Washington,REDAKSI17.COM – Perang Amerika Serikat melawan Iran ternyata membawa kerugian besar bagi salah satu aset udara paling mahal Washington. Sekitar 45 drone MQ-9 Reaper dilaporkan hancur selama konflik, jumlah yang setara dengan seperempat armada Reaper Amerika Serikat sebelum perang.
Laporan The Washington Post menyebut AS memiliki sekitar 185 unit MQ-9 Reaper sebelum pertempuran berlangsung. Dengan 45 unit dilaporkan telah hilang, sekitar 25 persen dari armada tersebut kini tidak lagi tersedia.
Kerugian itu sekaligus memperlihatkan tantangan yang dihadapi militer AS ketika mengoperasikan drone secara intensif di sekitar wilayah Iran dan Selat Hormuz.
Pertahanan Udara Iran Jadi Ancaman Utama
MQ-9 Reaper merupakan drone tempur dan pengintai buatan General Atomics yang dirancang untuk menjalankan misi pengawasan serta serangan presisi.
Pesawat tanpa awak ini mampu bertahan di udara hingga sekitar 24 jam dan terbang pada ketinggian sekitar 13.000 meter. Reaper juga dapat membawa rudal AGM-114 Hellfire serta bom berpemandu Mark 82.
Namun, keunggulan tersebut tidak membuatnya kebal terhadap pertahanan udara.
Dengan kecepatan relatif rendah dan kemampuan terbang pada ketinggian yang masih dapat dijangkau sejumlah sistem pertahanan udara, Reaper menjadi sasaran yang cukup rentan ketika beroperasi dalam lingkungan udara yang dipertahankan secara ketat.
Sebagian drone bahkan dilaporkan hancur bukan ketika menjalankan misi di udara, melainkan saat berada di pangkalan militer AS yang terkena serangan Iran.
Intensitas penggunaan MQ-9 di sekitar Iran dan Selat Hormuz disebut menjadi salah satu penyebab utama tingginya tingkat kehilangan tersebut.
Kerugian Tembus Rp20 Triliun
Kehilangan puluhan Reaper juga menjadi persoalan serius dari sisi biaya.
Satu sistem MQ-9 Reaper dapat bernilai hingga sekitar 30 juta dolar AS. Jika 45 unit yang dilaporkan hancur dihitung dengan nilai tersebut, total kerugiannya dapat mencapai 1,35 miliar dolar AS, atau sekitar Rp20 triliun dengan kurs Rp15.000 per dolar AS.
Persoalannya bukan hanya mengganti drone yang hancur. Produksi Reaper membutuhkan waktu dan sumber daya, sementara militer AS juga harus menyediakan drone untuk berbagai operasi lainnya di sejumlah wilayah.
Karena kebutuhan mendesak, Washington dilaporkan mulai membeli Reaper yang masih tersedia dalam stok General Atomics untuk menggantikan sebagian kerugian di medan perang.
Perang Murah Iran vs Aset Mahal AS
Kerugian Reaper juga menyoroti persoalan lain: ketimpangan biaya antara senjata yang digunakan Iran dan aset yang dihancurkannya.
Iran diketahui menggunakan rudal pertahanan udara 358 yang diperkirakan bernilai sekitar 20.000 hingga 90.000 dolar AS per unit.
Secara teoritis, bahkan jika 100 rudal digunakan untuk menjatuhkan satu MQ-9, total biaya yang dikeluarkan hanya sekitar 2 juta hingga 9 juta dolar AS.
Sebaliknya, satu Reaper saja dapat bernilai puluhan juta dolar.
Perbandingan tersebut menunjukkan bagaimana strategi pertahanan berbiaya relatif rendah dapat memberikan tekanan ekonomi besar terhadap lawan yang mengandalkan sistem persenjataan berharga sangat mahal.
Tekanan terhadap Persediaan Senjata AS
Kehilangan Reaper terjadi ketika Amerika Serikat juga menghadapi tekanan terhadap persediaan amunisi dan rudal pencegat akibat perang yang berlangsung berkepanjangan.
Pentagon membantah laporan bahwa persediaan rudal pencegat AS telah berada pada tingkat kritis. Menteri Pertahanan Pete Hegseth juga membantah klaim bahwa para komandan militer telah memperingatkan mengenai menipisnya stok tersebut.
Namun, di tengah meningkatnya kebutuhan perang, Pentagon tetap mendorong perusahaan pertahanan untuk mempercepat produksi sejumlah sistem senjata penting.
Washington juga mulai mencari drone yang lebih murah dan dapat dikerahkan dalam jumlah jauh lebih besar.
Langkah tersebut mencerminkan perubahan kebutuhan di medan perang modern: bukan hanya mencari drone yang mampu terbang lama, membawa senjata berat, dan menjalankan misi kompleks, tetapi juga mencari platform yang cukup murah untuk bisa dikorbankan dalam jumlah besar.
Pertanyaannya kini adalah apakah drone-drone murah tersebut mampu menggantikan kemampuan MQ-9 Reaper.
Sebab, kehilangan 45 Reaper bukan sekadar kehilangan puluhan pesawat tanpa awak. Kerugian itu menjadi gambaran betapa mahalnya perang ketika aset bernilai puluhan juta dolar harus berhadapan dengan sistem pertahanan yang jauh lebih murah.(*)




