Nama Gun Jack dikenal luas di Jogja sebagai salah satu sosok yang melegenda di dunia jalanan. Namun di balik reputasi besarnya tersebut, tersimpan kisah masa kecil yang penuh perjuangan dan jauh dari kata mudah.
Masa Kecil yang Keras di Kampung Badran
Kehidupan Gun Jack dimulai dari Kampung Badran, Bumijo, Jetis, Kota Jogja. Di masa lalu, kampung ini sangat terkenal dengan dunia premanismenya.
Nama kelahiran tahun 1962 ini mulai tenar pada periode 1980-an sebagai preman atau bahkan akhirnya menjadi pentolan preman di kampung tersebut. Hingga kini, cerita tentang Gun Jack masih kerap diperbincangkan.
Istri Gun Jack, Dyah Safitri, bercerita tentang kehidupan suaminya kepada detikJogja. Dyah mengatakan bahwa suaminya tumbuh di keluarga yang tidak utuh. Sejak kecil, kehidupan yang dijalani Gun Jack penuh dengan keterbatasan.
“Kalau masa kecilnya memang nggak bahagia. Orang tuanya cerai waktu beliau masih kecil. Tiga bersaudara itu tinggal bersama ibunya,” katanya saat ditemui detikJogja, Kamis (11/6/2026).
Anak terakhir dari tiga bersaudara itu kerap membantu mencari nafkah. Ia sering membantu ibunya berjualan gudeg keliling di sekitar Stasiun Tugu Jogja.
Selain lingkungan Kampung Badran, area stasiun inilah yang ikut membentuk jalan hidupnya. Di stasiun, Gun Jack bertemu dengan banyak orang dari berbagai latar belakang.
“Beliau sering bantu ibunya di stasiun. Mungkin dari situ ketemu banyak orang. Namanya lingkungan stasiun, tahu sendiri seperti apa,” katanya.
Kondisi ekonomi keluarga yang pas-pasan membuat Gun Jack tidak bisa menikmati masa sekolah seperti anak-anak lainnya. Ia terpaksa putus sekolah saat masih duduk di bangku SMP.
Sejak saat itu, Gun Jack fokus membantu mencari uang hingga merantau ke berbagai kota besar, seperti Jakarta dan Surabaya.
“Kalau dari keluarga nggak ada yang preman. Mungkin lebih karena lingkungan pergaulan. Kampung Badran dulu juga kan dikenalnya kampung preman. Jadi karena lingkungan juga ya akhirnya membentuk menjadi seperti itu,” ujarnya.
“Teman-temannya banyak yang suka berantem, mabuk, judi, seperti itu. Nah, beliau masuk ke dunia seperti itu,” ungkapnya.
Dyah sendiri mengaku tidak mengerti mengapa pria dengan nama asli Gunardi Agus Joko Lupito ini akhirnya dipanggil Gun Jack.
Nama julukan itu didapat saat suaminya sudah mulai dikenal luas sebagai preman. Menurut Dyah, Gun Jack bisa sangat disegani banyak orang di Kampung Badran karena jiwa solidaritasnya yang tinggi.
Ia dikenal berani menantang siapapun yang berani mengusik teman atau saudaranya di kampung.
“Tapi dia itu bukan orang yang suka cari masalah. Dia memang keras, tapi itu juga kalau ada yang mengusik atau mengganggu saudara atau tetangga, dikeroyok atau bagaimana, dia pasti datang. Dia enggak bisa diam,” katanya.
“Dari situ dia jadi terkenal. Orang mengenalnya sebagai sosok yang pemberani,” sambungnya.
Meski dikenal sebagai preman dan sempat putus sekolah, Gun Jack bukanlah orang yang abai terhadap pendidikan. Dyah menyebut Gun Jack merupakan pria cerdas dan berhasil melanjutkan pendidikannya.
“Menikah sama saya, terus lanjutin sekolah, sekolah SMA kejar paket kalau almarhum itu kan memang cerdas, lulus itu dia langsung kuliah dia ngambil hukum,” jelas Dyah.
Jaringan Pertemanan Luas
Gun Jack disebut sebagai sosok yang supel dan akrab dengan berbagai kalangan. Ia pernah menjadi anggota Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan biasa mengurus bagian keamanan.
Selain itu, ia juga memiliki kedekatan dengan tokoh budayawan terkemuka.
“Kalau sama Cak Nun memang dulu sering jadi jamaahnya Maiyahan. Dulu manajernya Cak Nun juga temannya almarhum, suami saya sering ikut lah sama Cak Nun, berteman dari dulu,” lanjutnya.
Cerita senada juga datang dari sahabat kecilnya, Rudi Baruno. Rudi menyebut rasa solidaritas tinggi itulah yang membuat Gun Jack memiliki jaringan kawan yang sangat luas.
Bahkan, Gun Jack mampu tampil sebagai pemimpin di kalangan pertemanannya di dunia jalanan. Ia menilai Gun Jack memiliki kemampuan mengatur orang dan membangun jaringan pertemanan yang luas.
Gun Jack kerap membagi wilayah pengelolaan parkir kepada orang-orang yang dipercayainya. Cara tersebut membuat banyak orang merasa mendapatkan pekerjaan dan sumber penghasilan.
“Kalau dia punya masalah, teman-temannya siap membela. Boleh dikata seperti pimpinan geng,” Rudi.
Jaringan pertemanan Gun Jack pun tidak terbatas di Jogja saja, melainkan menjangkau berbagai daerah. Rudi mengaku kerap terkejut melihat banyaknya orang dari luar daerah yang mengenal baik sahabatnya itu.
“Sampai saya sendiri nggak nyangka dia kenal si A, si B, si C. Pergaulannya luas sekali. Sampai orang Madura juga itu banyak banget temannya. Jadi orang-orang Madura di sini itu kenal baik sama dia, sering banget itu dikirimi sate Madura,” katanya.
Kemampuan bergaul yang luwes ini membuat Gun Jack mudah diterima di mana saja, mulai dari masyarakat bawah hingga kalangan elite.
“Dia pintar bergaul, termasuk dengan pejabat-pejabat,” ungkap Rudi.
Meski memiliki reputasi keras di jalanan, Rudi menilai Gun Jack mempunyai sisi sosial yang sangat kuat. Pengalaman hidup yang pahit sejak kecil justru membentuk empati yang besar di dalam dirinya untuk selalu membantu sesama.
“Dia tahu rasanya hidup susah dan nggak punya uang. Mungkin karena itu dia peduli dengan orang lain,” pungkasnya.





