Beranda / Ekonomi dan Bisnis / Harga Minyak Naik Lagi karena Harapan Damai AS-Iran Meredup

Harga Minyak Naik Lagi karena Harapan Damai AS-Iran Meredup

 

Jakarta,REDAKSI17.COM – Harga minyak mentah dunia naik pada Selasa (18/8/2026) setelah peluang tercapainya kesepakatan untuk mengakhiri perang di Timur Tengah semakin meredup. Sikap Iran yang berencana mengambil posisi militer lebih ofensif serta keputusan Amerika Serikat (AS) yang tidak akan memperpanjang gencatan senjata meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan energi global.

Seorang pejabat senior Iran mengatakan kepada Reuters bahwa Iran akan beralih ke posisi militer yang “sepenuhnya ofensif” setelah upaya mencapai kesepakatan permanen untuk mengakhiri perang menemui jalan buntu. Pada saat yang sama, AS menyatakan tidak akan memperpanjang kesepakatan gencatan senjata sementara.

Kondisi tersebut kembali meningkatkan risiko gangguan pasokan minyak dunia, terutama karena perkembangan pembicaraan damai dan pemulihan lalu lintas kapal tanker minyak melalui Selat Hormuz masih terhambat.

Pada pukul 11.08 WIB, harga minyak Brent naik 62 sen atau 0,7% menjadi US$ 91,49 per barel. Harga Brent sebelumnya juga menguat pada Senin (17/8/2026) dan mencapai level tertinggi sejak 30 Juli 2026.

Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik 75 sen menjadi US$ 85,25 per barel. Harga WTI sempat menguat lebih dari 1% ke US$ 85,37 per barel, level tertinggi sejak 31 Juli 2026.

Analis Pasar Utama KCM, Tim Waterer, mengatakan ketegangan hubungan AS dan Iran menjadi salah satu faktor utama yang mendorong kenaikan harga minyak pada awal pekan.

“Harga minyak melonjak mengawali pekan karena hubungan AS-Iran terlihat semakin tidak stabil,” kata Waterer.

Menurut dia, kesepakatan untuk membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz belum menunjukkan tanda-tanda akan tercapai. Sementara itu, jumlah kapal yang melintas masih sangat terbatas.

Selat Hormuz merupakan jalur strategis bagi perdagangan energi dunia. Gangguan terhadap jalur tersebut berpotensi meningkatkan kekhawatiran pasar mengenai pasokan minyak dan mendorong kenaikan harga.

Kepala Riset Energi DBS Bank, Suvro Sarkar, menilai ketidakpastian mengenai kesepakatan damai dapat terus memengaruhi ekspektasi harga minyak hingga kuartal IV 2026 dan bahkan 2027.

Selama ketidakpastian terkait kesepakatan masih berlangsung, Sarkar memperkirakan harga minyak akan bergerak dalam kisaran US$ 80 hingga US$ 100 per barel dalam jangka pendek.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *