Yogyakarta,REDAKSI17.COM— Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, menekankan pentingnya pameran-pameran kopi di Yogyakarta, salah satunya Jogja Coffee Week (JCW), tidak hanya menjadi ajang memperkenalkan bahan baku, tetapi juga ruang untuk mengembangkan produk kopi bernilai tambah. Hal tersebut disampaikan Sri Sultan saat menerima kunjungan jajaran panitia Jogja Coffee Week 2026 di Gedhong Wilis, Kompleks Kepatihan, Yogyakarta, Senin (24/08).
“Ngarsa Dalem berharap untuk pameran kopi itu jangan hanya menjual green bean, bukan raw material saja, tapi juga lebih kepada nilai, value, added value,” ungkap Ketua Organizing Committee JCW #6, Rahadi Saptata Abra, saat ditemui usai pertemuan.
Rahadi menyatakan, JCW menyambut positif masukan dan arahan yang diberikan Sri Sultan. Arahan tersebut juga dinilai sejalan dengan salah satu program yang dihadirkan JCW di 2026, yakni Indonesia Coffee Business Summit (ICBS).
“Dan itu akan kami wadahi di dalam program Indonesia Coffee Business Summit nanti, artinya nanti kita lebih banyak berbicara tentang hilirisasi kopi, bukan hanya menjual raw material, ada added value, ada yang diblending, ada yang dikemas. Kemudian juga kita mungkin jual blended kopi-kopi yang sudah siap dikonsumsi untuk di luar,” jelasnya.
JCW juga menunjukkan komitmennya dalam merangkul para petani kopi untuk turut mendapatkan panggung yang setara melalui Green Bean Competition, pertandingan yang menilai kualitas kopi biji mentah yang berasal dan diproses langsung oleh petani serta prosesor kopi. Tahun ini, para pemenang Green Bean Competition direncanakan akan menerima Piala Raja yang nantinya diserahkan langsung oleh Sri Sultan.
Melalui Piala Raja tersebut, Sri Sultan berharap animo masyarakat dan peserta terhadap JCW 2026 dapat semakin tinggi. Tak hanya itu, kompetisi ini juga dinilai dapat menjadi kesempatan bagi para petani untuk meningkatkan kualitas sekaligus nilai jual kopi. Sebab, kopi yang memenuhi kriteria dengan skor di atas 8,5 akan diikutsertakan dalam lelang, sehingga berpeluang memperoleh nilai tambah dan harga jual yang lebih tinggi.
“Nah itu otomatis yang terlelang itu biasanya harganya bisa terkoreksi mas. Seperti tahun lalu, juaranya kita tahun lalu yang di arabica itu yang harganya biasanya x, kemarin bisa 3x lipat. Nah itu yang menurut Ngarsa Dalem juga cukup wah ini bagus gitu kira-kira gitu,” ujar Rahadi.
Rahadi berharap, JCW dapat menjadikan Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai barometer penyelenggaraan event kopi nasional maupun internasional. “Sehingga akan semakin meningkatkan ekosistem dan industri kopi khususnya di Yogyakarta maupun di Indonesia. Dan kami berharap acaranya juga menunjang para wisata Yogyakarta,” tegasnya.
Jogja Coffee Week 2026 akan digelar pada Jumat (04/09) hingga Minggu (06/09) di Hall B-C Jogja Expo Center. Gelaran ini akan menghadirkan 191 booth, serta diramaikan peserta dan exhibitor dari Jepang, Australia, hingga perwakilan ASEAN Coffee Federation.
Humas Pemda DIY





