
KULON PROGO,REDAKSI17.COM — Suasana hangat, sejuk, dan penuh kekeluargaan menyelimuti pelataran Masjid Syukur, Cubung Kalangan, Garongan, Panjatan. Langkah kaki jemaah dari berbagai penjuru Yogyakarta memadati majelis sejak pagi hari. Pengajian Ahad Pon yang diselenggarakan oleh Persaudaraan Djamaah Haji Indonesia (PDHI) se-Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) ini mengusung tiga pilar utama yang menyentuh hati: silaturahmi, tholabul ilmi, dan beramal jariyah. (05/07/2026).
Antusiasme luar biasa terlihat dari hadirnya ribuan jemaah yang datang menggunakan berbagai armada bus dan kendaraan pribadi dari Kabupaten Sleman, Kota Yogyakarta, Bantul, Gunung Kidul, hingga tuan rumah Kulon Progo sendiri. Kehadiran massa yang begitu besar ini sempat membuat area sekitar masjid padat merayap.
Bupati Kulon Progo, Dr. H. R. Agung Setyawan, S.T., M.Sc., M.M., dalam sambutannya memberikan apresiasi yang sangat mendalam atas gairah spiritualitas yang ditunjukkan oleh para jemaah.

“Kehadiran jemaah yang luar biasa banyak dari Sleman, Kota Yogyakarta, Bantul, Gunung Kidul, dan Kulon Progo sendiri. Saya masuk sudah bisnya cukup banyak, sehingga saya mau parkir saja sudah sulit. Ini karena gairah yang sangat luar biasa hebat dari jalinan silaturahmi jamaah pengajian PDHI semua,” ungkap Agung.
Lebih lanjut, Agung menekankan bahwa esensi utama dari berkumpulnya umat dalam majelis ini adalah untuk memperkuat ikatan batin dan rasa kemanusiaan yang mendalam. Menurutnya, hubungan antar-sesama muslim harus dilandasi oleh rasa kasih sayang yang tulus, sehingga melahirkan kepedulian yang nyata dalam kehidupan sehari-hari.
“Tajuk yang disusun hari ini adalah yang pertama untuk kita menyambung silaturahmi. Bagaimana kita bisa sebagai saudara sesama muslim bisa saling terpaut hatinya, rohimnya. Sehingga kita merasakan satu sukacita bersama… Karena kita saudara, sangat dalam di dalam hati kita masing-masing. Karena yang jelas kita seiman, kita sama-sama ada dalam naungan yang sama, Islam kita,” lanjut Agung.
Dalam kesempatan tersebut, Agung juga menjelaskan bahwa kegiatan pengajian skala regional seperti ini sangat selaras dengan arah kebijakan pembangunan di Kabupaten Kulon Progo. Bahwa kemajuan fisik atau infrastruktur wilayah harus berjalan beriringan dengan penguatan karakter, moral, dan spiritualitas masyarakatnya.
Sebagai wujud nyata dari penguatan spiritualitas dan kepedulian sosial tersebut, Kabupaten Kulon Progo dicanangkan sebagai “Kota Wakaf”. Konsep ini diharapkan mampu menggerakkan potensi ekonomi umat secara mandiri untuk membantu sesama.
“Adanya daerah yang religius, pembangunan karakter dan spiritualitas kita utamakan, sehingga kita pun kemarin sudah mencanangkan Kulon Progo menjadi Kota Wakaf. Jadi Kulon Progo menerima pendaftaran untuk wakaf-wakaf, baik berupa tanah maupun berupa harta benda yang bisa disalurkan kepada badan-badan amal zakat, infak, sedekah, yang akan dipergunakan untuk kemaslahatan umat,” jelas Agung.
Langkah Kulon Progo ini diperkuat oleh laporan dari Ketua Panitia, Kamari S.Pd., M.Si. Di hadapan hadirin, beliau menyampaikan rasa terima kasih dan kehormatan yang mendalam atas pengorbanan para jemaah yang datang dari jauh demi menyuburkan ladang pahala.
“Panitia Pengajian Ahad Pon PDHI Yogyakarta menghaturkan rasa terima kasih yang setinggi-tingginya dan rasa hormat yang mendalam kepada seluruh jemaah yang telah rela meluangkan waktu, tenaga, bahkan menempuh perjalanan jauh demi menghadiri pertemuan mulia ini. Kehadiran para jemaah bukan sekadar untuk memperdalam ilmu agama, melainkan juga menjadi sarana pengikat tali silaturahmi yang kuat sekaligus ladang untuk menanam amal jariyah yang pahalanya mengalir tanpa putus,” tegas Kamari dalam sambutannya.
Kamari juga menceritakan bagaimana sejarah berdirinya Masjid Syukur ini menjadi bukti nyata dari kekuatan gotong royong dan keikhlasan berwakaf. Berawal dari adanya proyek strategis Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS), bangunan masjid lama yang semula berukuran 9 x 15 M2 harus direlokasi. Atas aspirasi warga yang menghendaki tempat ibadah yang lebih memadai, dipilih lokasi baru di sebelah barat daya. Berkat tanah hibah dari warga seluas 400 meter persegi, sebuah bangunan masjid baru yang megah dengan ukuran 18 x 21 M2 telah berdiri tegak dan aktif digunakan sejak 5 Januari 2024.
Memasuki bulan Juni 2026 ini, panitia bergerak cepat untuk melanjutkan pembangunan fasilitas penunjang masjid demi kenyamanan jemaah anak-anak dan lansia.
“Lewat momentum pengajian yang penuh kehangatan ini, panitia mengetuk pintu hati dan memohon kerendahan hati para jemaah sekalian serta donatur untuk sudi kiranya menyisihkan sebagian rezeki terbaiknya melalui sedekah jariyah,” ajak Kamari.
Dalam inti tausiahnya, Dr. H. Khoirudin Bashori, M.Si. mengajak jemaah untuk meluruskan niat dalam setiap aktivitas agar tidak terjebak dalam formalitas dan pencitraan belaka. Beliau mengoreksi pandangan umum tentang urusan dunia dan akhirat yang sering dianggap harus dibagi rata secara matematis. Beliau menegaskan struktur prioritas yang sebenarnya berdasarkan dalil Al-Qur’an.
“Kita harus mengejar akhirat sebagai tujuan utama karena di sanalah tempat yang abadi, sementara kita cukup menggunakan dunia secukupnya tanpa harus melupakan bagian kita. Akhirat wajib diletakkan di nomor satu oleh setiap mukmin. Jangan sampai urusan akhirat dikesampingkan hanya demi mengejar materi duniawi yang sementara,” tegas Khoirudin.
Khoirudin juga mengingatkan bahwa jika hawa nafsu terus dituruti tanpa batas, manusia akan dengan mudah menabrak batasan moral dan hal-hal yang diharamkan. Oleh karena itu, prinsip hidup _sak perlune_ (seperlunya) dan _sak cukupe (_ secukupnya) menjadi benteng yang sangat penting.
Sebuah kisah humanis pengetuk pintu hati turut dibagikan oleh Khoirudin mengenai pengalamannya bertemu seorang bos konglomerat di Jakarta yang memilih hidup sangat sederhana. Beliau melempar pertanyaan langsung yang kemudian membuahkan jawaban sarat empati dari sang pengusaha.
“Saya bertanya kepada bos konglomerat itu, mengapa ia tidak membeli mobil mewah sekelas Alphard atau Mercedes, padahal ia memiliki kemampuan untuk membeli sepuluh mobil sekaligus,” cerita Khoirudin di mimbar. Pertanyaan itu kemudian dijawab oleh sang konglomerat dengan kalimat yang bergetar: ” _Ora tegel aku_ (Saya tidak tega). Banyak orang yang masih disusahkan oleh hidup, masa saya tega memamerkan kemewahan di depan mereka?” cerita Khoirudin.
Di akhir pengajian, Khoirudin menyampaikan pesan penuh mengenai kepastian janji Allah SWT bagi orang-orang yang tulus berbuat baik tanpa pamrih.



