Beranda / Hikayat Seni dan Budaya / SOEKARNO DAN KARTOSOEWIRJO: DARI SAHABAT DI RUMAH PENELEH MENJADI MUSUH BESAR REPUBLIK

SOEKARNO DAN KARTOSOEWIRJO: DARI SAHABAT DI RUMAH PENELEH MENJADI MUSUH BESAR REPUBLIK

Nama Soekarno dan Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo pernah berada di jalan perjuangan yang sama. Keduanya sama-sama murid HOS Tjokroaminoto, sama-sama anti-penjajahan, dan sama-sama bercita-cita melihat Indonesia merdeka.
Tapi sejarah membawa keduanya ke arah berbeda. Dari sahabat satu atap, mereka berubah menjadi musuh besar yang saling berhadapan dalam konflik berdarah selama bertahun-tahun.
 Belajar Politik di Rumah Tjokroaminoto
Persahabatan Soekarno dan Kartosoewirjo dimulai sekitar 1918 saat mereka tinggal di rumah HOS Tjokroaminoto di Jalan Peneleh, Surabaya. Rumah itu bukan rumah biasa. Banyak tokoh besar lahir dari tempat itu. Di sana, para pemuda berdiskusi soal politik, kolonialisme, agama, hingga revolusi.
Soekarno yang masih muda dikenal sangat ambisius. Hampir setiap malam ia berlatih pidato di depan kaca. Suaranya keras dan menggelegar sampai sering mengganggu penghuni rumah lainnya.
Kartosoewirjo justru sering menertawakan kebiasaan itu. Bukannya marah, ia malah menggoda Soekarno dengan candaan-candaan ringan. Dari situ hubungan keduanya makin dekat.
Mereka juga sama-sama membaca buku politik dunia, termasuk pemikiran sosialisme, nasionalisme, dan Islam modern. Tjokroaminoto memang mendorong murid-muridnya berpikir luas soal masa depan bangsa.
Menariknya, selain Soekarno dan Kartosoewirjo, rumah Peneleh juga pernah dihuni tokoh-tokoh yang kemudian punya jalan ideologi berbeda, termasuk Alimin dan Musso. Rumah itu seperti “kawah candradimuka” politik Indonesia.
Mulai Berpisah Jalan
Memasuki akhir 1920-an, hubungan Soekarno dan Kartosoewirjo mulai berubah.
Soekarno memilih jalur nasionalisme. Ia mendirikan Partai Nasional Indonesia pada 1927 dengan gagasan persatuan bangsa tanpa membawa identitas agama tertentu sebagai dasar negara.
Bagi Soekarno, Indonesia terlalu besar dan terlalu beragam jika hanya berdiri di atas satu ideologi agama.
Sementara Kartosoewirjo punya pandangan berbeda. Ia percaya Islam harus menjadi fondasi utama negara. Menurutnya, perjuangan kemerdekaan tidak cukup hanya mengusir penjajah, tapi juga harus membangun pemerintahan berdasarkan syariat Islam.
Kartosoewirjo kemudian aktif di Partai Sarekat Islam Indonesia atau PSII. Ia menjadi salah satu tokoh penting dalam gerakan Islam politik pada masa itu.
Perbedaan pandangan itu perlahan membuat hubungan keduanya renggang.
Kartosoewirjo Menolak Republik
Saat Soekarno dan Mohammad Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, Kartosoewirjo tidak berada di lingkaran pemerintahan baru Republik.
Ia menganggap Republik Indonesia terlalu sekuler dan tidak menjalankan syariat Islam secara penuh.
Kekecewaan itu makin besar setelah perdebatan soal dasar negara dalam sidang-sidang awal kemerdekaan. Kelompok Islam garis keras merasa aspirasi mereka tidak sepenuhnya diakomodasi setelah tujuh kata Piagam Jakarta dihapus.
Situasi makin panas setelah Perjanjian Renville tahun 1948. Saat itu pemerintah Republik menarik pasukan dari Jawa Barat sesuai kesepakatan dengan Belanda. Namun Kartosoewirjo menolak hijrah bersama pasukan Republik.
Ia memilih bertahan di Jawa Barat dan mulai membangun kekuatan sendiri.
Pada 7 Agustus 1949, Kartosoewirjo mendeklarasikan berdirinya Negara Islam Indonesia (NII). Sayap militernya dikenal sebagai DI/TII atau Darul Islam/Tentara Islam Indonesia.
Dari sinilah konflik panjang dimulai.
Perang Panjang Melawan DI/TII
Gerakan DI/TII berkembang di berbagai daerah. Selain Jawa Barat, pemberontakan serupa muncul di Aceh, Sulawesi Selatan, dan Kalimantan Selatan dengan tokoh-tokoh berbeda.
Pemerintah pusat di bawah Soekarno menganggap gerakan itu sebagai ancaman serius terhadap keutuhan negara.
Selama lebih dari 10 tahun, pasukan Republik terlibat perang gerilya melawan DI/TII. Ribuan orang tewas dan banyak daerah mengalami kekacauan keamanan.
Untuk menghancurkan jaringan Kartosoewirjo, TNI menjalankan strategi “pagar betis”, yaitu melibatkan warga desa mengepung wilayah gerilya sedikit demi sedikit.
Strategi itu akhirnya berhasil.
Pada Juni 1962, Kartosoewirjo ditangkap di Gunung Geber, Jawa Barat, dalam kondisi sakit dan lemah. Ia kemudian diadili Mahkamah Militer dan dijatuhi hukuman mati.
Kartosoewirjo dieksekusi pada 5 September 1962.
Dua Murid, Dua Jalan
Soekarno dan Kartosoewirjo sama-sama lahir dari rahim perjuangan anti-kolonial. Sama-sama murid Tjokroaminoto. Sama-sama ingin Indonesia merdeka.
Namun keduanya punya mimpi berbeda soal seperti apa Indonesia harus dibangun.
Soekarno memilih Pancasila dan negara nasional yang memayungi semua golongan. Kartosoewirjo memilih negara berbasis Islam.
Perbedaan ideologi itulah yang akhirnya mengubah dua sahabat lama menjadi musuh besar dalam sejarah Indonesia.
Fakta Menarik Soekarno dan Kartosoewirjo
Soekarno pernah sangat mengagumi kemampuan organisasi Kartosoewirjo saat masih aktif di Sarekat Islam.
Kartosoewirjo dikenal sangat disiplin dan hidup sederhana selama bergerilya di Jawa Barat.
Soekarno beberapa kali mencoba merangkul kelompok Islam agar konflik ideologi tidak semakin tajam.
Gerakan DI/TII menjadi salah satu pemberontakan terpanjang dalam sejarah Indonesia modern.
Rumah HOS Tjokroaminoto di Peneleh kini dikenal sebagai salah satu tempat lahirnya tokoh-tokoh besar Indonesia dengan ideologi yang saling bertolak belakang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *