Beranda / Daerah / Garebeg Besar Keraton Yogyakarta, 4.000 Ubarampe Pareden Dibagikan

Garebeg Besar Keraton Yogyakarta, 4.000 Ubarampe Pareden Dibagikan

Yogyakarta,REDAKSI17.COM – Keraton Yogyakarta menggelar upacara adat Garebeg Besar Dal 1959 pada Rabu (27/05) secara sederhana. Dalam rangkaian prosesi yang terpusat di internal Keraton Yogyakarta kali ini, 4.000 ubarampe pareden dibagikan kepada abdi dalem.

Penghageng II Kawedanan Reksa Suyasa Keraton Yogyakarta, KRT Kusumanegara mengatakan, pembagian ubarampe tersebut diawali dengan doa bersama sekitar pukul 09.00 WIB oleh Kanca Kaji. Setelah doa bersama, ubarampe pareden kemudian dibagikan oleh GKR Mangkubumi, GKR Condrokirono, GKR Hayu, GKR Bendara, KPH Wironegoro, dan KPH Notonegoro.

“Ubarampe dibagikan kepada perwakilan abdi dalem, yang untuk selanjutnya dibagikan di masing-masing Kawedanan Hageng dan Kawedanan. Dan sesuai dhawuh Dalem (Sri Sultan Hamengku Buwono X) prosesi Garebeg disederhanakan, yang dimulai dari Garebeg Besar ini,” paparnya.

Penyederhanaan ritual adat budaya ini dilakukan dengan meniadakan sejumlah prosesi yang biasanya mengawali jalannya ritual tradisi Garebeg, hingga acara puncak di area publik. Beberapa ritual pendahulu yang ditiadakan, seperti Gladhi Resik Prajurit dan ritual Numplak Wajik yang biasanya dilakukan tiga hari sebelum hari puncak Garebeg.

Meski dilakukan penyederhanaan, KRT Kusumanegara sebagai penanggung jawab prosesi Garebeg menegaskan, esensi sedekah dari raja kepada rakyatnya tidak hilang karena diwujudkan dalam pembagian ubarampe pareden yang disalurkan untuk kalangan internal.

Sebelumnya, Sri Sultan Hamengku Buwono X pun telah menjelaskan mengenai kebijakan penyederhanaan upacara adat Garebeg Besar yang dilaksanakan pada hari ini. Penyederhanaan ini diakui sebagai bentuk penghematan anggaran demi menyelaraskan langkah dengan pemerintah pusat maupun daerah yang saat ini tengah gencar melakukan penghematan.

“Ya penghematan aja, kabeh kan penghematan ya kan. Ya kita juga menghemat lah, prinsipnya kan gitu,” ujar Sri Sultan.

Sri Sultan pun menjelaskan, komponen biaya terbesar dalam tradisi Garebeg selama ini memang berpusat pada pergerakan logistik dan kirab luar ruangan yang melibatkan banyak personel. Karenanya, penyesuaian pada lini tersebut dinilai sebagai keputusan yang paling masuk akal untuk situasi saat ini.

Disinggung mengenai kemungkinan format sederhana ini akan terus dipertahankan pada upacara-upacara Garebeg berikutnya, Sri Sultan menyebut kebijakan tersebut tidak bersifat permanen. Pihak Keraton Yogyakarta akan terus melihat situasi dan dinamika pemulihan ekonomi ke depan sebelum mengambil keputusan lanjutan.

“Saya nggak bisa menentukan. Nanti kita lihat perkembangan kalau memang keadaan ekonominya lebih baik, ya dimunculkan lagi. Kita kan belum tahu,” tutup Sri Sultan.

HUMAS DIY

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *