Beranda / Sejarah / Taufik Kiemas Duduk Satu Meja dengan Pak Harto: Kesan “Angker” Mencair, Tinggal Sosok Hangat yang Bicara tentang NKRI

Taufik Kiemas Duduk Satu Meja dengan Pak Harto: Kesan “Angker” Mencair, Tinggal Sosok Hangat yang Bicara tentang NKRI

Ada satu pertemuan yang meninggalkan kesan kuat bagi Taufik Kiemas ketika ia beberapa kali berjumpa dengan Soeharto. Salah satunya terjadi dalam acara pernikahan putri Siti Hardiyanti Rukmana. Tak disangka, Tutut justru mengajaknya duduk satu meja dengan Pak Harto. “Mari Mas, makan sama Bapak!” kata Tutut sambil mengantarnya ke meja sang mantan presiden.
Bagi Taufik, momen itu sempat membuatnya kikuk. Maklum, sebelum bertemu langsung, ia mengaku memiliki kesan bahwa Pak Harto adalah sosok yang “angker”. Namun, kesan itu ternyata hanya bertahan sampai percakapan dimulai.
Begitu duduk dan berbincang, suasana berubah total. Sosok yang sebelumnya terasa berjarak justru tampil hangat, ramah, terbuka, dan menghargai lawan bicara. “Ternyata beliau orang biasa juga,” kenang Taufik. Obrolan mereka pun jauh dari kesan formal dan penuh protokoler. Mereka berbicara santai tentang kesehatan dan keluarga.
Yang menarik, Taufik sama sekali tidak mendengar keluhan Pak Harto mengenai tekanan yang mungkin dirasakannya setelah meninggalkan kekuasaan. Justru yang tertangkap olehnya adalah karakter seorang yang tough—tegar dan tidak gampang mengeluh.
Bagi Taufik, ada kesan sederhana tetapi kuat: jika persoalan yang rumit bisa dibicarakan langsung dengan Pak Harto, masalah itu mungkin terasa jauh lebih mudah untuk dicari jalan keluarnya.
Pertemuan itu juga memiliki benang merah sejarah yang menarik. Ayah Taufik, H. Tjik Agus Kiemas, merupakan teman sealmamater Pak Harto ketika mengikuti Pendidikan PETA di Bogor pada masa pendudukan Jepang. Tjik Agus yang beberapa tahun lebih tua dari Pak Harto kemudian bertugas di Markas Besar Tentara Republik Indonesia di Yogyakarta pada masa perang kemerdekaan, sebelum kembali ke kehidupan sipil sebagai pegawai tinggi Kementerian Perdagangan.
Karena latar belakang itulah, sapaan Pak Harto kepada Taufik, “Mas Taufik”, terasa begitu personal dan kekeluargaan. Namun percakapan santai itu akhirnya menyentuh satu tema yang jauh lebih besar: Indonesia. Di penghujung pertemuan, Pak Harto melontarkan pujian serta menitipkan salam untuk Megawati.
“Terima kasih ya, Ibu Mega telah berjuang mempertahankan NKRI dan Pancasila. Sampaikan salam saya untuk Ibu Mega.”
Bagi Taufik, kalimat itu bukan sekadar basa-basi seorang mantan presiden. Ada pesan kebangsaan yang terasa kuat di baliknya. Ia mengenang, bahkan setelah tidak lagi berada di pusat kekuasaan, perhatian Pak Harto tetap tertuju pada persatuan bangsa dan keutuhan NKRI.
Percakapan tersebut, menurut Taufik, ikut mendorong langkahnya menjadi Ketua MPR RI. Dari posisi itu, ia kemudian menggagas sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan: Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika.
Sebuah fakta sejarah yang menarik: dua tokoh yang datang dari latar politik berbeda justru bertemu dalam satu titik yang sama—Indonesia.
Dan dari meja makan yang awalnya terasa canggung itu, Taufik Kiemas pulang membawa kesan baru tentang Pak Harto: di balik sosok yang tampak “angker”, ternyata ada pribadi hangat yang ketika berbicara, tetap memikirkan satu hal—persatuan dan masa depan negeri.
Semoga terang alam kubur bagi keduanya: Pak Harto dan Pak Taufik Kiemas. Aamiin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *