Beranda / Politik / Persaingan Politik PSI, PDIP dan Yang Lain

Persaingan Politik PSI, PDIP dan Yang Lain

Jakarta,REDAKSI17.COM – Di luar, relasi elite politik kelihatan adem dan kompak. Tapi di akar rumput, dinamika mulai terasa berbeda.

Kedatangan Didit Hadi Prasetio ke kediaman pribadi Jokowi di Solo Juni 2026 sempat memberi kesan situasi politik tetap tenang. Namun gerak Jokowi yang makin sering turun ke daerah dibaca pengamat sebagai langkah jaga-jaga jelang potensi perubahan peta koalisi. Sejumlah kader PDIP melihat manuver ini sebagai cara Jokowi membangun kemandirian politik Gibran Rakabuming Raka, agar tak selalu bergantung pada Prabowo Subianto atau kendali partai besar.

Langkah Jokowi yang cepat turun ke lapangan juga dinilai berisiko. Upaya memperkuat PSI bisa memicu gesekan di koalisi pemerintah. Selama ini, loyalis Jokowi ada di Golkar, PAN, dan Gerindra. Saat Jokowi tampil terbuka sebagai mentor utama PSI, garis politik baru terbentuk. Pendukungnya seolah dihadapkan pilihan: tetap di partai lama atau merapat ke PSI. Jika PSI lolos ke DPR 2029, posisi politik keluarga Jokowi di parlemen makin kokoh. Bagi pemerintahan Prabowo, ini bisa jadi tantangan karena pengaruh kelompok itu akan ikut menentukan arah kebijakan penting.

Sikap partai besar beragam. Golkar memilih kalem, tetap dukung Presiden Prabowo sambil awasi potensi migrasi suara di daerah. Gerindra justru pasang badan, menilai aktivitas Jokowi wajar sebagai tokoh bangsa. PDIP paling keras bereaksi. Partai ini menilai gerak Jokowi dan PSI bisa menggerus basis nasionalis, sehingga mulai perketat pengamanan di kantong suara mereka. Ketegangan PDIP dan PSI bukan cuma perang opini. Di baliknya ada tarik-menarik pengaruh merebut pemilih nasionalis. Langkah Jokowi menyambangi basis kuat PDIP jadi sinyal jelas: pertarungan menuju 2029 sudah merembet dari elite ke akar rumput.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *