Beranda / Daerah / Penguatan Ekosistem Lumbung Mataraman Perkuat Ekonomi Kalurahan DIY

Penguatan Ekosistem Lumbung Mataraman Perkuat Ekonomi Kalurahan DIY

Gunungkidul,REDAKSI17.COM – Penguatan Ekosistem Ekonomi Produktif Lumbung Mataraman terus menunjukkan hasil nyata dalam memperkuat ekonomi kalurahan di DIY. Melalui kolaborasi Pemerintah Daerah (Pemda) DIY, Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) DIY, Bank BPD DIY, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) DIY, dan Bank Indonesia DIY, program ini berhasil menyalurkan pembiayaan produktif sebesar Rp9,17 miliar kepada 120 pelaku usaha di empat kalurahan percontohan sepanjang 2026.

Sekretaris Daerah (Sekda) DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti, menegaskan Penguatan Ekosistem Ekonomi Produktif Lumbung Mataraman merupakan langkah strategis untuk memperkuat kapasitas kelompok masyarakat dalam mengelola usaha, meningkatkan daya saing produk, serta memperluas akses terhadap sumber pembiayaan yang sehat dan berkelanjutan. Menurutnya, Lumbung Mataraman tidak hanya dipahami sebagai tempat penyedia pangan, tetapi merupakan sistem sosial-produktif yang berakar pada falsafah nandur apa sing dipangan, mangan apa sing ditandur, yakni menanam apa yang dimakan dan memakan apa yang ditanam.

“Lumbung Mataraman adalah lumbung pangan hidup. Di dalamnya terdapat ikhtiar untuk mendekatkan kembali sumber pangan kepada keluarga. Falsafah tersebut mengajarkan kemandirian, kecukupan, kedekatan dengan alam, serta tanggung jawab untuk merawat sumber kehidupan,” ujar Ni Made di Lumbung Mataraman Bendung, Kapanewon Semin, Gunungkidul, Selasa (21/7).

Ni Made menjelaskan, prinsip tersebut diwujudkan melalui penguatan kemandirian pangan keluarga, diversifikasi konsumsi berbasis pangan lokal, pelestarian sumber daya genetik pangan, pengembangan kebun bibit, serta pemanfaatan pekarangan secara berkelanjutan. Karena itu, istilah “lumbung” dalam program ini dipahami sebagai sebuah ekosistem yang menghubungkan aspek pangan, ekonomi, sosial, dan budaya.

Lebih lanjut, Ni Made menegaskan bahwa penguatan ekosistem ekonomi produktif harus diarahkan pada peningkatan kapasitas kelompok masyarakat dalam mengelola usaha, menghitung biaya produksi, menjaga kualitas produk, membangun jejaring pemasaran, hingga mengakses pembiayaan secara sehat dan bertanggung jawab.

“Penguatan ekosistem perlu dilakukan melalui peningkatan literasi dan inklusi keuangan, pengembangan kewirausahaan, perluasan akses pembiayaan, serta fasilitasi business matching bagi kelompok-kelompok Lumbung Mataraman. Kelompok harus mampu membaca kebutuhan pasar, mengembangkan produk yang relevan, menjaga kontinuitas produksi, memperbaiki kemasan, memenuhi standar mutu, serta membangun identitas produk yang kuat,” katanya.

Menurut Ni Made, dalam skema Dana Keistimewaan DIY, Lumbung Mataraman juga ditempatkan dalam urusan kebudayaan karena program tersebut merupakan bagian dari revitalisasi tradisi pangan, gotong royong, dan tata hidup agraris masyarakat DIY.

“Pertanian dalam kebudayaan kita tidak pernah hanya menjadi urusan produksi komoditas. Pertanian adalah cara masyarakat membangun hubungan dengan tanah, air, musim, lingkungan, serta sesama manusia. Karena itu, penguatan ekonomi produktif Lumbung Mataraman tidak boleh menghilangkan akar budayanya,” ujarnya.

Kepala Biro Perekonomian dan SDA Setda DIY, Eling Priswanto, yang membacakan Laporan Implementasi Program Kerja TPAKD DIY Tahun 2026, menjelaskan bahwa program ini merupakan implementasi Roadmap TPAKD DIY 2026–2030 sekaligus dukungan terhadap Program Strategis Nasional Makan Bergizi Gratis (MBG).

Program dilaksanakan di empat kalurahan percontohan, yakni Bendung di Gunungkidul, Wukirsari di Bantul, Glagahharjo di Sleman, dan Giripeni di Kulon Progo. Pelaksanaannya diawali dengan tujuh kegiatan pra-inkubasi berupa kunjungan lapangan dan koordinasi lintas instansi, kemudian dilanjutkan dengan 31 kegiatan inkubasi berupa pendampingan usaha, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, sosialisasi, pameran potensi, serta monitoring dan evaluasi.

“Sepanjang 2026, program ini mencatat 38 kegiatan asistensi dan pendampingan. Hasilnya, akses masyarakat terhadap layanan keuangan formal semakin meningkat dan usaha produktif berbasis kalurahan semakin berkembang,” kata Eling.

Dari sisi inklusi keuangan, program ini berhasil menyalurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebesar Rp9,17 miliar kepada 120 debitur. Selain itu, tersalurkan Kredit Kawan Usaha sebesar Rp160 juta kepada tiga debitur dan Kredit Mikro Makarti sebesar Rp165 juta kepada tiga debitur.

Program tersebut juga berhasil menghimpun tabungan dari 488 nasabah senilai Rp1,5 miliar, membentuk tiga agen Laku Pandai BPD DIY, tercatat 80 merchant QRIS, serta mendorong 179 masyarakat menggunakan layanan mobile banking.

Menurut Eling, capaian tersebut menunjukkan meningkatnya akses masyarakat terhadap layanan keuangan formal sekaligus mendukung pengembangan usaha produktif berbasis kalurahan. Namun demikian, masih diperlukan penguatan pada aspek kualitas SDM dan kelembagaan usaha, peningkatan kapasitas produksi dan pemasaran, pembangunan infrastruktur pendukung, serta percepatan digitalisasi akses keuangan.

Dalam kesempatan tersebut, Ni Made juga menyampaikan apresiasi kepada Bank BPD DIY yang telah berperan aktif bersama TPAKD DIY dalam melakukan pendampingan dan sosialisasi secara intensif kepada kelompok-kelompok Lumbung Mataraman.

“Saya menyampaikan apresiasi kepada Bank BPD DIY yang telah berperan aktif bersama TPAKD DIY dalam memperkuat ekosistem ekonomi produktif Lumbung Mataraman. Saya juga mengapresiasi kepedulian sosial Bank BPD DIY yang diwujudkan melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) maupun bantuan berbagai sarana dan alat bagi kelompok Lumbung Mataraman. Dukungan tersebut diharapkan menjadi pemantik tumbuhnya kegiatan usaha yang mandiri, produktif, dan berkelanjutan,” ujarnya.

Pada kesempatan itu, Pemda DIY bersama Bank BPD DIY menyerahkan bantuan tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) berupa pengadaan mesin giling sampah plastik kepada Lumbung Mataraman Bendung, bantuan pengadaan mulsa kepada Lumbung Mataraman Glagaharjo, bantuan pengadaan alat pertanian kepada Lumbung Mataraman Wukirsari dan bantuan pengadaan 2 unit kendaraan pengangkut sampah kepada Lumbung Mataraman Giripeni  Bantuan tersebut diharapkan mendukung pengelolaan lingkungan sekaligus membuka peluang ekonomi baru melalui pengolahan sampah yang memiliki nilai tambah.

Lurah Bendung, Kapanewon Semin, Gunungkidul, Didik Rubiyanto, mengapresiasi dukungan Bank BPD DIY yang dinilai sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat. Kalurahan Bendung yang berkembang sebagai kawasan wisata membutuhkan sistem pengelolaan sampah yang baik sekaligus mampu memberikan manfaat ekonomi bagi warga.

“Dengan adanya mesin pencacah sampah plastik ini, kami dapat menekan volume sampah sekaligus mengolahnya menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi. Bantuan ini sangat mendukung pengembangan Lumbung Mataraman Bendung dan penguatan ekonomi masyarakat,” ujar Didik.

Pihaknya berharap program penguatan ekosistem ekonomi produktif Lumbung Mataraman dapat terus berlanjut dan berkembang sebagai salah satu program unggulan DIY dalam memperkuat ketahanan pangan, pemberdayaan masyarakat, dan pembangunan ekonomi berbasis kalurahan.

Kegiatan yang turut dihadiri Direktur Utama Bank BPD DIY, Santoso Rohmad, jajaran Bank BPD DIY, Kepala Perwakilan Bank Indonesia DIY, OJK DIY, serta Pemerintah Kabupaten Gunungkidul tersebut juga diisi dengan peninjauan Lumbung Mataraman Bendung, gerai UMKM dan talkshow literasi keuangan bersama OJK DIY dan Dinas Koperasi dan UKM.

Melalui kolaborasi lintas sektor yang terus diperkuat, program penguatan ekosistem ekonomi produktif Lumbung Mataraman diharapkan mampu melahirkan kelompok-kelompok usaha yang semakin tangguh, memperluas manfaat ekonomi bagi masyarakat, memperkuat ketahanan pangan, menjaga lingkungan, serta memperkokoh kedaulatan pangan berbasis keluarga dan kalurahan di DIY.

Humas Pemda DIY

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *