Beranda / Ekonomi dan Bisnis / IHSG Dibuka Sempat Menguat 0,40%, Tembus 6.626 di Tengah Gejolak Global

IHSG Dibuka Sempat Menguat 0,40%, Tembus 6.626 di Tengah Gejolak Global

Jakarta,REDAKSI17.COMIndeks Harga Saham Gabungan (IHSG) membuka perdagangan Rabu (2/9/2026) di zona hijau. Penguatan terjadi ketika pasar masih menghadapi sentimen eksternal yang ada di Amerika Serikat (AS) hingga lonjakan harga minyak dunia.Mengacu data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG pada pukul 09.00 WIB berada di level 6.626,61. Angka tersebut naik 26,67 poin atau 0,40% dibandingkan posisi penutupan perdagangan sebelumnya di level 6.599,94.

Penguatan IHSG turut tercermin dari pergerakan mayoritas saham. Sebanyak 278 saham tercatat menguat, sementara 90 saham melemah dan 595 saham lainnya belum bergerak dari posisi sebelumnya.

Pada awal perdagangan, nilai transaksi saham mencapai Rp412,4 miliar. Adapun volume transaksi tercatat sebanyak 632,4 juta saham dengan frekuensi perdagangan mencapai 56.270 kali.

Berdasarkan riset Phintraco Sekuritas, investor diminta untuk mewaspadai dampak kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah global terhadap pasar saham Indonesia. Sentimen tersebut berpotensi meningkatkan tekanan terhadap IHSG pada perdagangan Rabu (2/9/2026).

Phintraco Sekuritas menyebut bursa saham Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada perdagangan Selasa (1/9/2026).

“Koreksi tersebut terjadi seiring kenaikan harga minyak dan imbal hasil obligasi pemerintah AS yang memicu kekhawatiran terhadap inflasi serta arah suku bunga,” kata Phintraco Sekuritas.

Imbal hasil US Treasury 10 tahun naik lebih dari 3 basis poin menjadi 4,792%. Kenaikan yield obligasi global menjadi perhatian karena dapat memengaruhi arus modal dan sentimen investor di pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Dari AS, data Job Openings Juli 2026 tercatat 7,27 juta, meningkat dari 7,18 juta pada Juni. Namun, angka tersebut masih di bawah ekspektasi pasar sebesar 7,33 juta.

Sementara dari dalam negeri, inflasi Indonesia meningkat menjadi 3,19% secara tahunan pada Agustus 2026, dari 2,88% pada Juli. Di sisi lain, neraca perdagangan Indonesia pada Juli 2026 masih mencatat surplus US$0,13 miliar.

Aktivitas manufaktur domestik menjadi salah satu perhatian. Indeks PMI manufaktur Indonesia turun ke level 49,8 pada Agustus 2026, kembali berada di bawah level 50 yang memisahkan fase ekspansi dan kontraksi.

Selain yield obligasi, pergerakan harga komoditas juga menjadi sentimen penting. Harga minyak dunia melonjak hampir 5% pada perdagangan Selasa, sedangkan harga emas spot terkoreksi 2,7% ke US$4.329 per troy ounce.

Dengan mempertimbangkan berbagai sentimen tersebut, Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG masih akan bergerak konsolidatif pada perdagangan Rabu (2/9/2026), dengan kisaran 6.535-6.635.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *