Tidak ada rezim yang mengaku sedang membangun totalitarianisme. Umumnya justru tampil dengan janji yang terdengar mulia: menciptakan kemakmuran, menjaga keamanan, memulihkan martabat bangsa, melawan musuh negara, atau menyelamatkan rakyat dari kekacauan. Totalitarianisme tidak pernah memperkenalkan diri sebagai bencana. Ia menyamar sebagai penyelamat.
Karena itu, metamorfosis menuju totalitarianisme jarang sekali disadari. Ia tidak diawali oleh dentuman meriam, melainkan oleh perubahan-perubahan kecil yang tampak masuk akal. Sebuah undang-undang yang membatasi kebebasan disebut sebagai perlindungan. Pengawasan terhadap warga dinamai pengamanan. Kritik dianggap ancaman terhadap persatuan. Kebohongan dipoles menjadi patriotisme. Sedikit demi sedikit, masyarakat belajar menerima sebelum akhirnya menjadi kebiasaan.
Kekuasaan memang selalu menghendaki ketaatan. Namun totalitarianisme menginginkan yang lebih dalam. Ia tidak puas menguasai tubuh manusia; ia ingin menguasai pikirannya. Ia tidak cukup membungkam suara; ia ingin mengatur apa yang boleh diingat, apa yang boleh dilupakan, bahkan apa yang boleh dibayangkan.
Kejuasaan negara berubah menjadi nyaris tanpa batas. Sekolah tidak lagi sekadar mengajarkan ilmu, tetapi juga kesetiaan. Media massa tidak lagi menyampaikan informasi, melainkan propaganda. Kesenian dituntut memuji penguasa. Sejarah ditulis ulang agar masa lalu selalu membenarkan masa kini. Bahasa dipaksa kehilangan makna aslinya, karena kata-kata yang jujur selalu berbahaya bagi kekuasaan yang ingin mengendalikan segalanya.
Filsuf Hannah Arendt menyebut totalitarianisme sebagai gejala politik yang belum pernah dikenal dalam bentuk-bentuk tirani sebelumnya. Jika seorang diktator hanya ingin menguasai negara, rezim totaliter ingin membentuk manusia baru: manusia yang tidak lagi mampu membedakan antara kebenaran dan propaganda, antara keyakinan pribadi dan doktrin negara. Keseragaman menjadi cita-cita, sementara perbedaan dipandang sebagai ancaman.
Sejarah abad ke-20 memberikan pelajaran yang mahal tentang ambisi semacam itu. Jerman di bawah Adolf Hitler dan Uni Soviet di bawah Joseph Stalin berdiri di atas ideologi yang saling bertentangan. Namun keduanya bertemu pada satu keyakinan yang sama: negara harus hadir di setiap sudut kehidupan. Tidak cukup menguasai parlemen atau tentara; negara harus menguasai partai, sekolah, surat kabar, panggung seni, ruang kelas, ruang doa, bahkan percakapan di dalam rumah. Ketakutan menjadi bahasa sehari-hari, dan kesetiaan diukur dari kesediaan seseorang mengulangi apa yang diperintahkan negara untuk dipercayai.
Yang paling mengerikan dari totalitarianisme sesungguhnya bukanlah penjara, penyiksaan, atau kamp kerja paksa. Semua itu hanya akibat. Kemenangan sejatinya terjadi ketika manusia mulai mengawasi dirinya sendiri. Ketika seseorang takut mengucapkan pikirannya, bahkan di hadapan orang dekatnya. Ketika orang lebih memilih mengulang slogan daripada mengajukan pertanyaan. Ketika kebenaran tidak lagi ditentukan oleh kenyataan, melainkan oleh siapa yang memegang kekuasaan.
Di situ bahasa menjadi medan pertempuran yang sesungguhnya. Setiap rezim totaliter selalu berusaha merebut kata-kata, sebab mereka tahu bahwa manusia berpikir melalui bahasa. Bila makna sebuah kata berhasil diubah, cara manusia memahami dunia pun akan berubah. Kebohongan yang terus-menerus diulang akhirnya terdengar sebagai kebenaran, sementara kebenaran yang terus-menerus disangkal perlahan dianggap sebagai kebohongan.
Namun selalu ada orang-orang yang menolak menyerahkan bahasa kepada kekuasaan. Penyair yang diam-diam menulis sajak. Novelis yang menyembunyikan naskahnya. Musisi yang menyisipkan nada perlawanan. Filsuf yang tetap mempertahankan pertanyaan. Mereka mungkin dipenjara, dibuang, atau dibungkam, tetapi keberadaan mereka membuktikan bahwa tidak ada kekuasaan yang benar-benar mampu menaklukkan nurani manusia.
Mungkin itulah sebabnya totalitarianisme selalu memusuhi para penulis, seniman, pemikir, dan guru. Mereka adalah penjaga ingatan. Mereka mengingatkan bahwa bahasa tidak diciptakan untuk memuja kekuasaan, melainkan untuk mencari kebenaran.
Tidak ada bangsa yang kehilangan kebebasannya seketika. Kebebasan lenyap sedikit demi sedikit, setiap kali manusia menyerahkan hak untuk berpikir kepada kekuasaan.




