Beranda / Wisata dan Kuliner / Belum Resmi Dibuka, Kampung Unik Wota Wati di Lembah Bengawan Solo Purba Mulai di Serbu Wisatawan

Belum Resmi Dibuka, Kampung Unik Wota Wati di Lembah Bengawan Solo Purba Mulai di Serbu Wisatawan

Gunungkidul,REDAKSI17.COM – Sebuah padukuhan terpencil di ujung Kalurahan Pucung, Kapanewon Girisubo, Kabupaten Gunungkidul, mendadak viral di media sosial. Kampung bernama Wota Wati ini mulai ramai diserbu wisatawan, meskipun pembangunan infrastrukturnya belum sepenuhnya rampung dan belum resmi dibuka untuk umum.

Terletak di dasar lembah Bengawan Solo Purba, Wota Wati memiliki keunikan geografis yang sangat langka; matahari terbit lebih lambat dan tenggelam jauh lebih cepat dibandingkan wilayah lain. Fenomena alam ini, dikombinasikan dengan transformasi visual kampung, menjadi magnet kuat bagi para wisatawan.

Lurah Pucung, Estu Dwiyono, mengungkapkan bahwa kawasan ini sebenarnya ditargetkan untuk melakukan grand opening pada akhir tahun 2027 mendatang dengan mengusung konsep Pariwisata Berkelanjutan (Sustainable Tourism).
“Pariwisata di Wota Wati ini mulai ramai, padahal sebenarnya belum saatnya karena rencana resmi dibuka baru akhir 2027 seiring selesainya pembangunan infrastruktur. Saat ini kami belum sepenuhnya siap menerima tamu secara masif,” ujar Estu saat ditemui beberapa waktu lalu.

Estu mengisahkan, Wota Wati dulunya merupakan dusun yang sangat terpencil dengan akses jalan yang sempit, curam, serta minim sinyal telekomunikasi. Namun, keterbatasan tersebut justru memicu pihak pemerintah kalurahan untuk memutar otak demi mengangkat kesejahteraan warga.

Momentum perubahan dimulai pada akhir tahun 2023 ketika Kalurahan Pucung ditetapkan sebagai Desa Wisata. Pemerintah kalurahan kemudian menyusun Master Plan dan Detail Engineering Design (DED) yang diajukan ke Paniradya Kaistimewan DIY.

Alhasil, proyek penataan kawasan ini berhasil didanai hingga 90 persen menggunakan Dana Keistimewaan (Danais) atas izin Ngarsa Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X, serta didukung penuh oleh Pemkab Gunungkidul melalui pendampingan SDM dan UMKM. Proses penataan fisik yang masif dimulai pada tahun 2024. Salah satu terobosan yang membuat perkampungan ini mendadak booming adalah penataan fasad (tampak depan) rumah warga dan pagar yang dibuat seragam di satu padukuhan penuh.

Secara historis, konon warga setempat merupakan keturunan dari trah Kerajaan Majapahit. Memori kolektif itulah yang coba dihidupkan kembali melalui arsitektur bangunan.
“Kami membangun pagar menggunakan material bata merah yang identik dengan Majapahit. Namun untuk bentuknya, kami akulturasikan dengan arsitektur Mataram Yogyakarta karena secara administratif kami berada di wilayah Jogja, Gunungkidul. Akulturasi Majapahit dan Mataram inilah yang membuat cepat viral di akhir 2024,” jelas Estu.

Total ada 86 rumah warga yang bagian depannya dirombak menggunakan material bata merah agar selaras dengan pagar benteng kampung. Selain rumah warga, anggaran juga dialokasikan untuk membangun pendopo, gazebo, serta perbaikan infrastruktur jalan.
Membangun fisik rupanya jauh lebih mudah daripada menyiapkan Sumber Daya Manusia (SDM). Estu mengakui bahwa menyadarkan masyarakat untuk terlibat aktif dalam pengembangan desa wisata memberikan tantangan yang luar biasa besar.

Meski pada awalnya ada sedikit penolakan kecil dari beberapa warga terkait keseragaman tembok, mayoritas masyarakat memberikan dukungan luar biasa. Banyak warga yang dengan ikhlas merelakan sebagian tanah pribadinya dipangkas demi pembangunan pagar agar jalurnya simetris dan lurus.
Untuk menjamin keberlanjutan investasi budaya ini, pemerintah kalurahan mengambil langkah tegas dengan membuat komitmen hukum bersama warga.
“Tantangan terbesar adalah bagaimana warga merawat apa yang sudah dibangun. Oleh karena itu, kami sudah membuat berita acara resmi bahwa selama 20 tahun ke depan, masyarakat tidak boleh mengubah bentuk atau membongkar bangunan tersebut tanpa persetujuan dari kami, dan semua warga setuju,” tegasnya.

Meskipun belum mengenakan retribusi resmi dan sarana prasarana belum siap seutuhnya, pengelola mulai membuka sistem reservasi terbatas untuk rombongan yang ingin berkunjung. Hal ini dilakukan sebagai sarana simulasi dan melatih kemampuan warga lokal sebelum grand opening.
Saat ini, sudah ada 15 rumah warga ya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *