuat dengan tradisi nisan dari Gujarat dan kawasan Asia Selatan bukan tradisi lokal Jawa kuno. Kemiripan tipologi ini mengindikasikan jaringan produksi dan distribusi artefak yang melintasi Samudra Hindia, bukan dakwah yang berdiri sendiri.
Catatan: Moquette menulis dalam Tijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde (awal abad ke-20). Temuannya kemudian dirujuk oleh berbagai sejarawan, termasuk dalam konteks arkeologi Islam Nusantara.
Di sinilah narasi populer sering terlalu menyederhanakan sejarah. Islamisasi Jawa bukan peristiwa “mendadak” akibat dakwah satu orang. Arkeologi menunjukkan prosesnya panjang, bertahap, dan sangat terkait perdagangan maritim.
II. Dunia yang Sudah Berubah Sebelum Beliau Wafat
Bahkan sebelum Maulana Malik Ibrahim wafat pada 1419 M, pelabuhan-pelabuhan pesisir Jawa sudah dipenuhi komunitas asing: Muslim Gujarat, Tamil, Arab, Persia, hingga Tionghoa Muslim. Ma Huan, pencatat perjalanan armada Zheng He yang singgah di Jawa pada awal abad ke-15, menyebut keberadaan komunitas Muslim yang hidup berdampingan dengan penduduk lokal di kota-kota pelabuhan Jawa. Ini penting: artinya Islam di Jawa sudah hidup sebagai realitas sosial, bukan sekadar agama pendatang, sebelum era Demak mencapai puncaknya.
DEBAT ILMIAH
Perdebatan historiografis utama, apakah Maulana Malik Ibrahim berasal dari Gujarat, Persia, atau Asia Tengah? Berbagai versi babad menyebut asal-usul yang berbeda. Namun perdebatan asal-usul ini sebenarnya mengalihkan perhatian dari pertanyaan yang lebih penting secara arkeologis, bukan dari mana ia datang, melainkan jaringan apa yang ia representasikan. Tipologi nisannya, inskripsi Arab dalam tradisi kaligrafi tertentu, dan gelar-gelar yang digunakan, semua menunjuk ke jaringan ulama kosmopolitan Samudra Hindia yang lebih luas, bukan ke dakwah individual.
Tradisi lokal menyebut bahwa daerah pertama yang dituju Maulana Malik Ibrahim adalah Desa Sembalo, di kawasan Leran, Kecamatan Manyar, sekitar 9 kilometer utara kota Gresik. Menarik: Leran juga dikenal sebagai lokasi makam Fatimah binti Maimun yang bertarikh 1082 M, salah satu bukti arkeologis tertua kehadiran Muslim di pantai utara Jawa Timur. Artinya, ketika Maulana Malik Ibrahim tiba, kawasan itu bukan tanah baru bagi komunitas Muslim.
“Kemungkinan besar beliau adalah figur yang berhasil mengorganisasi, menstabilkan, dan memberi legitimasi religius pada komunitas Muslim pesisir yang sebelumnya sudah tumbuh melalui perdagangan internasional.”
III. Mediator, Bukan Penghancur
Perspektif arkeologis menolak gambaran Islamisasi sebagai penggantian total. Yang terlihat dalam lapisan-lapisan material di pesisir utara Jawa justru adalah transisi: bentuk makam yang beradaptasi, pola kota pelabuhan yang bergeser, perubahan aksara menuju Arab-Pegon, hingga arsitektur yang mengakomodasi unsur lokal.
Bahkan makam Maulana Malik Ibrahim sendiri memperlihatkan proses percampuran itu. Inskripsi Arab pada nisannya menunjukkan identitas Islam global, tetapi lokasi pemakamannya berada di ruang budaya Jawa yang masih sangat dipengaruhi kosmologi Majapahit akhir. Ini bukan penggantian total. Ini negosiasi peradaban.
TITIK BALIK
Tradisi lokal tentang Maulana Malik Ibrahim sebagai tabib dan pengajar teknik pertanian sering dianggap sekadar legenda kecil yang tidak perlu dicermati serius. Padahal secara antropologis dan historis-komparatif, ini sangat masuk akal. Dalam banyak masyarakat maritim Asia, tokoh agama pendatang sering memperoleh legitimasi bukan pertama-tama lewat teologi, melainkan lewat kemampuan praktis: pengobatan, teknologi irigasi, perdagangan, dan perlindungan sosial. Islam awal di Jawa kemungkinan besar diterima bukan karena pedang, tetapi karena fungsi sosialnya terasa nyata dan bermanfaat.
Menurut Tjandrasasmita (1984) dalam Sejarah Nasional Indonesia III, Maulana Malik Ibrahim juga menjalin hubungan dengan keraton Majapahit di Trowulan. Raja Majapahit, meskipun tidak masuk Islam, menerimanya dengan baik dan bahkan dilaporkan menganugerahinya sebidang tanah di pinggiran Gresik, kawasan yang kini dikenal sebagai Desa Gapura. Groeneveldt (1960) dalam catatan sumber-sumber Tiongkok menyebut bahwa pada masa itu, ibu kota Majapahit memang sudah dihuni banyak orang asing dari berbagai penjuru Asia, termasuk dari Asia Barat.
IV. Makam Itu Adalah Dokumen
Maulana Malik Ibrahim wafat pada hari Senin, 12 Rabi’ul Awwal 822 H / 17 April 1419 M. Makamnya kini menjadi salah satu situs ziarah paling ramai di Jawa Timur. Setiap malam Jumat Legi, ribuan peziarah datang. Setiap tanggal 12 Rabi’ul Awwal, haul tahunan diselenggarakan, dengan khataman Al-Quran, mauludan, dan tradisi kuliner khas bubur harisah.
Tetapi di balik ritual yang hidup itu, ada ironi historiografis yang besar.
Jutaan orang berziarah ke makam Sunan Gresik. Sedikit yang menyadari bahwa batu nisan itu, dengan segala tipologi, inskripsi, dan tanggalnya, adalah salah satu dokumen arkeologi paling penting tentang lahirnya dunia baru di Jawa. Dokumen yang tidak bergantung pada babad, tidak bergantung pada tradisi lisan, dan tidak bergantung pada narasi yang diulang-ulang tanpa verifikasi.
“Maka makamnya di Gresik bukan sekadar situs ziarah. Ia adalah monumen transisi peradaban.”
BATAS KLAIM
Artikel ini tidak bermaksud menyangkal nilai spiritual ziarah ke makam Sunan Gresik, yang hidup sebagai tradisi keislaman Jawa yang sah dan bermakna. Batas klaim tulisan ini adalah historis-arkeologis: bahwa narasi populer yang terlalu sederhana tentang sosok Maulana Malik Ibrahim perlu dibaca ulang secara kritis menggunakan data material yang dapat diverifikasi. Apa pun asal-usulnya yang masih diperdebatkan, nisannya berbicara dengan tegas: ia adalah tokoh kaliber kosmopolitan dalam jaringan Islam maritim internasional, dan makamnya adalah penanda peradaban.
V. Di Titik Pertemuan Tiga Dunia
Maulana Malik Ibrahim berdiri di titik pertemuan tiga dunia besar yang sedang bergerak serentak:
Pertama, runtuhnya hegemoni Hindu-Buddha klasik Jawa, Majapahit memasuki fase kemundurannya tepat pada abad-abad itu. Kedua, bangkitnya ekonomi maritim Islam Samudra Hindia yang semakin menghubungkan pantai-pantai dari Arab hingga Nusantara. Ketiga, lahirnya masyarakat pesisir kosmopolitan Nusantara, kelas pedagang, ulama, dan bangsawan baru yang membangun identitas berbeda dari keraton pedalaman.
Di titik pertemuan itulah makam di Gresik berdiri. Dan itulah yang menjadikannya bukan sekadar objek ziarah, melainkan artefak dari sebuah zaman yang mengubah segalanya.
BIBLIOGRAFI
Drewes, G. W. J. (1968). New Light on the Coming of Islam to Indonesia? Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde, 124(4), 433–459.
Groeneveldt, W. P. (1960). Historical Notes on Indonesia and Malaya Compiled from Chinese Sources. Jakarta: Bhratara.
Ma Huan (diterjemahkan J. V. G. Mills, 1970). Ying-yai Sheng-lan: The Overall Survey of the Ocean’s Shores [1433]. Cambridge: Hakluyt Society.
Moquette, J. P. (1912 & 1913). Beberapa catatan tentang batu nisan di Pasai dan Gresik [artikel dalam Tijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde]. Batavia: Bataviaasch Genootschap.
Ricklefs, M. C. (2001). A History of Modern Indonesia since c. 1200 (edisi ke-3). Basingstoke: Palgrave.
Tjandrasasmita, Uka (Ed.) (1984). Sejarah Nasional Indonesia III. Jakarta: PN Balai Pustaka.
Penerbit Buku Kompas (2006). Jejak Para Wali dan Ziarah Spiritual. Jakarta: Kompas.
© Mohammad Basyir Zubair | EMBAS Kotagede, Yogyakarta, 09052026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *