Houston,REDAKSI17.COM – Harga minyak dunia ditutup melemah pada perdagangan Rabu (20/5/2026) seusai Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) JD Vance menyatakan Washington dan Iran telah mencapai kemajuan dalam perundingan.
“Kami pikir telah membuat banyak kemajuan. Kami pikir Iran ingin mencapai kesepakatan,” ujar Vance kepada wartawan di Gedung Putih, dilansir dari Reuters.
Harga minyak mentah Brent kontrak Juli ditutup turun 82 sen atau 0,73% ke level US$ 111,28 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) kontrak Juni turun 89 sen atau 0,82% menjadi US$ 107,77 per barel.
Meski turun, harga minyak masih berada di level tinggi. Pada perdagangan sebelumnya, Brent sempat menyentuh level tertinggi sejak 5 Mei 2026, sedangkan WTI mencapai posisi tertinggi sejak 30 April 2026.
Pasar masih dibayangi ketidakpastian akibat konflik di Timur Tengah yang mengganggu jalur distribusi energi global, terutama di Selat Hormuz yang menjadi jalur sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia.
Partner Again Capital John Kilduff mengatakan pasar masih menunggu kepastian apakah konflik akan benar-benar mereda atau justru kembali meningkat.
“Kami masih kehilangan pasokan minyak dalam jumlah besar dan infrastruktur energi di kawasan itu masih berada dalam ancaman,” ujarnya.
Media pemerintah Iran melaporkan Teheran mengajukan proposal perdamaian terbaru kepada AS, termasuk penghentian konflik di berbagai kawasan, penarikan pasukan AS dari wilayah dekat Iran, serta kompensasi atas kerusakan akibat perang.
Pada sisi lain, AS tetap meningkatkan tekanan terhadap Iran dengan menjatuhkan sanksi baru terhadap perusahaan penukaran mata uang asing Iran dan sejumlah kapal yang dituduh terlibat dalam pengiriman minyak Iran ke pasar internasional.
Sementara itu, kilang minyak milik pemerintah China dilaporkan memangkas kapasitas pengolahan minyak lebih dari 1 juta barel per hari sejak konflik Iran pecah. Kondisi tersebut dipicu terganggunya pasokan minyak mentah dan melemahnya margin pengolahan.
Konsultan Energy Aspects mencatat kilang pemerintah China saat ini mengolah sekitar 8,4 juta barel per hari pada Mei 2026, turun dibandingkan April sebesar 8,6 juta barel per hari dan Maret sebesar 9,5 juta barel per hari.
Di AS, data Departemen Energi menunjukkan cadangan minyak strategis AS turun 9,9 juta barel pekan lalu menjadi sekitar 374 juta barel, level terendah sejak Juli 2024.
Pasar juga menantikan data resmi persediaan minyak mingguan AS dari Energy Information Administration (EIA) yang dijadwalkan dirilis Kamis (21/5/2026).





