
Gunungkidul,REDAKSI17.COM – Suasana di Lapangan Pilangrejo pada Selasa siang, (21/7/2026) tampak berbeda dari biasanya. Ratusan warga tumpah ruah, berbaris rapi dalam balutan pakaian tradisional yang berwarna-warni. Hari itu, Kalurahan Pilangrejo sedang merayakan tradisi tahunan mereka: Bersih Desa atau yang akrab disebut Rasulan.

Lurah Pilangrejo, Sunaryo, dalam laporannya menyampaikan bahwa rangkaian acara syukur ini sebenarnya telah dimulai sejak Senin, 20 Juli 2026, yang diawali dengan kegiatan pengajian. Puncaknya adalah Kirab Budaya yang digelar hari ini, melibatkan partisipasi luar biasa dari seluruh lapisan masyarakat.
Kemeriahan kirab ini tercermin dari banyaknya peserta yang ikut serta. Sebanyak 13 Bergada (pasukan tradisional) dari berbagai padukuhan dan Perwakilan tampil memukau. Mulai dari Padukuhan Pilangrejo, Dungsuru, hingga Kaligede, masing-masing membawa ciri khas dan semangat gotong royongnya sendiri.
Tidak hanya para sesepuh, generasi muda pun turut ambil bagian. Siswa-siswi dari SMK 1 Nglipar, MTs Gunungkidul, serta berbagai Sekolah Dasar seperti SD Negeri Pilangrejo, SD Segerung, dan SD Gentungan 3, ikut berbaris dalam barisan bergada. Bahkan, ibu-ibu PKK Kalurahan Pilangrejo tidak mau ketinggalan untuk turut menyemarakkan iring-iringan budaya ini.
Hadir secara langsung untuk membuka acara, Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, memberikan apresiasi yang mendalam bagi warga Pilangrejo. Menurutnya, acara ini bukan sekadar rutinitas tahunan atau tontonan semata, melainkan wujud syukur kepada Tuhan atas hasil panen dan berkah kehidupan, sekaligus sarana menjaga keluhuran budaya Jawa.
Dalam sambutannya, Bupati mengutip pesan Bung Karno tentang jiwa gotong royong sebagai kepribadian bangsa yang menjadi kenyataan hidup di desa-desa, “Dawuh Bung Karno meniko nedahaken bilih kekiatan bangsa wonten ing kerukunan lan gotongroyongipun warga desa,” ujarnya menekankan pentingnya kerukunan warga.
Satu hal yang menarik perhatian adalah penyebutan sesanti atau motto Kalurahan Pilangrejo, yakni “Ora mbeki ning rampungi”. Filosofi ini memiliki makna mendalam: bekerja dalam diam (tanpa kegaduhan), namun memberikan hasil nyata bagi kesejahteraan masyarakat. Semangat inilah yang diharapkan terus menjiwai warga Pilangrejo dalam membangun desanya.
Sebelum resmi membuka kirab, Bupati memanjatkan doa agar seluruh warga senantiasa diberikan kesehatan, rejeki yang melimpah, serta kehidupan yang ayom-ayem, toto titi tentrem. Bupati berharap Pilangrejo menjadi wilayah yang gemah ripah loh jinawi, jauh dari segala rintangan dan marabahaya.
Dengan ketukan simbolis dan doa restu, Kirab Budaya Bersih Desa Pilangrejo 2026 resmi dimulai. Acara ini diharapkan tidak hanya menjadi sarana hiburan (tontonan), tetapi juga menjadi tuntunan bagi masyarakat dalam melestarikan nilai-nilai luhur di tengah arus modernisasi.


