Berdasarkan laporan keuangan perseroan semester I-2026 yang dipublikasikan di media, Senin (31/8/2026), pendapatan bunga BRI mencapai Rp107,92 triliun hingga akhir Juni 2026. Nilai tersebut meningkat 5,41% dibandingkan semester I-2025.
Di tengah pertumbuhan pendapatan bunga, BRI justru mampu menurunkan beban bunga sebesar 5,87% yoy menjadi Rp27,39 triliun. Alhasil, pendapatan bunga bersih dan pendapatan jasa asuransi meningkat 10,13% secara tahunan menjadi Rp81,18 triliun.
Dari sisi penyaluran kredit, BRI juga mencatat ekspansi yang cukup kuat. Secara konsolidasi, total kredit dan pembiayaan mencapai Rp1.646 triliun, tumbuh 16,2% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Segmen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) masih menjadi motor utama penyaluran kredit BRI. Porsi kredit UMKM mencapai 75,1% dari total kredit, dengan nilai penyaluran tumbuh 8,6% secara tahunan.
Pertumbuhan kredit tersebut dibarengi dengan perbaikan kualitas aset. Rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) gross turun menjadi 3,15%, sementara NPL net tercatat sebesar 1,04%.
Perkembangan ini menunjukkan ekspansi kredit BRI tetap berjalan dengan kualitas aset yang relatif terjaga, meskipun perseroan terus memperluas penyaluran pembiayaan.
Dari sisi pendanaan, BRI berhasil menghimpun dana pihak ketiga (DPK) sebesar Rp1.581 triliun hingga semester I-2026. Jumlah tersebut tumbuh 6,7% secara tahunan.
Komposisi dana murah juga semakin kuat. Porsi current account savings account (CASA) mencapai 67,6%, dengan nilai tumbuh 10,1% yoy.
Peningkatan CASA menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga struktur biaya dana perseroan. Dengan porsi dana murah yang lebih besar, BRI memiliki ruang untuk mengelola biaya pendanaan di tengah dinamika suku bunga.
Dari sisi neraca, total aset BRI mencapai Rp2.352 triliun pada semester I-2026, meningkat 11,57% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.





