China sedang mengembangkan pusat data bawah laut (underwater data center), yaitu tempat berisi ribuan komputer server yang ditempatkan di dalam modul tertutup dan ditenggelamkan ke dasar laut. Tujuannya bukan karena internet “dipindahkan ke laut”, tetapi karena server membutuhkan tempat yang sangat dingin agar bisa bekerja stabil.
Server di pusat data biasa menghasilkan panas besar. Karena itu gedung data center di darat membutuhkan sistem pendingin raksasa, kipas, AC industri, dan kadang banyak air tawar. Pada konsep bawah laut, air laut menjadi pendingin alami. Panas dari mesin server dipindahkan melalui sistem penukar panas ke lingkungan laut sehingga kebutuhan pendinginan bisa berkurang.
Modulnya dibuat seperti kapsul logam besar yang tahan tekanan. Di dalamnya terdapat rak server, kabel, sensor, dan sistem pemantauan. Sebelum diturunkan ke laut, modul harus dibuat sangat rapat agar air asin tidak masuk, karena garam bisa menyebabkan korosi dan merusak elektronik.
Salah satu proyek yang terkenal adalah proyek data center bawah laut China yang dikembangkan dekat wilayah seperti Hainan. Modulnya ditempatkan di dasar laut dan dihubungkan dengan kabel listrik serta jaringan komunikasi dari daratan. Server ini dapat digunakan untuk kebutuhan seperti penyimpanan cloud, pemrosesan data, dan komputasi AI.
Keuntungannya cukup besar: tidak membutuhkan lahan luas seperti gedung server biasa, mengurangi penggunaan air tawar untuk pendinginan, dan bisa ditempatkan dekat kota pesisir sehingga jarak pengiriman data lebih pendek. Konsep ini mirip dengan proyek Microsoft yang pernah menguji data center bawah laut Project Natick.
Namun teknologinya masih memiliki tantangan. Perawatan di bawah laut jauh lebih sulit karena teknisi tidak bisa langsung masuk dan memperbaiki mesin. Masalah lain adalah korosi, biaya pemasangan, gangguan terhadap lingkungan laut, serta bagaimana menangani modul jika rusak.
Jadi, ide utamanya sederhana: daripada membangun gedung besar dan menghabiskan energi untuk mendinginkan server, laut dimanfaatkan sebagai “pendingin raksasa alami”. Teknologi ini belum menggantikan data center darat, tetapi bisa menjadi pilihan baru untuk masa depan komputasi yang membutuhkan energi sangat besar.
Sumber:
natick research microsoft,
chinadaily.





