Beranda / Hikayat Seni dan Budaya / DI ANTARA SAWAH DAN SAMUDRA : MEMBACA KEMBALI IDENTITAS MARITIM NUSANTARA

DI ANTARA SAWAH DAN SAMUDRA : MEMBACA KEMBALI IDENTITAS MARITIM NUSANTARA

Di dinding Borobudur terpahat kapal-kapal samudera. Di lautan Nusantara pernah berlayar armada yang ditakuti dunia. Tapi hari ini, kita menyebut leluhur kita “petani” dan “masyarakat agraris”. Ada yang hilang dalam terjemahan dan itu bukan kecelakaan.
Oleh M. Basyir Zubair
Ada sebuah ironi yang hampir tidak pernah kita bicarakan. Borobudur candi yang kita banggakan sebagai puncak peradaban Jawa, menyimpan di dindingnya bukti bahwa leluhur kita adalah pelaut ulung. Terpahat di Galeri I, setidaknya sembilan panel relief menggambarkan kapal-kapal layar bercadik ganda yang berlayar melintasi samudra. Kapal-kapal ini bukan perahu kecil nelayan. Ini adalah teknologi maritim abad ke-8 yang, menurut replika yang dibangun tahun 2003, mampu menyeberangi Samudra Hindia.
Namun bagaimana kita mengajarkan sejarah Jawa? Sebagai peradaban sawah. Kerajaan agraris. Masyarakat yang berorientasi ke gunung, bukan ke laut.
Relief kapal Borobudur berlayar ke Afrika. Tapi dalam narasi sejarah kita, nenek moyang kita hanya berlayar dari sawah ke alun-alun. Ini bukan sekadar kelalaian akademis. Ini adalah penghapusan sistematis identitas kita yang paling dalam, identitas sebagai bangsa yang pernah menguasai lautan dunia.
KAPAL YANG TERPAHAT, SEJARAH YANG TERLUPAKAN
Pada tahun 1982, sebuah panel di Galeri I Candi Borobudur menarik perhatian seorang veteran Angkatan Laut Kerajaan Inggris bernama Philip Beale. Ia melihat kapal yang digambarkan dalam relief itu bukan kapal primitif melainkan kapal samudra dengan sistem layar tanjak, cadik ganda, dan tiang bipod yang menunjukkan teknologi navigasi tingkat tinggi.
Dua puluh satu tahun kemudian, pada 2003, replika kapal itu dibangun. Dinamai Samudraraksa. Dipimpin oleh Kapten I Gusti Putu Ngurah Sedana, kapal itu berlayar menyeberangi Samudra Hindia menuju Accra, Ghana, di pesisir barat Afrika. Rute yang diduga pernah dilewati nenek moyang kita untuk berdagang kayu manis. Kayu manis dari Nusantara. Di Afrika.
FAKTA TERVERIFIKASI
• Candi Borobudur, dibangun abad ke-8–9 M oleh Dinasti Sailendra, memuat setidaknya 9 panel relief kapal
(Ekspedisi Maritim 2022; Balai Konservasi Borobudur)
• Kapal dalam relief menampilkan: cadik ganda, layar tanjak, tiang bipod/tripod karakteristik khas teknologi maritim Nusantara, bukan India (dibantah dari klaim Indianisasi; lihat Kapal Borobudur, Wikipedia ID)
• Tahun 2003: Kapal Samudraraksa, replika berbasis relief Borobudur, berlayar dari Indonesia ke Ghana, Afrika Barat, menelusuri Rute Kayumanis (The Cinnamon Route)
• Catatan: Arkeolog Hasan Djafar mengingatkan bahwa apakah kapal itu milik kerajaan atau saudagar Jawa masih menjadi perdebatan, ini adalah debat ilmiah yang valid dan harus diakui
Debat apakah Mataram Kuno adalah kerajaan maritim atau agraris adalah debat yang sah. Arkeolog Hasan Djafar dengan tepat mengingatkan bahwa Mataram Kuno berbasis ekonomi agraris dan tidak ada bukti otentik armada kerajaan dalam pengertian penuh.
Kapal-kapal dalam relief mungkin milik saudagar, bukan armada negara. Tapi itulah justru yang menarik secara historis: bahkan jika kapal-kapal itu milik saudagar swasta, itu membuktikan bahwa masyarakat Jawa abad ke-8 hidup dalam ekosistem yang mengenal teknologi pelayaran samudera. Pelaut, pedagang, navigator, mereka ada. Mereka nyata. Dan mereka terlupakan.
SRIWIJAYA: KETIKA NUSANTARA MENGUASAI SELAT DUNIA
Sebelum Borobudur selesai dibangun, ada sebuah kekuatan lain yang mendominasi jalur laut Asia Tenggara. Namanya Sriwijaya. Dan ia bukan kerajaan kecil.
Berdiri sejak abad ke-7 Masehi, berpusat di Palembang, Sriwijaya adalah thalassocracy, kerajaan yang kekuasaannya dibangun bukan atas tanah, melainkan atas lautan. Ia mengendalikan Selat Malaka, jalur sempit yang menghubungkan Samudra Hindia dengan Laut Cina Selatan. Siapa yang menguasai selat ini, menguasai perdagangan dunia saat itu.
Sriwijaya mendominasi jalur ini dari abad ke-7 hingga ke-13 Masehi, lebih dari enam abad. Ia menjalin hubungan diplomatik dengan Tiongkok dan India. Ia menjadi pusat pembelajaran Buddhisme Mahayana yang menarik para cendekiawan dari seluruh Asia. Palembang disebut-sebut sebagai tandingan Nalanda di India.
Enam abad. Sriwijaya menguasai jalur perdagangan terpenting di dunia selama enam abad. Lebih lama dari seluruh era kolonialisme Belanda di Indonesia.
Dan di buku pelajaran kita? Sriwijaya hadir dalam satu paragraf, biasanya diapit oleh daftar nama raja dan tanggal berdiri. Tanpa ada pemahaman tentang apa artinya menguasai Selat Malaka bahwa itu berarti menguasai aliran emas, rempah, tekstil, dan gagasan dari separuh dunia.
DEBAT ILMIAH
Sriwijaya dikenal dari sumber-sumber yang tidak seragam:
• Prasasti berbahasa Melayu Kuno dan Sanskerta (Kedukan Bukit, Telaga Batu, Kota Kapur)
• Catatan perjalanan pendeta Tiongkok I Tsing (671 M) yang tinggal belajar di Palembang
• Catatan pedagang Arab dan India
Perdebatan akademis yang valid: lokasi pasti ibu kota Sriwijaya, batas wilayah sesungguhnya, dan apakah ‘Sriwijaya’ adalah satu entitas politik atau konfederasi politi yang longgar. Konsensus saat ini: Sriwijaya adalah kekuatan maritim dominan Asia Tenggara abad ke-7 hingga ke-13.
Sriwijaya akhirnya meredup, sebagian karena serangan Kerajaan Chola dari India Selatan pada abad ke-11, dan sebagian karena pergeseran rute perdagangan. Tapi ia tidak lenyap begitu saja. Ia digantikan oleh kekuatan maritim lain yang tidak kalah dahsyat.
MAJAPAHIT: KERAJAAN DARAT YANG MENGUASAI LAUT
Inilah paradoks besar yang hampir tidak pernah dijelaskan dengan baik: Majapahit berpusat di pedalaman Jawa Timur di Mojokerto, jauh dari pantai. Namun menurut Kitab Negarakertagama karya Mpu Prapanca (1365), kekuasaannya mencakup seluruh Nusantara, sebagian Semenanjung Malaya, bahkan pengaruhnya terasa hingga Filipina, Thailand, dan Kamboja.
Bagaimana sebuah kerajaan yang berpusat di daratan bisa menguasai wilayah seluas itu? Jawabannya satu: armada laut.
Majapahit memiliki armada dagang dan militer yang dipimpin oleh Senapati Sarwajala, Laksamana Laut bernama Mpu Nala. Pelabuhan-pelabuhan di Surabaya, Gresik, Tuban, Sedayu, dan Blambangan adalah jantung ekonominya. Ketika tiga kerajaan vassal mencoba memisahkan diri dan mengirim utusan sendiri ke Tiongkok pada 1370, Majapahit mengirimkan armada dan pada 1377 masalah itu selesai.
TITIK BALIK ILMIAH
Sumpah Palapa Gajah Mada ‘Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa’ sering dikutip sebagai visi persatuan. Yang jarang dijelaskan: ini adalah visi yang hanya bisa diwujudkan lewat supremasi maritim. ‘Nusantara’ secara harfiah berarti ‘pulau-pulau luar’, hanya bisa dijangkau dan dikuasai melalui laut. Sumpah Palapa adalah, dalam substansinya, sebuah doktrin angkatan laut.
Ada klaim yang beredar bahwa kapal dagang Majapahit lebih besar dan kokoh dari kapal dagang Tiongkok yang terkenal di zamannya. Klaim ini perlu diperlakukan dengan hati-hati, pembuktiannya dari sumber arkeologis masih terbatas. Tapi apa yang tidak terbantahkan adalah bahwa Majapahit adalah bukti nyata sebuah paradoks besar sejarah Jawa: kerajaan yang berhati agraris namun bernapas maritim.
DARI LAUT KE DARATAN: BAGAIMANA KITA KEHILANGAN IDENTITAS
Pertanyaan terbesar bukan hanya mengapa kita lupa bahwa nenek moyang kita adalah pelaut. Pertanyaan besarnya adalah: kapan dan bagaimana proses pelupaan itu terjadi?
Ada beberapa faktor yang dapat diidentifikasi secara historis.
Pertama, masuknya VOC dan kekuasaan kolonial Belanda secara sistematis menghancurkan armada dagang Nusantara. VOC tidak hanya berdagang, ia memonopoli. Kapal-kapal pribumi yang berani melintas tanpa izin VOC akan ditenggelamkan atau disita. Dalam satu abad, ekosistem pelayaran mandiri Nusantara yang telah dibangun ribuan tahun dihancurkan secara struktural.
Kedua, pemerintah kolonial Belanda membangun narasi sejarah yang menempatkan Nusantara sebagai masyarakat agraris, petani yang membutuhkan “bimbingan” dan “peradaban” dari Eropa. Narasi ini nyaman bagi kepentingan kolonial: ia menghapus bukti bahwa masyarakat ini pernah mandiri, maju, dan menguasai jalur perdagangan global.
Ketiga, setelah kemerdekaan, kita mewarisi sistem pendidikan yang dibangun di atas kerangka kolonial ini. Kita mengganti nama tokohnya, tapi kita tidak mengganti paradigmanya.
VOC tidak hanya merebut cengkeh dan pala. VOC merebut narasi. Dan kita belum pernah benar-benar merebut kembali narasi itu.
APA YANG BOROBUDUR SEBENARNYA KATAKAN KEPADA KITA
Kembalilah sejenak ke Borobudur.
Para pembangun Borobudur adalah orang-orang yang tahu lautan. Mereka mengukir kapal-kapal samudra di dinding candi suci mereka, bukan sebagai dekorasi, bukan sebagai fantasi, melainkan sebagai bagian dari kisah-kisah Jataka-Avadana, ajaran tentang perjalanan jiwa dan kebijaksanaan. Lautan bagi mereka bukan ancaman. Lautan adalah jalan.
Prambanan, yang dibangun hampir sezaman, penuh dengan relief yang menggambarkan ekspedisi, pertempuran, dan perjalanan lintas wilayah. Ramayana yang dipahat di dindingnya adalah kisah tentang penyeberangan laut, Rama menyeberangi selat menuju Lanka.
Leluhur kita menaruh laut di dalam candi. Di dalam ruang paling sakral dari peradaban mereka. Tapi kita keturunannya melihat Borobudur sebagai monumen agraris, simbol Jawa pedalaman yang religius dan tenang.
GARIS WAKTU PERADABAN MARITIM NUSANTARA
~40.000 SM Manusia Sulawesi melukis di dinding gua, membuktikan budaya visual pra-maritim
~40.000–10.000 SM Lukisan perahu di gua Muna, Sulawesi Tenggara bukti budaya pelayaran prasejarah
Abad ke-7 M Sriwijaya berdiri di Palembang menguasai Selat Malaka hingga abad ke-13
Abad ke-8–9 M Borobudur dibangun, relief kapal samudra terpahat di dindingnya
Abad ke-13 M Majapahit berdiri, armada laut di bawah Mpu Nala menguasai Nusantara
1365 M Negarakertagama: wilayah Majapahit mencakup seluruh Nusantara dan sebagian Malaya
Abad ke-17 M VOC menghancurkan armada dagang Nusantara secara sistematis
2003 M Samudraraksa, replika kapal Borobudur berlayar dari Indonesia ke Afrika
Garis waktu itu bukan hanya sejarah. Itu adalah diagnosis dari sebuah amnesia yang disengaja.
WARISAN YANG BELUM DIREBUT KEMBALI
Indonesia hari ini mengklaim dirinya sebagai “poros maritim dunia”. Frasa itu indah. Tapi apakah ia berakar pada pemahaman sejarah yang sesungguhnya, atau ia adalah slogan tanpa jiwa?
Untuk menjadi poros maritim dunia, kita perlu lebih dulu jujur bahwa kita pernah kehilangan identitas maritim kita, dan memahami dengan tepat bagaimana proses kehilangan itu berlangsung. Bukan sekadar menyalahkan kolonialisme sebagai kambing hitam, tapi memahami mekanisme spesifiknya: penghancuran armada, monopoli rute, penulisan ulang narasi sejarah.
Jalur Rempah yang kini dipromosikan Kemdikbudristek adalah langkah yang benar. Tapi Jalur Rempah tidak boleh berhenti sebagai festival budaya dan pariwisata. Ia harus masuk ke dalam cara kita mengajarkan sejarah di sekolah, dari SD hingga universitas.
Kita tidak bisa membangun masa depan maritim di atas fondasi narasi yang melupakannya. Kita perlu mengingat dulu, sebelum kita bisa berlayar lagi.
Kawasan Maros-Pangkep di Sulawesi menyimpan lukisan gua tertua di dunia. Sriwijaya pernah menguasai Selat Malaka. Borobudur mengukir kapal samudra di dinding sucinya. Majapahit mengirimkan armada hingga ke Filipina. Dan Samudraraksa replika kapal Borobudur sudah membuktikan bahwa teknologi leluhur kita nyata dan fungsional.
Semua bukti itu ada. Yang kurang adalah kemauan untuk menjadikannya sebagai dasar narasi bangsa, bukan sebagai pelengkap, tapi sebagai inti.
PENUTUP: LAUT YANG MENUNGGU DIINGAT
Di suatu malam, jika berdiri di pinggir benteng Keraton Kotagede dan memandang ke selatan, ke arah Laut Selatan yang tak terlihat namun terasa, ingatlah bahwa para pendiri Mataram, sebelum membangun kerajaan pedalaman ini, adalah keturunan dari manusia-manusia yang tahu cara membaca bintang di tengah samudra.
Kotagede memang jauh dari laut. Tapi DNA-nya, DNA peradaban yang melahirkannya, berasal dari orang-orang yang tidak takut pada gelombang.
Borobudur dan Prambanan berdiri di daratan. Tapi ia dibangun oleh jiwa-jiwa yang bermimpi tentang laut. Dan sampai kita menyadari hal ini sampai kita mengajarkan hal ini, kita belum benar-benar memahami siapa kita.
Artikel ini mengacu pada sumber-sumber yang dapat diverifikasi:
• Relief kapal Borobudur: Balai Konservasi Borobudur; Ekspedisi Maritim 2022 (tvrinews.com)
• Pelayaran Samudraraksa 2003: Detik News, Oktober 2022; Lontara Project, April 2021
• Hasan Djafar mengenai debat kapal Borobudur: Kompas, 11 Januari 2014
• Sriwijaya abad ke-7 hingga ke-13: Fiveable (Archaeology of Southeast Asia); Saint Augustine’s University, 2026
• Majapahit dan Negarakertagama: Kompas Stori, Juli–Agustus 2022; Jurnal UGM Lembaran Sejarah
• Lukisan perahu prasejarah di Muna: Mongabay Indonesia, Agustus 2024; ResearchGate (Kemaritiman Nusantara)
• Jalur Rempah: jalurrempah.kemdikbud.go.id
Klaim yang masih dalam perdebatan akademis telah diberi label DEBAT ILMIAH.
EMBAS
M. Basyir Zubair, Yogyakarta, 24 Mei 2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *