“Sama sekali nggak ada itu. Pak Jokowi hanya menitipkan agar kami lebih cepat lagi di dalam menuntaskan masalah penyelesaian struktur sampai tingkat paling bawah yang nanti akan diverifikasi Komisi Pemilihan Umum (KPU),” jelas Bestari, dikutip Selasa (1/9/2026).
Dengan demikian, menurut partai itu, pertemuan tersebut lebih banyak membicarakan pekerjaan internal partai ketimbang wacana politik mengenai pasangan calon pada masa mendatang.
Pesan Jokowi yang diterima pihaknya justru berkaitan dengan kesiapan organisasi menghadapi Pemilu 2029. Bestari menjelaskan bahwa struktur kepengurusan partainya perlu segera diselesaikan hingga tingkat paling bawah.
“Tentu dibutuhkan peran seluruh lapisan jajaran kepengurusan ini untuk bisa sukses administrasi faktual,” terangnya.
Bagi Bestari, instruksi tersebut menjadi pekerjaan yang lebih konkret dibandingkan mengikuti berbagai wacana politik yang berkembang di ruang publik. Partai itu perlu memastikan struktur organisasinya siap hingga lapisan terbawah.
Isu Gibran-Dedi Mulyadi sendiri mencuat bersamaan dengan beredarnya sejumlah video dari kegiatan konsolidasi. Kemunculan nama kedua tokoh tersebut kemudian menimbulkan spekulasi mengenai kemungkinan peta politik menuju Pemilu 2029.
Misalnya Farhat Abbas baru-baru ini viral dalam media sosial menyusul videonya ketika berbicara di hadapan Jokowi. Dalam video tersebut, ia terlihat mengenakan pakaian berwarna merah dan berbicara menggunakan pelantang suara.
Pada awalnya, ia menyampaikan ucapan terima kasih kepada pihak-pihak yang hadir. Namun, sebagian perkataannya tidak terdengar dengan jelas. Hingga kemudian ia menyebut dua nama yang langsung memunculkan spekulasi baru mengenai kemungkinan duet politik.
“Perasaan saya Mas Gibran dan Kang Dedi Mulyadi,” kata Farhat Abbas.





