Jakarta,REDAKSI17.COM – Harga minyak dunia menguat pada perdagangan Kamis (20/8/2026) setelah Amerika Serikat (AS) meningkatkan tekanan terhadap Iran melalui ancaman sanksi ekonomi yang lebih keras. Pasar kembali mencermati risiko gangguan pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan Washington akan menerapkan sanksi yang disebutnya sebagai yang terberat dalam sejarah terhadap Iran. Kebijakan tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintah Presiden Donald Trump untuk memberikan tekanan ekonomi terhadap Teheran.
“Kita telah melakukan blokade dan kita akan menerapkan sanksi terberat dalam sejarah,” kata Bessent dikutip dari CNBC, Jumat (21/8/2026).
Menurut Bessent, tekanan ekonomi tersebut diyakini mampu memberikan dampak besar terhadap Iran. Ia bahkan menyebut kebijakan serupa pernah diterapkan terhadap Venezuela dan Kuba.
“Kita akan meruntuhkan rezim ini,” ujarnya.
Respons pasar terlihat dari kenaikan harga minyak. Kontrak berjangka Brent, yang menjadi patokan harga minyak internasional, naik 2,4% dan ditutup pada US$ 93,78 per barel.
Sementara itu, kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Oktober menguat 2,7% menjadi US$ 86,64 per barel.
Kenaikan harga minyak bahkan sempat menembus lebih dari 3% pada awal perdagangan setelah Trump melontarkan ancaman terhadap Iran melalui unggahan di media sosial.
Trump menyatakan negara mana pun yang tetap melakukan aktivitas bisnis dengan Iran akan menghadapi konsekuensi ekonomi. Ia juga menggambarkan kebijakan tersebut sebagai operasi ekonomi yang sangat besar terhadap Iran.
Namun, Bessent berupaya meredam kekhawatiran pasar mengenai kemungkinan eskalasi militer. Ia mengatakan peningkatan tekanan ekonomi justru mengurangi kemungkinan AS kembali menjalankan operasi tempur skala besar.
“Saya tidak yakin mengapa harga minyak tiba-tiba naik,” kata Bessent.
Menurut dia, penerapan tekanan ekonomi secara maksimal kemungkinan akan mengurangi peluang terjadinya pemulihan aktivitas ekonomi berskala besar.
Meski demikian, pasar tetap memperhitungkan risiko geopolitik terhadap pasokan energi. Ketidakpastian hubungan AS dan Iran dapat meningkatkan kekhawatiran terhadap kelancaran distribusi minyak dari kawasan Timur Tengah.
Tekanan terhadap Iran juga meningkat setelah Uni Emirat Arab (UEA) mengumumkan penghentian seluruh perdagangan dan transaksi keuangan dengan Iran. Keputusan tersebut diambil setelah UEA menyatakan mendapat serangan dari Iran.
UEA mengatakan dua rudal balistik telah diluncurkan dari Iran menuju wilayahnya. Namun, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei membantah tuduhan tersebut.
Perkembangan tersebut semakin memperumit situasi geopolitik di kawasan dan memperkecil peluang tercapainya kesepakatan gencatan senjata baru.
Bagi pasar minyak, perkembangan selanjutnya akan sangat bergantung pada apakah tekanan ekonomi AS terhadap Iran berkembang menjadi gangguan nyata terhadap produksi maupun ekspor minyak.
Jika ketegangan meningkat dan pasokan terganggu, harga minyak berpotensi mendapatkan tekanan kenaikan lebih lanjut. Sebaliknya, jika tekanan ekonomi tidak berujung pada gangguan pasokan fisik, kenaikan harga minyak berpeluang kembali mereda.





