Beranda / Hikayat Seni dan Budaya / Merawat Identitas Lewat Tradisi, Ritual Jamasan Tosan Aji di Jantung Gunungkidul

Merawat Identitas Lewat Tradisi, Ritual Jamasan Tosan Aji di Jantung Gunungkidul

Gunungkidul,REDAKSI17.COM – Suasana khidmat menyelimuti Bangsal Sewokoprojo, Kapanewon Wonosari, Kamis Pagi, (9/7/2026) saat Pemerintah Kabupaten Gunungkidul menggelar upacara tradisi Jamasan Tosan Aji. Ritual tahunan yang dilakukan setiap bulan Sura ini bukan sekadar rutinitas pembersihan benda pusaka, melainkan sebuah manifestasi penghormatan terhadap nilai sejarah dan spiritualitas luhur warisan leluhur.

Acara dimulai dengan laporan kegiatan dari Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kabupaten Gunungkidul, Agung Danarto. Dalam laporannya, disampaikan bahwa penjamasan ini didasari oleh landasan hukum yang kuat, yakni Peraturan Daerah (Perda) Nomor 3 Tahun 2017 tentang pemeliharaan dan pengembangan kebudayaan, serta Perda Nomor 10 Tahun 2020 mengenai pengelolaan kebudayaan daerah.

“Kegiatan ini didanai melalui anggaran pembinaan penghayat kepercayaan, adat, dan tradisi sebagai bagian dari program penyelenggaraan keistimewaan Yogyakarta.” kata Agung. Tujuan utamanya adalah untuk melestarikan nilai-nilai luhur, memastikan kondisi fisik pusaka tetap terawat dan terhindar dari kerusakan (karat), serta memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai tingginya nilai budaya adiluhung.

Pada prosesi kali ini, terdapat enam pusaka milik Pemerintah Daerah Gunungkidul yang dijamasi secara khusus, di antaranya Tombak Kiai Margo Salurung, Kiai Pandoyo Panjul, Songsong (Payung) Kiai Obyong, Kiai Titis, Kiai Sero, dan Kiai Supro Manis.

Pelaksanaan teknis jamasan ini melibatkan kolaborasi erat dengan Paguyuban Tosan Aji Sidoaji, yang terdiri dari para Abdi Dalem Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Keahlian mereka memastikan bahwa setiap tahapan dilakukan sesuai dengan pakem tradisi yang berlaku di Kasultanan Yogyakarta.

Setelah pembukaan di Bangsal Sewokoprojo, rangkaian jamasan akan berlanjut di berbagai lokasi strategis sepanjang bulan Juli, mulai dari Taman Budaya Gunungkidul (13 Juli) hingga menyambangi berbagai kalurahan seperti Jerukwudel, Pulutan, Dadapayu, Ngawu, hingga Kemadang di Kapanewon Tanjungsari yang dijadwalkan berakhir pada 25 Juli.

Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih dalam sambutannya, menekankan bahwa tosan aji seperti keris, tombak, dan pedang memiliki makna yang melampaui fisik semata. Bupati menjelaskan istilah “Wesi Aji” sebagai simbol “ajining diri” atau harga diri, yang merupakan perwujudan karya para empu masa lalu yang memadukan doa, mantra, dan keahlian tempa.

“Jamasan bukan hanya ritual membersihkan benda pusaka, tetapi juga simbolisasi reresik diri (pembersihan diri),” ujar Bupati. Ia berharap agar hati dan jiwa masyarakat juga ikut dibersihkan untuk bersama-sama membangun Gunungkidul yang lebih adil dan makmur.

Menariknya, dalam pidato pembukaan tersebut, Bupati juga mengutip pesan proklamator Bung Karno dari amanat tahun 1964 tentang pentingnya bangsa yang mengerti “kehendak zaman”. Melestarikan budaya dianggap sebagai investasi mental untuk masa depan agar bangsa tetap memiliki karakter kuat dan tidak melupakan sejarahnya.

Prosesi diakhiri dengan harapan agar semangat golong gilig (persatuan) tetap terjaga. Melalui filosofi “curiga manjing jroning warangka”, masyarakat diajak untuk menyatukan tekad dengan hati yang bening dan suci demi tercapainya cita-cita bersama. Ritual ini menjadi pengingat bahwa di tengah arus modernisasi, jati diri sebuah bangsa tetap berakar pada penghormatan terhadap pusaka dan tradisi masa lalu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *