Mengacu data Bursa Efek Indonesia (BEI) pukul 09.00 WIB, IHSG berada di level 6.507,14, naik 5,47 poin atau 0,08% dibandingkan penutupan sebelumnya di posisi 6.501,67.
IHSG sempat mencapai level tertinggi 6.509 sesaat setelah pembukaan. Namun, hanya dalam empat menit perdagangan, indeks berbalik melemah hingga 1,05% dan menyentuh level 6.429,57.
Tekanan jual terlihat dari mayoritas saham yang bergerak di zona merah. Sebanyak 124 saham tercatat menguat, sementara 388 saham melemah dan 187 saham lainnya bergerak stagnan.
Di tengah volatilitas tersebut, aktivitas transaksi pasar saham cukup ramai. Nilai transaksi pada awal perdagangan mencapai Rp1,37 triliun dengan volume 3,02 miliar saham. Sementara itu, frekuensi transaksi tercatat sekitar 230.000 kali.
Berdasarkan riset BRI Danareksa Sekuritas pada Rabu (26/8/2026), IHSG diperkirakan bergerak mixed to positive pada perdagangan hari ini, Rabu (26/8/2026), setelah pada sesi sebelumnya ditutup melemah akibat aksi ambil untung (profit taking).
Gerak indeks pada perdagangan sebelumnya turun 0,37 persen ke level 6.501,67. Pelemahan tersebut dipengaruhi aksi profit taking setelah indeks menguat pada perdagangan sebelumnya.
Sejumlah saham berkapitalisasi besar turut menjadi pemberat pergerakan indeks, di antaranya PT Bayan Resources Tbk (BYAN), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA).
Selain pergerakan saham, investor juga mencermati sejumlah agenda ekonomi domestik, termasuk perkembangan Neraca Pembayaran Indonesia (NPI), data uang beredar Juli, serta hasil kajian FTSE Russell yang dijadwalkan mulai berlaku pada September mendatang.
Secara teknikal, BRI Danareksa Sekuritas menilai tren bullish IHSG masih terjaga selama indeks mampu bertahan di atas level support 6.455. Jika level tersebut dapat dipertahankan, IHSG berpeluang menguji resistance di 6.568.
“Tren bullish masih terjaga selama IHSG bertahan di atas 6.455, dengan peluang menguji 6.568,” tulis BRI Danareksa Sekuritas dalam risetnya.
Adapun area support IHSG berada pada rentang 6.455–6.400. Sementara itu, Moving Average (MA) 20 berada di level 6.328 dan menjadi area support berikutnya apabila indeks mengalami tekanan lebih lanjut.
Dari pasar global, sentimen eksternal cenderung memberikan dukungan terhadap pasar saham. Bursa Wall Street ditutup menguat pada perdagangan sebelumnya. Dow Jones Industrial Average naik 0,30 persen ke level 53.577,40. S&P 500 menguat 0,32 persen menjadi 7.677,28, sedangkan Nasdaq Composite naik 0,66 persen ke 26.151,30.
Investor global selanjutnya akan mencermati sejumlah data ekonomi Amerika Serikat, termasuk inflasi Core Personal Consumption Expenditures (Core PCE) yang diperkirakan tumbuh 0,2 persen secara bulanan, pertumbuhan ekonomi kuartal II sebesar 1,5 persen, Personal Income 0,3 persen, Personal Spending 0,2 persen, serta Durable Goods Orders sebesar 0,7 persen.
Selain data ekonomi, perhatian pasar juga tertuju pada pidato pejabat Federal Reserve dalam agenda Jackson Hole. Pernyataan dari bank sentral AS tersebut akan menjadi salah satu indikator bagi investor dalam membaca arah kebijakan moneter selanjutnya.
Sementara itu, harga minyak turun sekitar 3 persen menjadi US$82,5 per barel. Penurunan tersebut terjadi seiring meredanya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Bagi pasar, pelemahan harga minyak berpotensi menjadi katalis positif karena dapat mengurangi tekanan terhadap inflasi global.
Dengan kombinasi sentimen eksternal yang relatif positif dan kondisi teknikal yang masih berada dalam tren bullish, pergerakan IHSG pada perdagangan hari ini akan sangat dipengaruhi kemampuan indeks mempertahankan level support serta respons investor terhadap data ekonomi AS dan perkembangan kebijakan The Fed.





