Beranda / Nasional Dan Internasional / Prabowo Siapkan Ambulans Udara, Dokter Soroti Risiko bagi Pasien

Prabowo Siapkan Ambulans Udara, Dokter Soroti Risiko bagi Pasien

Rencana Presiden Prabowo Subianto menghadirkan ambulans udara dan tim dokter terbang (flying doctor) untuk menjangkau masyarakat di daerah terpencil dinilai membutuhkan persiapan matang. Hal itu dinilai penting untuk meminimalisasi risiko bagi pasien. (Beritasatu.com/AI)

 

Jakarta,REDAKSI17.COM – Rencana Presiden Prabowo Subianto menghadirkan ambulans udara dan tim dokter terbang (flying doctor) untuk menjangkau masyarakat di daerah terpencil dinilai membutuhkan persiapan matang. Hal itu dinilai penting untuk meminimalisasi risiko bagi pasien.

Aviation Medicine Specialist Universitas Tarumanegara, Vika Cokronegoro, mengatakan layanan flying doctor bukan sekadar menerbangkan pasien dari satu wilayah ke rumah sakit. Menurutnya, program tersebut membutuhkan kesiapan tim medis, peralatan darurat, rumah sakit rujukan, hingga sistem transportasi darat dan laut yang terintegrasi.

Flying doctor merujuk kepada tim medis yang mendampingi pasien selama perjalanan hingga pasien tiba di RS tujuan,” kata Vika kepada wartawan, Jumat (21/8/2026).

Vika menjelaskan, kondisi pasien harus menjadi pertimbangan utama sebelum dilakukan evakuasi melalui jalur udara. Penerbangan memiliki sejumlah risiko medis, antara lain kadar oksigen kabin yang lebih rendah, tekanan udara (hypobaric), serta gaya gravitasi (g force).

Kondisi tersebut dapat menjadi risiko bagi pasien dengan anemia, gangguan jantung dan paru-paru, maupun pasien yang mengalami perdarahan. Terkait hal itu, pasien yang belum mendapatkan penanganan definitif harus terlebih dahulu distabilisasi sebelum diterbangkan.

Sementara itu, bagi pasien yang membutuhkan tindakan segera, pendekatan scoop and run dapat digunakan untuk mempercepat proses evakuasi menuju rumah sakit yang memiliki fasilitas lengkap.

Menurut Vika, ambulans udara dapat menggunakan berbagai jenis armada, mulai dari jet, pesawat propeller, seaplane, hingga helikopter. Pemilihan armada harus disesuaikan dengan kondisi pasien, karakteristik geografis wilayah, serta fasilitas landasan yang tersedia di daerah tujuan.

Dari berbagai pilihan tersebut, helikopter dinilai memiliki fleksibilitas lebih tinggi untuk menjangkau wilayah dengan keterbatasan infrastruktur. “Helikopter, paling fleksibel, bisa landing di lapangan terbuka yang di sekitarnya tidak ada obstacle,” ujarnya.

Vika menilai pemerintah perlu terlebih dahulu melakukan inventarisasi terhadap armada, fasilitas kesehatan, tenaga medis, serta peralatan yang dimiliki pemerintah maupun pihak swasta. Langkah tersebut penting agar program ambulans udara memiliki dukungan sumber daya yang memadai ketika mulai dioperasikan.

Selain ketersediaan armada dan tenaga medis, lokasi pangkalan ambulans udara juga menjadi faktor penting. Vika mengatakan pangkalan ambulans udara idealnya terintegrasi dengan rumah sakit yang memiliki fasilitas lifesaving lengkap.

Dengan demikian, pasien dapat langsung mendapatkan penanganan definitif setelah tiba di rumah sakit dan tidak perlu kembali menjalani proses rujukan ke fasilitas kesehatan lain. “Base air ambulance harus berbarengan dengan RS yang fasilitas lifesaving-nya lengkap,” tegasnya.

Tantangan lain adalah memastikan konektivitas transportasi setelah pasien dievakuasi melalui udara. Menurut Vika, integrasi transportasi darat, laut, dan udara sangat penting, terutama untuk menjangkau masyarakat di wilayah pegunungan dan pulau-pulau terluar.

Sistem tersebut diperlukan agar pasien tidak berhenti pada satu lokasi evakuasi, tetapi dapat segera mendapatkan layanan kesehatan hingga tiba di rumah sakit rujukan. “Operasional ini sangat kompleks, perlu sinergi operator penerbangan, tenaga medis, regulasi perhubungan dan kesehatan,” pungkasnya.

Sebelumnya, Prabowo mengungkapkan pemerintah tengah menyiapkan program ambulans udara menggunakan helikopter dan pesawat kecil yang mampu mendarat di medan sulit.

“Kita juga akan membuat ambulans udara dengan helikopter dan dengan pesawat kecil yang bisa mendarat di lapangan-lapangan rumput, di lapangan-lapangan pasir, bisa mendarat di pinggir sungai,” kata Prabowo dalam Sidang Bersama DPR-DPD, Jumat (14/8/2026).

Prabowo mengatakan program tersebut dibutuhkan karena masih banyak masyarakat, termasuk ibu hamil, yang harus menempuh perjalanan berjam-jam untuk mendapatkan layanan kesehatan.

Selain ambulans udara, pemerintah juga menyiapkan konsep tim dokter terbang yang dapat diterjunkan langsung ke lokasi warga yang mengalami kondisi sakit berat maupun wilayah yang terdampak bencana.

Program tersebut diharapkan dapat mempercepat akses masyarakat di daerah terpencil terhadap layanan kesehatan, terutama ketika jarak dan kondisi geografis menjadi hambatan utama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *