
KULON PROGO,REDAKSI17.COM — Perayaan 14 tahun Undang-Undang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta (UUK DIY) di Kabupaten Kulon Progo berlangsung semarak. Melalui perhelatan bertajuk “Kulon Progo Maneka Warna 2026″ yang digelar selama lima hari (4–8 September 2026) di Taman Budaya Kulon Progo (TBK) sebagai wadah gelaran Potensi Seni Budaya dan UMKM, dengan dominasi warna khas Pare Anom. (04/09/2026).
Acara ini menegaskan bahwa keistimewaan Yogyakarta tidak hanya berhenti pada pelestarian seni, tetapi juga menjadi ruang penghidupan bagi UMKM dan masyarakat luas.
Kepala UPT Taman Budaya Kulon Progo (TBK), Murdiyono, S.IP., menekankan bahwa pemajuan kebudayaan di Kulon Progo mengemban mandat ganda, yakni pelestarian dan kesejahteraan.
“Target besarnya adalah kesejahteraan. Panggung ini menjadi misi penyelamatan bagi kesenian lokal agar ruhnya kembali hidup. Di saat yang sama, kami juga menyediakan ruang bagi UMKM di pintu masuk arena. Juallah produk yang liquid , (cepat laku) gunakan stan ini untuk promosi maksimal,” ujar Murdiyono.
Ia juga memastikan akses berjualan dan fasilitas listrik tetap diberikan bagi UMKM mandiri di sekitar lokasi pameran.
Dukungan terhadap sinergi budaya dan ekonomi ini turut dibahas mendalam dalam talkshow yang disiarkan langsung melalui 93.8 FM Radio Megaswara Kulonprogo.
Paniradya Pati Kaistimewan DIY, Kurniawan, S.Sos., S.E.Akt., M.Ec.Dev., menjelaskan bahwa keistimewaan Yogyakarta lahir dari sejarah panjang merawat berdirinya NKRI. Kini, amanat UUK DIY, khususnya di bidang kebudayaan, diimplementasikan dengan spektrum yang luas.

“Kebudayaan itu adalah mesin inklusi. Dengan kebudayaan, kita punya tujuan besar untuk mengurangi kemiskinan, mengurangi pengangguran, dan menumbuhkan ekonomi rakyat,” tegas Kurniawan. Menjaga semangat Memetri (memelihara yang sudah dibangun) adalah kunci agar kebudayaan menjadi identitas yang menyejahterakan.
Kurniawan lebih lanjut memaparkan bahwa pemanfaatan Dana Keistimewaan (Danais) diarahkan untuk menciptakan ekosistem yang terintegrasi antara seni tradisi, daya tarik pariwisata, dan kebangkitan ekonomi kerakyatan. Ketika sebuah event budaya digelar, daya tarik wisata otomatis meningkat dan mendatangkan wisatawan, yang pada gilirannya langsung mendongkrak omzet para pelaku UMKM lokal.
Ia menambahkan, “Sinergi antara sektor pariwisata dan pemberdayaan UMKM berbasis kebudayaan adalah bentuk nyata kehadiran keistimewaan di tengah masyarakat. Kulon Progo memiliki letak yang sangat strategis sebagai gerbang utama DIY, sehingga eksposur bagi seniman dan produk lokal harus terus dioptimalkan melalui ruang-ruang kreatif yang berkelanjutan.”
Senada dengan hal tersebut, Bupati Kulon Progo, Dr. H. R. Agung Setyawan, S.T., M.Sc., M.M., mengajak seluruh elemen masyarakat untuk beralih dari sekadar program monumental menuju ruang-ruang yang lebih produktif. Agung menggarisbawahi bahwa Empat Pilar Keistimewaan (Kasultanan, Kadipaten, Pemerintah Daerah, dan Masyarakat) harus bersinergi. Pemanfaatan Sultan Ground (SG) dan Pakualaman Ground (PAG) di Kulon Progo menjadi salah satu bukti nyata kemanfaatan keistimewaan untuk pelayanan publik dan ekonomi warga.
“Pemerintah hadir melalui Dana Keistimewaan untuk mendorong pariwisata, mewadahi talenta muda, dan memajukan UMKM,” jelas Agung.
Agung menegaskan bahwa arah kebijakan pembangunan daerah saat ini menempatkan seni budaya dan pariwisata sebagai motor penggerak kesejahteraan masyarakat. Dengan sokongan anggaran dan fasilitas dari keistimewaan, pemerintah berupaya memastikan setiap potensi lokal, mulai dari seniman tradisi hingga produk kuliner khas memiliki panggung yang layak untuk naik kelas dan dikenal secara luas.
Lebih jauh, Ia menyampaikan, “Keistimewaan bukan sekadar status administratif, melainkan instrumen penting untuk menggerakkan roda perekonomian rakyat. Melalui pengembangan pariwisata yang berakar pada kearifan lokal serta penguatan UMKM yang terintegrasi dengan event budaya, kita ingin memastikan bahwa tetesan manfaat keistimewaan ini benar-benar dirasakan hingga ke tingkat bawah.”
Dampak langsung dari sinergi ini dirasakan oleh para pelaku usaha. Siti Nuryati, salah satu pelaku UMKM Kulon Progo yang mengisi stan pameran, menyampaikan apresiasinya. “Kami sangat berterima kasih difasilitasi dalam acara ini. Harapannya ke depan stan yang disediakan bisa lebih banyak lagi agar semakin banyak UMKM yang dapat mengenalkan produk olahan khas daerah,” ungkapnya.
Perhelatan Maneka Warno 2026 ini menjadi pembuktian nyata bahwa keistimewaan DIY adalah milik rakyat, sebuah panggung di mana seni dan tradisi terus diuri-uri, beriringan dengan periuk ekonomi masyarakat yang terus berkembang.
Kegiatan ini dihadiri oleh jajaran Kepala OPD terkait, Forkompimkap Pengasih dan masyarakat Kulon Progo.
Source: media center



