Yogyakarta,REDAKSI17.COM – Di tengah laju urbanisasi yang terus mengubah wajah kota-kota di Indonesia, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X menegaskan pembangunan kawasan perkotaan tidak boleh kehilangan pijakan utamanya, yakni manusia, budaya, dan karakter wilayah. Kota masa depan, menurut Sri Sultan, bukan sekadar kumpulan bangunan dan infrastruktur modern, melainkan ruang hidup yang mampu menjaga identitas sekaligus menjawab kebutuhan masyarakat yang terus berkembang.
Pemikiran tersebut mengemuka dalam silaturahmi Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X dengan Wakil Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Fahri Hamzah di Gedhong Wilis, Kompleks Kepatihan, Selasa (14/07). Selama kurang lebih dua jam, keduanya bertukar pandangan mengenai masa depan permukiman dan penataan kota yang berkelanjutan menuju Indonesia Emas 2045.
Turut mendampingi Sri Sultan dalam pertemuan tersebut, Wakil Wali Kota Yogyakarta Wawan Harmawan, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida) DIY Danang Setiadi, serta Kepala Dinas Perhubungan DIY Chrestina Erni Widyastuti.
Dalam kesempatan itu, Fahri menyerahkan sekaligus mendiskusikan buku yang ditulisnya berjudul Indonesia Menuju Swasembada Papan 2045. Buku tersebut memuat peta jalan pembangunan perumahan nasional yang menjadi bagian dari Program Tiga Juta Rumah menuju Indonesia Emas 2045.
Namun, pembahasan yang berlangsung tidak berhenti pada persoalan penyediaan rumah. Sri Sultan dan Fahri mendiskusikan berbagai aspek strategis penataan kawasan perkotaan, mulai dari pengembangan permukiman, penataan bantaran sungai, pengelolaan kawasan pesisir, hingga peluang pengembangan wilayah baru yang tetap selaras dengan karakter ruang dan lingkungan.
Bagi Sri Sultan, setiap daerah memiliki karakter, potensi, dan tantangan yang berbeda. Karena itu, pembangunan tidak dapat dilakukan dengan pendekatan yang seragam. Penataan kawasan harus berangkat dari pemahaman terhadap kondisi sosial masyarakat, daya dukung lingkungan, serta filosofi ruang yang menjadi ruh sebuah daerah.
“Sekarang baru pandangannya saja. Nanti masih ada pembicaraan tindak lanjut bagaimana mengaplikasikan. Kalau melihat lokasi dan kondisi di lapangan, tentu akan berkembang lagi berbagai kemungkinan desain dan pengembangannya,” ujar Sri Sultan.
Menurut Sri Sultan, berbagai gagasan yang muncul dalam diskusi tersebut masih memerlukan pendalaman lebih lanjut melalui kajian teknis dan peninjauan lapangan. Langkah itu penting agar setiap konsep yang dirumuskan benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat sekaligus selaras dengan karakter kawasan yang akan dikembangkan.
Sri Sultan juga menekankan pembangunan kawasan permukiman harus mempertimbangkan berbagai aspek secara menyeluruh, mulai dari kondisi wilayah, kemampuan masyarakat, kebutuhan infrastruktur, hingga keberlanjutan lingkungan. Dengan demikian, pembangunan tidak hanya menghasilkan kawasan yang layak huni, tetapi juga mampu menjaga kualitas hidup masyarakat dalam jangka panjang.
Pandangan Sri Sultan tersebut mendapat apresiasi dari Fahri Hamzah. Ia mengaku sengaja datang untuk berdiskusi dengan Sri Sultan yang selama ini dihormatinya sebagai guru sekaligus sosok yang memiliki pengalaman panjang dalam memahami dinamika masyarakat dan perkembangan kota.
Fahri menegaskan DIY merupakan salah satu daerah yang berhasil menunjukkan bahwa pembangunan modern dapat berjalan seiring dengan pelestarian nilai-nilai budaya. Pengalaman tersebut dinilai penting sebagai referensi bagi penataan kota-kota di Indonesia pada masa mendatang.
“Yogyakarta adalah salah satu kota warisan budaya dan kota tua yang ada di Indonesia. Mendapatkan masukan dari Sri Sultan tentang bagaimana menata perkotaan berdasarkan pengalaman yang ada menjadi diskusi yang sangat menarik. Pengalaman DIY sangat kaya dan bisa menjadi inspirasi dalam menata kota-kota Indonesia ke depan,” ujar Fahri.
Fahri menambahkan, Presiden Prabowo Subianto tengah menyiapkan agenda besar untuk meningkatkan kualitas kawasan perkotaan melalui pembangunan permukiman yang lebih tertata dan modern. Selain Program Tiga Juta Rumah, pemerintah juga mendorong lahirnya kawasan-kawasan hunian baru yang mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi.
Dalam konteks tersebut, pengalaman DIY dinilai memiliki nilai strategis. Selama ini DIY dikenal tidak hanya sebagai pusat budaya dan pendidikan, tetapi juga sebagai daerah yang terus berupaya menjaga keseimbangan antara pertumbuhan wilayah, kelestarian lingkungan, dan kenyamanan hidup masyarakat.
Berbagai isu strategis turut dibahas dalam pertemuan tersebut, mulai dari pengembangan kawasan permukiman, penataan bantaran sungai, pengelolaan kawasan pesisir, hingga peluang pengembangan wilayah baru. Fahri menilai DIY masih memiliki ruang untuk tumbuh dan berkembang melalui konsep pembangunan yang terukur, inklusif, dan berkelanjutan.
Silaturahmi tersebut menegaskan masa depan kota tidak hanya ditentukan oleh pembangunan fisik, tetapi juga oleh kemampuan menjaga harmoni antara manusia, budaya, dan lingkungan. Karena itu, pembangunan yang berkelanjutan perlu berpijak pada keseimbangan antara pertumbuhan wilayah, kualitas hidup masyarakat, serta pelestarian identitas daerah. Nilai-nilai tersebut selama ini menjadi bagian dari pengalaman pembangunan di DIY yang dinilai dapat menjadi inspirasi bagi penataan kota-kota Indonesia menuju Indonesia Emas 2045.
Humas Pemda DIY





