Jalur Rempah Bukan Warisan Eropa Itu Ciptaan Kita, Sistem Ekonomi-Politik Nusantara yang Sudah Berjalan Ribuan Tahun Sebelum Satu pun Kapal Belanda Muncul di Cakrawala
Oleh: M. Basyir Zubair (Embas)
Ada sebuah kebohongan besar yang tertanam dalam buku-buku sejarah kita yang ditulis oleh penjajah, dibakukan oleh kurikulum kolonial, dan sayangnya masih kita wariskan kepada anak-cucu. Kebohongan itu berbunyi kira-kira begini: “Bangsa Eropa datang, dan perdagangan rempah pun dimulai.”
Salah. Salah besar. Dan ada bukti arkeologi untuk membantahnya.
Ketika Jan Pieterszoon Coen berlayar ke Maluku pada 1609 ia masih muda, 22 tahun penuh ambisi, dan yang ia temukan bukan wilayah kosong menunggu sistem perdagangan. Ia menemukan sebuah peradaban niaga yang sudah berjalan ribuan tahun. Ada sultan yang berdaulat, ada orang kaya (pedagang-bangsawan) yang bernegosiasi dengan cerdik, ada jaringan distribusi yang menghubungkan Banda ke Gujarat, Ternate ke Tiongkok, Barus ke Mesir. Yang Coen temukan adalah sebuah sistem ekonomi-politik yang matang dan ia merasa terganggu olehnya.
Coen tidak “menemukan” rempah. Ia merampasnya dari sebuah peradaban yang sudah lebih dulu ada.
I. BUKTI YANG TIDAK BISA DIBANTAH
Mari kita mulai dari bukti yang paling keras: sebuah jambangan tanah liat di Mesopotamia (Suriah kuno), situs Terqa, ditemukan dalam ekskavasi arkeologi. Di dalamnya: cengkih. Berasal dari sekitar 1.721 SM. Hampir 3.700 tahun yang lalu (Liggett, 1982).
Cengkih tidak tumbuh di Mesopotamia. Cengkih tidak tumbuh di mana pun di dunia, kecuali satu tempat: Maluku, Indonesia. Artinya, seorang pedagang Nusantara atau rantai pedagang yang dimulai dari Nusantara telah membawa cengkih menempuh jarak ribuan kilometer, melewati Samudra Hindia, Teluk Persia, hingga ke jantung peradaban Mesopotamia, satu setengah milenium sebelum Masehi.
FAKTA
Temuan arkeologis cengkih di situs Terqa, Mesopotamia (Suriah), berasal dari sekitar 1.721 SM hampir 3.700 tahun lalu (Liggett, 1982, dikutip dalam Jalur Rempah Kemdikbud, 2021).
Cengkih hanya tumbuh secara endemik di Kepulauan Maluku, Indonesia. Keberadaannya di Mesopotamia pada era tersebut merupakan bukti langsung jaringan perdagangan maritim Nusantara dengan dunia Barat ribuan tahun sebelum kedatangan Eropa.
Di Cina abad ke-3 SM, abdi dalem tercatat mengunyah cengkih sebelum menghadap kaisar agar napas harum menunjukkan cengkih Maluku sudah masuk ke Cina pada era itu (catatan sejarah Cina kuno). Astronom Yunani Claudius Ptolemaeus (abad ke-1 M) mencatat nama pelabuhan “Barus” di Sumatera dalam Guide to Geography-nya, kota tempat kapur barus diperdagangkan ke seluruh dunia Mediterania (Guillot, 2014).
Ini bukan teori. Ini arkeologi. Ini material culture yang bisa disentuh, dianalisis, ditanggal dengan metode ilmiah. Dan ia berteriak satu hal: Nusantara sudah berdagang dengan dunia jauh sebelum kata “Eropa” punya makna apa-apa dalam kosa kata perdagangan internasional.
II. SISTEM, BUKAN SEKADAR BARTER
Kesalahan terbesar narasi kolonial adalah mereduksi perdagangan pra-kolonial Nusantara menjadi “barter primitif antar-pulau.” Itu bukan hanya merendahkan, itu bohong secara historis.
Apa yang dibangun oleh kerajaan-kerajaan Nusantara dari Sriwijaya hingga Majapahit, dari Ternate hingga Tidore, adalah sebuah sistem ekonomi-politik yang jauh lebih kompleks dari sekadar tukar-menukar barang. Ada tiga pilar yang menopangnya:
Pilar Pertama: Infrastruktur Niaga yang Canggih
Kerajaan Sriwijaya tidak sekadar “dekat pelabuhan.” Sriwijaya membangun kendali atas Selat Malaka, satu-satunya jalur laut menghubungkan Samudra Hindia dan Laut Cina Selatan. Setiap kapal yang melintas membayar bea. Setiap pedagang yang singgah bertransaksi. Ini bukan keberuntungan geografis, ini arsitektur kekuasaan ekonomi yang disengaja.
Kapal-kapal Nusantara digunakan oleh para biarawan Tiongkok untuk pergi belajar agama Buddha di Suvarnadvipa (Sriwijaya). Kata I-Tsing, peziarah dan cendekiawan Tiongkok yang singgah di Sriwijaya pada abad ke-7 M: ia belajar bahasa Sansekerta di sana selama berbulan-bulan karena kota itu adalah pusat intelektual kelas dunia. Pelabuhan bukan hanya tempat kapal berlabuh, ia adalah simpul peradaban.
Pilar Kedua: Jaringan Diplomatik Multibangsa
Kesultanan Ternate dan Tidore bukan dua kerajaan kecil yang bergantung pada belas kasihan asing. Mereka adalah dua kekuatan regional yang wilayah politiknya membentang dari sebagian besar Maluku hingga Papua dan Filipina Selatan. Ternate menguasai jalur cengkih; Tidore menguasai jalur pala dan wilayah Papua.
Ketika Portugis datang pada abad ke-16, mereka tidak datang sebagai penakluk awal, mereka datang sebagai mitra dagang baru yang harus bernegosiasi dengan para sultan yang sudah berkuasa. Sultan Baab Ullah (1570) bahkan berhasil mengusir Portugis dari benteng mereka di Ternate setelah 35 tahun berkuasa di sana. Ini adalah contoh geopolitik yang dimainkan oleh raja Nusantara di papan catur internasional, jauh sebelum Belanda tiba.
Pilar Ketiga: Orang Kaya Kelas Pedagang Merdeka
Yang paling ditakuti VOC di Banda bukan tentara kerajaan, melainkan para Orang Kaya. Mereka adalah kelas pedagang-bangsawan Banda yang memiliki hak mengontrol produksi dan penjualan pala. Mereka menegosiasikan harga, memilih pembeli, dan menolak monopoli karena mereka paham nilai komoditas mereka di pasar internasional.
TITIK BALIK
Inilah yang membuat Coen geram: sistem ekonomi Banda yang bebas dan terdesentralisasi tidak bisa dimonopoli selama para Orang Kaya masih hidup dan masih punya hak berdagang. Solusi Coen? Musnahkan mereka.
Genosida Banda 1621 bukan kriminalitas yang terjadi di luar sistem, ia adalah konsekuensi logis dari sistem monopoli VOC yang tidak bisa eksis tanpa menghancurkan sistem perdagangan Nusantara yang sudah ada.
III. GENOSIDA SEBAGAI KEBIJAKAN EKONOMI
Pada 27 Februari 1621, armada VOC di bawah komando Jan Pieterszoon Coen berlabuh di Banda Neira. Yang terjadi sesudahnya adalah salah satu kejahatan paling sistematis dalam sejarah Asia Tenggara.
FAKTA
Sebelum kedatangan VOC, populasi Kepulauan Banda mencapai sekitar 14.000 jiwa, mayoritas Muslim (Tirto.id, 2018, mengutip sumber-sumber sejarah VOC dan Belanda).
Dalam pembantaian 1621, sekitar 2.500 orang Banda tewas langsung dibunuh. Sekitar 1.700 orang diperbudak dan dibawa ke Batavia (Wikipedia ID, mengutip sumber sejarah Belanda).
Sisa populasi yang bertahan melarikan diri atau diasingkan. Pulau-pulau Banda kemudian dihuni oleh perkenier, petani kontrak Belanda yang menggarap kebun pala dengan tenaga budak.
VOC kemudian menerapkan hak ekstirpasi: hak untuk menebang semua pohon rempah di wilayah yang tidak dikuasai VOC, agar monopoli harga tetap terjaga di pasar Eropa.
Coen sendiri pernah berkata: “Tiada perdagangan tanpa perang, tiada perang tanpa perdagangan.” Kalimat itu bukan slogan itu adalah doktrin. Dan doktrin itu menjelaskan dengan sangat jelas mengapa VOC tidak bisa membiarkan sistem perdagangan bebas Nusantara tetap berjalan.
“Tiada perdagangan tanpa perang, tiada perang tanpa perdagangan.”, Jan Pieterszoon Coen, Gubernur Jenderal VOC. Inilah pengakuan paling jujur tentang hakikat kolonialisme.
Pelayaran Hongi (hongitochten) yang kemudian diterapkan VOC adalah operasi militer-ekonomi yang berlayar keliling Maluku dengan satu tujuan: menebang setiap pohon cengkih atau pala yang ditanam di luar kendali VOC, dan membunuh setiap pedagang yang berdagang di luar izin VOC. Ini bukan perdagangan ini teror yang dilembagakan sebagai kebijakan.
BATAS KLAIM
KLAIM YANG SERING BEREDAR: “VOC membawa kemajuan perdagangan ke Nusantara.”
FAKTA: VOC tidak membawa sistem perdagangan, ia menghancurkan sistem yang sudah ada. Jaringan niaga bebas antara Maluku, Jawa, Melayu, Gujarat, Arab, dan Tiongkok yang sudah beroperasi selama berabad-abad diputus secara paksa. Monopoli menggantikan pasar bebas. Kekerasan menggantikan negosiasi. Perbudakan menggantikan hubungan dagang yang setara.
IV. WORLD-SYSTEM YANG DIBANGUN DARI TIMUR
Sejarawan Immanuel Wallerstein terkenal dengan konsep world-system, gagasan bahwa ekonomi global modern dibentuk oleh hubungan antara “pusat” yang mengeksploitasi dan “pinggiran” yang dieksploitasi. Dalam narasi Barat, Eropa selalu “pusat.”
Namun jika kita melihat peta perdagangan sebelum abad ke-16, gambaran berbeda muncul. Dari catatan Ptolemaeus (abad ke-1 M) hingga kronik-kronik Arab abad ke-9, dari catatan I-Tsing hingga Ma Huan, penulis perjalanan armada Zheng He, satu hal konsisten: Nusantara bukan pinggiran. Nusantara adalah sumber. Dan sumber selalu punya kekuatan tawar.
DEBAT ILMIAH
DEBAT AKADEMIK: Sejauh mana kekuatan tawar kerajaan-kerajaan Nusantara dalam perdagangan pra-kolonial?
Para sejarawan seperti J.C. van Leur (Commerce and Society in Asia, 1955) sudah menegaskan bahwa perdagangan Asia sebelum kedatangan Eropa adalah perdagangan yang dikelola oleh pedagang Asia sendiri, bukan oleh bangsa Eropa.
Kenneth Hall (Maritime Trade and State Development in Early Southeast Asia, 1985) menunjukkan bagaimana kerajaan-kerajaan Asia Tenggara membangun struktur politik yang justru difungsikan untuk mengatur dan melindungi perdagangan maritim mereka.
Tidak ada konsensus tentang seberapa “terstruktur” sistem ekonomi Nusantara pra-kolonial dibandingkan sistem kapitalis modern. Namun tidak ada argumen akademik yang sahih untuk menyebut perdagangan Nusantara pra-kolonial sebagai “primitif” atau “tidak terorganisir.”
Yang penting dicatat adalah ini: ketika Cornelis de Houtman tiba di Banten pada 1596, ekspedisi Belanda pertama ke Nusantara, ia tidak menemukan tanah tak bertuan. Ia menemukan pelabuhan kosmopolitan dengan pedagang dari Gujarat, Arab, Tiongkok, dan Jawa yang sudah bertransaksi dalam sistem harga yang mereka kendalikan sendiri. Belanda datang sebagai pendatang baru yang ingin masuk, bukan sebagai penemu.
FAKTA
Menurut D.G.E. Hall (Sejarah Asia Tenggara, 1988), pedagang-pedagang Jawa Timur sudah berlayar ke Indonesia bagian timur untuk menukar beras dengan rempah, lalu membawa rempah ke Sriwijaya dan menukarnya dengan barang dari Tiongkok (keramik, sutera), India (kain), dan Arab (dupa). Ini jaringan multi-komoditas yang terintegrasi.
Perdagangan Nusantara dengan Arab sudah berjalan baik pada abad ke-9 M. Komoditas yang diperdagangkan mencakup kayu cendana, rempah-rempah, dan hasil bumi lainnya (Webinar Jalur Rempah, ITS, 2022).
Tim arkeologi Universitas Indonesia menemukan situs galangan kapal kuno berusia sekitar 700 tahun di Desa Lambur 1, Tanjung Jabung Timur, Jambi, bukti fisik infrastruktur maritim Nusantara yang sudah mapan jauh sebelum VOC (Mongabay Indonesia, 2024).
V. KENAPA INI PENTING HARI INI?
Ini bukan sekadar perdebatan akademis tentang siapa yang pertama sampai di mana. Ini tentang bagaimana kita memahami diri kita sebagai bangsa.
Selama puluhan tahun, narasi yang tertanam dalam benak generasi Indonesia adalah narasi inferioritas bahwa kita adalah bangsa yang “ditemukan,” yang “dikembangkan,” yang “diajari berdagang” oleh bangsa Eropa. Narasi itu adalah konstruksi kolonial yang diciptakan untuk melegitimasi penjajahan. Dan ia masih hidup, samar-samar, dalam cara kita melihat diri sendiri.
Kita bukan bangsa yang baru belajar berdagang ketika Belanda datang. Kita adalah bangsa yang perdagangannya dirampas.
Bukti arkeologi, kronik asing (Ptolemaeus, I-Tsing, Ma Huan, catatan Arab), dan sejarah diplomatik kerajaan-kerajaan Nusantara membuktikan satu hal yang tidak terbantahkan: Jalur Rempah adalah proyek peradaban Nusantara. Kita yang membangunnya. Kita yang mengelolanya. Kita yang mempertahankannya dengan darah ketika VOC datang untuk merampasnya.
Banda Naira 1621 bukan awal dari era perdagangan rempah, ia adalah akhir dari era di mana pedagang Nusantara masih bisa menjual rempah mereka kepada siapa saja, dengan harga yang mereka tentukan sendiri.
TITIK BALIK
TITIK BALIK YANG PERLU KITA RAYAKAN: Bukan kedatangan VOC sebagai “pembuka jalur perdagangan,” melainkan keberanian para Orang Kaya Banda yang menolak monopoli meski nyawa taruhannya. Merekalah pewaris sejati tradisi niaga bebas Nusantara.
Sultan Baab Ullah yang mengusir Portugis dari Ternate (1575), Sultan Nuku yang menentang VOC hingga akhir hayatnya, mereka bukan sekadar pejuang. Mereka adalah pemimpin ekonomi-politik yang memahami bahwa kedaulatan perdagangan adalah kedaulatan bangsa.
PENUTUP: REMPAH DAN IDENTITAS
Hari ini Indonesia memiliki program Jalur Rempah yang didorong oleh Kemdikbudristek. Program itu penting. Namun nilai terbesarnya bukan sekadar pariwisata atau branding nasional. Nilai terbesarnya adalah koreksi sejarah: bahwa kita punya hak untuk mengatakan kepada dunia, dengan bukti di tangan, bukan dengan mitos, bahwa peradaban niaga global ini dimulai dari sini.
Cengkih di Mesopotamia 1.721 SM. Kapur barus di Ptolemaeus abad ke-1 M. Galangan kapal Jambi abad ke-14. Sistem Orang Kaya Banda yang ditakuti Coen. Pelayaran Hongi yang hanya bisa dibayangkan karena ada sesuatu yang harus dihancurkan.
Semua itu berbicara satu bahasa: kita bukan bangsa yang datang terlambat ke panggung sejarah dunia. Kita adalah salah satu yang membangun panggung itu.
Sejarah rempah bukan tentang siapa yang datang tapi tentang siapa yang sudah lebih dulu ada.
SUMBER & REFERENSI
· Guillot, C. (2014). Dikutip dalam: Jalur Rempah Nusantara, Kemdikbud RI, 2021. [jalurrempah.kemdikbud.go.id]
· Hall, D.G.E. (1988). Sejarah Asia Tenggara. Surabaya: Usaha Nasional.
· I-Tsing (abad ke-7 M). Catatan Perjalanan ke Negeri Barat (terjemahan berbagai edisi). Digunakan sebagai sumber sejarah primer Sriwijaya.
· Liggett, R. (1982). Temuan cengkih situs Terqa, Mesopotamia. Dikutip dalam berbagai sumber Jalur Rempah Kemdikbud dan Ruangguru Blog, 2024.
· Lailiyah, dkk. (2021). “Merawat Ingatan Peristiwa Genosida dan Dominasi VOC di Banda Tahun 1621.” Historiography: Journal of Indonesian History and Education. UM.
· Mongabay Indonesia. (2024, 10 Agustus). Mengingat Kejayaan Maritim Nusantara dari Jejak Perdagangan Rempah Global. [mongabay.co.id]
· Ptolemaeus, Claudius (abad ke-1 M). Guide to Geography (Geographia). Edisi modern berbagai penerbit.
· Van Pagee, Marjolein. Genosida Banda: Kejahatan Kemanusiaan Jan Pieterszoon Coen. Diterjemahkan dan diulas dalam berbagai sumber Indonesia.
· Webinar Jejak Rempah Nusantara, ITS Surabaya, 2022. [its.ac.id]
· Wikipedia Bahasa Indonesia. “Penaklukan Kepulauan Banda oleh Belanda.” [id.wikipedia.org — digunakan sebagai referensi data angka korban, bukan sebagai sumber akademik primer]
EMBAS · M. Basyir Zubair · Kotagede, Yogyakarta, 25 Mei 2026
Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI)





