Lonjakan ini dipicu oleh kekhawatiran gangguan suplai global akibat ketegangan di Selat Hormuz. Selat tersebut menangani sekitar seperlima aliran minyak dan gas global, sehingga sensitif terhadap setiap eskalasi militer.
- WTI naik 3,3% ke US$90,24 dan Brent menguat 3,05% ke US$93,9 per barel.
- AS melakukan serangan ke fasilitas drone di Pulau Goruk dan Qeshm pada 31 Mei 2026.
- Tehran menghentikan negosiasi dengan Washington sebagai protes serangan Israel di Lebanon.
IRGC Iran membalas dengan menyasar pangkalan udara AS sebagai respons serangan ke menara telekomunikasi Pulau Sirik. Eskalasi ini berakar dari gagalnya dialog damai Israel-Lebanon yang dimediasi AS pada hari yang sama.
Analis IG Tony Sycamore menilai kekhawatiran gangguan suplai Selat Hormuz menjadi pendorong utama reli harga. Saham raksasa minyak seperti Exxon Mobil (XOM) dan Chevron (CVX) menjadi sorotan investor energi.
Iran telah menutup Selat Hormuz sejak 28 Februari 2026, memperketat pasokan global. Instrumen seperti United States Oil Fund (USO) kerap menjadi acuan eksposur ke pergerakan minyak mentah WTI.
Kantor berita Tasnim melaporkan Tehran dan kelompok proxy regional sudah memasukkan rencana penutupan total Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb ke agenda. Skenario ini berpotensi memperburuk krisis pasokan energi global secara signifikan.
Trump juga meminta PM Netanyahu menahan diri dari serangan besar ke Beirut demi menjaga dialog dengan Iran. Menurut Bloomberg Technoz, klaim Trump bahwa pasukan diputar balik berbeda dengan pernyataan resmi kantor Netanyahu.
Konflik yang sudah berlangsung empat bulan telah merenggut ribuan korban jiwa dan menekan stabilitas energi global. Dewan Keamanan PBB akan menggelar sidang darurat membahas eskalasi terbaru di kawasan tersebut.





