Jauh sebelum kemerdekaan 17 Agustus 1945 berkumandang, sudah ada seorang pemuda yang menuliskan cetak biru negara ini dengan sangat rinci. Tahun 1925, ia merampungkan Naar de Republiek Indonesia (Menuju Republik Indonesia), menggagas pemerintahan ideal yang dipimpin rakyat tanpa diskriminasi. Dialah Ibrahim Datuk Sutan Malaka, atau yang kita kenal sebagai Tan Malaka.
Julukan “Bapak Republik Indonesia” bukan isapan jempol. Bahkan, Bung Karno sendiri mengakuinya. Namun, ironisnya, jalan hidup sang konseptor republik justru berakhir dalam sunyi. Bagaimana mungkin seorang pemikir brilian justru dihabisi oleh tentara republiknya sendiri?
Tan Malaka memang bukan tokoh biasa. Sejak muda, ia memilih meninggalkan gelar bangsawan Minangkabau demi berpihak pada rakyat tertindas. Otaknya yang seterang mentari membawanya menjadi pimpinan PKI pada usia 25 tahun dan menjadi orang Asia pertama yang aktif di jaringan Komunis Internasional (Komintern). Namun, di titik ini pula malapetaka politiknya dimulai.
Ketika PKI melancarkan pemberontakan melawan kolonial Belanda pada 1926, Tan menentang keras karena dinilainya gegabah dan tanpa persiapan matang. Apa yang terjadi selanjutnya? Kegagalan pemberontakan itu justru ditimpakan kepadanya. Partai yang pernah dipimpinnya menuduhnya sebagai pengkhianat dan memplesetkan namanya menjadi “Trotskyis”—sebuah cap politik untuk menghancurkan kredibilitasnya. Sejak saat itu, ia menjadi buronan internasional yang diburu polisi rahasia dari berbagai negara, hidup dengan puluhan nama samaran selama 20 tahun.
Namun, benang kusut ini belum berhenti. Setelah Indonesia merdeka, Tan Malaka yang gigih memperjuangkan prinsip “Merdeka 100 Persen” kembali berseberangan dengan arus utama. Ia mendirikan Persatuan Perjuangan, sebuah koalisi yang menghimpun 141 organisasi massa dan partai politik—termasuk Masyumi dan PNI—untuk menentang diplomasi yang dianggapnya terlalu lunak terhadap Belanda. Alih-alih didengarkan, ia malah dituduh hendak melakukan kudeta, dijebloskan ke penjara selama dua setengah tahun tanpa pernah diadili, dan dikucilkan oleh pemerintahan yang ia idam-idamkan sendiri.
Puncak tragisnya terjadi pada 21 Februari 1949. Di Desa Selopanggung, Kediri, di tengah perang gerilya mempertahankan kemerdekaan, Tan Malaka beserta pengikutnya ditangkap dan dieksekusi mati oleh pasukan TNI di bawah komando Letda Soekotjo dari Batalyon Sikatan, Divisi Brawijaya. Ironi yang menusuk: peluru yang merenggut nyawanya bukan berasal dari senapan penjajah, melainkan dari serdadu republik sendiri.
Syukurlah, sejarah perlahan meluruskan pengkhianatan ini. Pada tahun 1963, Presiden Soekarno menerbitkan Keputusan Presiden No. 53/1963 yang menetapkan Tan Malaka sebagai Pahlawan Nasional. Kini, karyanya terutama Madilog (Materialisme, Dialektika, Logika)—yang mengajarkan rakyat Indonesia untuk berpikir kritis, logis, dan ilmiah—kembali dibaca dan dikaji, melampaui stigma merah yang pernah melekat padanya.
Seperti wasiatnya yang kini terasa sebagai ramalan, “Setelah aku mati, baru aku akan benar-benar hidup”. Tan Malaka memang telah tiada di Selopanggung, tapi semangatnya sebagai negarawan sejati terus bergelora dalam setiap hela napas republik ini.
—
GLOSARIUM (Daftar Istilah):
● Naar de Republiek Indonesia: Buku yang ditulis Tan Malaka pada 1925. Dianggap sebagai salah satu dokumen pertama yang menggagas konsep negara Republik Indonesia secara tertulis.
● Madilog: Singkatan dari Materialisme, Dialektika, Logika. Karya filosofis Tan Malaka yang ditulis untuk membangun pola pikir rasional dan ilmiah bagi rakyat Indonesia.
● Trotskyis: Label politik yang menempel pada pengikut Leon Trotsky (lawan Stalin). Di Indonesia, cap ini diberikan kepada Tan Malaka oleh PKI untuk mendiskreditkan posisinya yang kritis.
● Persatuan Perjuangan (PP): Koalisi politik yang didirikan Tan Malaka pada 1946 di Purwokerto untuk menentang diplomasi dengan Belanda dan menuntut kemerdekaan 100 persen.
● Batalyon Sikatan: Satuan tentara dari Divisi Brawijaya yang pasukannya bertanggung jawab atas penangkapan dan eksekusi Tan Malaka di bawah komando Letda Soekotjo.
DISCLAIMER:
Konten ini disusun semata-mata untuk tujuan edukasi dan refleksi sejarah berdasarkan fakta literatur yang kredibel serta sumber terpercaya. Tidak ada unsur propaganda politik, fitnah, atau pelanggaran terhadap kebijakan komunitas Apapun. Mari kita jadikan sejarah sebagai cermin, bukan alat perpecahan.





