Oleh: Gus Aziz Jazuli, Lc., MH.
Zaman sekarang, ada tren bisnis baru yang modalnya paling murah tapi untungnya selangit. Bukan crypto, bukan jualan kopi kekinian, melainkan jualan silsilah dan sepotong kain sorban. Asal pakai jubah panjang, jenggot menjuntai, dan punya klaim garis keturunan yang kalau diurut-urut katanya tembus sampai ke langit ketujuh, tiba-tiba merasa punya hak istimewa untuk mengangkangi adab. Merasa paling suci, paling benar, dan kalau bicara, maunya semua orang menyembah telapak kakinya.
Hello… bangun! Subuh sudah lewat jauh!
Mari kita buka sedikit lembaran sejarah, biar otak yang isinya cuma taklid buta itu agak segar sedikit. Kita bicara tentang dua raksasa peradaban Islam Nusantara: Hadratus Syekh K.H. Hasyim Asy’ari dan cucunya yang otaknya setingkat dewa, K.H. Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Dua tokoh ini punya cara yang sangat elegan sekaligus menjengkelkan untuk merontokkan ego para oknum yang mabuk nasab tapi miskin adab (qolilul adab).
Hadratus Syekh: “Anak Cucuku Gak Usah Pamer Nasab Sampai Nabi Adam!”
Suatu hari di Jombang, Kiai Mundhir Bahri dari Nganjuk datang sowan ke Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari. Dengan amat sopan, beliau bertanya, “Kiai, kalau boleh tahu, panjenengan ini sebenarnya putra siapa dan cucu siapa? Biar kami agak paham silsilahnya.”
Pertanyaan itu wajar, bukan? Mengingat posisi beliau sebagai pendiri Nahdlatul Ulama. Tapi apa jawaban sang Hadratus Syekh? Apakah beliau langsung mengeluarkan gulungan kertas sepanjang lima meter berisi bagan silsilah emas untuk dipamerkan?
Sama sekali tidak! Beliau malah menjawab dengan kalimat yang menampar:
“Anak putuku ora perlu tak weruh nasab salasilahku sampai teko Nabi Adam…”
(Anak cucuku tidak perlu sampai aku perlihatkan silsilah nasabku hingga Nabi Adam).
Secara genetik dan sejarah, silsilah Hadratus Syekh itu mentereng. Jalur leluhurnya menyambung ke Joko Tingkir (Sultan Hadiwijaya) hingga tokoh-tokoh besar tanah Jawa. Beliau punya “saham” darah bangsawan dan ulama yang sah, bukan kaleng-kaleng hasil print out kemarin sore.
Tapi bagi Hadratus Syekh, pamer nasab itu adalah pekerjaan orang malas. Beliau ingin menegaskan: “Kamu dihargai karena karyamu dan adabmu hari ini, bukan karena siapa kakek buyutmu di masa lalu!” Sungguh sebuah tamparan digital abad ke-20 buat orang-orang zaman sekarang yang kalau berdebat argumennya kalah, langsung mengeluarkan jurus: “Kamu tahu saya ini cucu siapa?!”
Gus Dur dan Diplomasi 5 Menit: “Dia Jual Gertak, Saya Borong!”
Nah, kalau sang kakek menampar dengan kelembutan ilmu, sang cucu—Gus Dur—menampar dengan gaya yang lebih teatrikal dan bikin jantungan.
Mari kita flashback ke masa ketika Gus Dur jadi Presiden RI di Istana Merdeka. Suatu hari, istana dikepung oleh rombongan yang menamakan diri mereka delegasi Habaib dan Laskar Jihad. Penampilannya? Luar biasa meyakinkan. Jubah putih melambai-lambai, sorban melilit kepala, lengkap dengan aksesori “sunnah” tambahan: pedang dan kelewang berkelebat. Mereka berteriak-teriak di depan istana, mengancam tidak akan bubar sebelum ditemui presiden. Mereka pikir, dengan pakaian seperti itu, presiden akan gemetar, keluar sambil cium tangan, lalu minta maaf.
Maaf, ya. Kalian salah alamat. Yang kalian hadapi itu Gus Dur, bukan panitia festival budaya.
Awalnya Gus Dur malas menemui mereka. Namun, karena Sekretaris Militer dan pejabat istana mulai ketakutan akan ada tumpahan darah, Gus Dur akhirnya mengalah. Tapi dengan satu syarat mutlak: “Waktu mereka cuma 5 menit. Titik!”
Rombongan jubah dan pedang itu pun masuk ke ruang kerja presiden. Mereka duduk, lalu mulai berbicara secara bergantian dengan nada tinggi, menggurui, dan penuh tuntutan. Gus Dur mendengarkan dengan santai (atau mungkin sambil tidur-tidur ayam, khas beliau).
Ketika jarum jam bergeser tepat lima menit, Gus Dur memotong pembicaraan dan mengingatkan bahwa waktu mereka sudah habis. Tapi dasar watak narsistik keagamaan, salah satu oknum merasa punya “hak prerogatif langit” sehingga nekat memotong ucapan presiden dan memaksa minta waktu bicara lagi.
Di sinilah keajaiban terjadi. Gus Dur yang biasanya penuh humor, santai, dan suka memaafkan, tiba-tiba berdiri. Kursinya berderit. Wajahnya mengeras, dan dari tenggorokannya keluar sebuah suara yang menggelegar layaknya petir di siang bolong:
“KELUAR!!!”
Sahabat Gus Dur yang ikut mendampingi di dalam ruangan bersaksi, itu adalah bentakan paling keras, paling dahsyat, dan paling mengerikan yang pernah ia dengar seumur hidupnya. Suara itu memantul di dinding-dinding Istana Merdeka, membuat bulu kuduk merinding.
Tapi, namanya juga Gus Dur, selalu ada komedinya. Karena keterbatasan penglihatan beliau, arah jari telunjuk Gus Dur yang bermaksud mengusir mereka ke pintu keluar, sebenarnya malah menunjuk lurus ke arah pintu samping/pintu toilet ruangan.
Meski salah tunjuk arah, kharisma bentakan itu begitu mematikan. Rombongan bersorban dan berpedang yang tadinya gagah perkasa di luar istana langsung ciut, pucat pasi, dan lari tunggang-langgeng keluar istana tanpa berani menoleh lagi. Kelewang mereka tiba-tiba terasa seperti mainan plastik.
Setelah ruangan sepi, sang sahabat bertanya dengan gemetar, “Gus, apa Anda tidak terlalu keras pada mereka? Mereka itu kan…”
Gus Dur memotong sambil tersenyum kecut, “Enggaklah. Orang-orang kayak gitu cuma bisa mengerti bahasa yang seperti tadi. Dia mau gertak saya pakai jubah dan pedang? Ya saya gertak balik lebih keras!”
Pesan untuk Para Pemuja Atribut
Wahai para pencinta fanatik nasab dan jubah yang budiman, apa pelajaran dari dua kisah di atas?
Gus Dur dan Hadratus Syekh memberikan kita tutorial tingkat tinggi cara menghadapi orang-orang yang mengira sorban di kepala mereka bisa dipakai untuk menyetir negara dan mengintimidasi sesama manusia. Gus Dur membuktikan bahwa di hadapan hukum dan kedaulatan negara, jubahmu tidak membuatmu kebal hukum, dan pedangmu tidak membuatmu terlihat keren—kamu cuma terlihat seperti pemain teater yang salah panggung.
Keturunan Nabi? Kita hormati. Sangat kita hormati. Tapi kalau kelakuannya melanggar hukum, tidak punya adab, dan hobi mengancam keutuhan bangsa, maka jubah putihmu tidak akan bisa menyembunyikan kebusukan sikapmu.
Jadi, untuk kalian para oknum yang masih hobi jualan silsilah demi kepentingan perut dan politik: bertobatlah. Berhentilah berpikir bahwa dunia ini berputar di sekeliling garis keturunanmu. Bekerjalah, miliki adab, dan berkontribusilah untuk bangsa. Karena kalau kalian nekat membawa mentalitas “gertak-menggertak” itu ke hadapan para pewaris pemikiran Gus Dur… siap-siap saja ditunjuk ke arah pintu toilet!





