UEA,REDAKSI17.COM – Pemerintah Uni Emirat Arab (UEA) secara resmi mengumumkan siapa sosok yang melakukan serangan drone di kompleks Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Barakah pada akhir pekan lalu.
Dalam pengumuman tersebut, pemerintah UEA menyebut sosok yang melakukan serangan drone di PLTN Barakah adalah dari wilayah Irak.
Pengumuman ini memicu kekhawatiran global mengenai eskalasi konflik yang kian tidak terkendali di Timur Tengah.
Pasalnya, serangan ini menandai pertama kalinya sebuah fasilitas nuklir komersial aktif menjadi target langsung dalam pusaran konflik bersenjata regional tersebut.
Euronews melaporkan, Kementerian Pertahanan UEA menjelaskan berdasarkan hasil investigasi teknis dan pelacakan digital pasca-insiden, seluruh unit drone yang menyusup ke ruang udara mereka terkonfirmasi berasal dari wilayah tetangga, Irak.
Indikasi ini mengarah kuat pada keterlibatan kelompok milisi Syiah garis keras yang disokong penuh oleh pemerintahan Teheran, Iran.
“Sebagai bagian dari investigasi yang sedang berjalan atas serangan fatal terhadap Pembangkit Listrik Nuklir Barakah pada 17 Mei 2026, sistem pemantauan taktis kami mengonfirmasi bahwa tiga drone yang masuk ke wilayah kami sepenuhnya bergerak dari arah Irak,” bunyi rilis resmi militer UEA, Selasa (19/5/2026).
Insiden menegangkan itu terjadi pada Minggu (17/5/2026) dini hari.
Pertahanan udara UEA sebenarnya berhasil melumpuhkan dua drone penyusup.
Namun sial, satu drone lainnya berhasil lolos dari sistem cegat dan menghantam sebuah generator listrik yang terletak di luar perimeter dalam Pembangkit Barakah.
Akibat hantaman tersebut, kobaran api sempat membubung tinggi di area fasilitas.
Beruntung, Otoritas Federal untuk Regulasi Nuklir UEA (FANR) bergerak cepat melokalisasi situasi.
Pihak berwenang memastikan reaktor nuklir utama sama sekali tidak mengalami kerusakan material, serta tidak ditemukan adanya kebocoran zat radioaktif yang membahayakan lingkungan sekitar maupun korban luka dari pihak pekerja pangkalan.
Meskipun demikian, serangan ini dinilai sebagai “lampu merah” bagi keamanan energi regional.
Pembangkit Nuklir Barakah yang bernilai 20 miliar dolar AS merupakan tulang punggung energi UEA, menyuplai hampir 25 persen dari total kebutuhan listrik nasional di negara tersebut.
Barakah adalah pembangkit energi nuklir yang terletak di Al Dhafra, wilayah kota terbesar di emirat Abu Dhabi.
Ini adalah satu-satunya pembangkit listrik tenaga nuklir di UEA.
Pembangunan pembangkit listrik ini dimulai pada tahun 2012, dan reaktor pertamanya mulai beroperasi secara komersial pada tahun 2021.
Pabrik tersebut terletak dekat perbatasan dengan Arab Saudi, sekitar 225 km sebelah barat Ibu Kota UEA, Abu Dhabi.
Mengutip Al Jazeera, fasilitas ini memiliki empat reaktor air bertekanan, jenis reaktor tenaga nuklir yang paling umum.
Model yang digunakan di sini adalah reaktor daya canggih 1400, desain reaktor air bertekanan yang dikembangkan di Korea Selatan.
Setiap reaktor jenis ini memiliki kapasitas untuk menghasilkan 1.400 megawatt (MW), yang cukup untuk memasok listrik bagi sekitar 1 juta rumah.
Menurut Emirates Nuclear Energy Corporation (ENEC), reaktor pembangkit listrik tersebut menghasilkan 40 terawatt-jam (TWh) setiap tahun, yang setara dengan sekitar 25 persen dari kebutuhan listrik UEA.
Situs World Nuclear Association yang berbasis di London juga mengkonfirmasi Barakah, ketika beroperasi penuh, memenuhi 25 persen dari kebutuhan listrik UEA.
Menurut laporan bulan September dari kantor media Abu Dhabi, Barakah telah menghasilkan 40 TWh energi bersih selama “12 bulan terakhir”.
Karena pembangkit listrik tenaga nuklir menghasilkan emisi karbon dioksida yang lebih rendah daripada pembangkit listrik konvensional, ENEC mengatakan Barakah menghemat hingga 22,4 juta ton emisi karbon setiap tahun, setara dengan menghilangkan 4,8 juta mobil dari jalan raya.





