Beranda / Daerah / Tameng Bambu dari Kaliwaru, Melindungi ‘Skincare’ Sekaligus Melestarikan Tradisi

Tameng Bambu dari Kaliwaru, Melindungi ‘Skincare’ Sekaligus Melestarikan Tradisi

Gunungkidul,REDAKSI17.COM – Di tengah teriknya matahari yang menyengat lahan pertanian Gunungkidul, ada sebuah pemandangan yang tak asing namun penuh makna: deretan petani dengan caping di kepala mereka. Namun, bagi warga Dusun Kaliwaru, Kelurahan Kampung, Kapanewon Ngawen, caping bukan sekadar pelindung kepala biasa. Ia adalah simbol ketahanan tradisi yang sudah mendarah daging selama turun-temurun.

Dalam sebuah kunjungan ke sentra pembuatan caping di Dusun Kaliwaru, terungkap sebuah alasan menarik mengapa caping tetap menjadi pilihan utama. Berbeda dengan topi modern yang hanya melindungi area wajah, caping memiliki permukaan luas yang mampu melindungi seluruh sisi kepala, mulai dari tengkuk hingga pipi.

Menariknya, Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih yang mengunjungi langsung tempat produksi caping kini memiliki narasi modern yang cukup santai. Dengan nada berkelakar namun serius, disebutkan bahwa caping adalah solusi agar wajah para petani tidak terbakar matahari, terutama bagi mereka yang sudah mulai memperhatikan perawatan kulit atau skincare.

“Komitmen untuk kembali ke produk lokal ini bahkan diwujudkan dengan aksi nyata, Saya akan mengganti topi lapangan dengan caping asli buatan warga dalam setiap kegiatan di lapangan.” ujar Bupati serius namun santai.

Ternyata, tidak semua caping diciptakan sama. Di sentra kerajinan ini, terdapat setidaknya tiga jenis caping dengan fungsi berbeda:

Caping Nyunggi Memiliki ujung yang tidak lancip (datar) agar memudahkan petani, terutama perempuan, saat membawa beban di atas kepala.

Caping Kakung Didesain khusus untuk laki-laki.

Caping Putri Memiliki bentuk yang cenderung lebih lebar dan sedikit “nyenting” (melengkung cantik) untuk memberikan perlindungan ekstra sekaligus estetika bagi pemakainya.

Proses pembuatannya pun membutuhkan ketelatenan luar biasa. Jari-jemari lincah para ibu di Kaliwaru memperlihatkan berbagai teknik rumit, mulai dari ngongoti (menghaluskan bambu), ngirati (menyayat bambu menjadi lembaran tipis), hingga proses anyam, nyuwir, dan rojeng.

Bagi warga Kaliwaru, keterampilan menganyam bambu bukanlah sesuatu yang dipelajari secara formal, melainkan warisan leluhur yang sudah menjadi “darah turunan”. Sutikno, salah satu pengrajin setempat, menceritakan bahwa ia sudah mulai menganyam sejak tahun 1989.

Saat ini, tradisi tersebut setidaknya telah berjalan hingga tiga generasi di keluar Meski berakar pada tradisi, para pengrajin di keluarganya .

Meski berakar pada tradisi, para pengerajin di Kaliwaru tidak menutup diri dari perkembangan zaman,

“Selain caping, mereka kini merambah ke produk desain baru seperti tas bambu, kap lampu, hingga ornamen interior rumah.” tutur Sutikno,

Ia menambahkan, Inovasi ini menjadi upaya untuk menjaga agar kerajinan bambu tetap relevan di pasar yang lebih luas. Namun, tantangan besar tetap membayangi. Saat ini, hanya sekitar 60% warga Kaliwaru yang masih aktif menekuni kerajinan ini karena generasi muda mulai beralih ke pekerjaan lain.

Ada harapan besar agar generasi penerus kembali mencintai produk warisan nenek moyang yang adiluhung ini.Targetnya pun tidak main-main. Produk-produk dari Dusun Kaliwaru diharapkan tidak hanya dikenal di Gunungkidul, tetapi bisa merambah ke seluruh Indonesia hingga ke mancanegara. Sebuah ajakan pun menggema bagi masyarakat: mari kembali memakai caping, pelindung wajah alami yang lahir dari tangan-tangan terampil warga kita sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *