Teheran,REDAKSI17.COM – Pemerintah Iran menaikkan harga bensin atau petrol tanpa subsidi hingga dua kali lipat. Kebijakan ini mulai berlaku Selasa (8/9) di tengah tekanan ekonomi dan krisis pasokan bahan bakar akibat perang.
Harga bensin di pasar terbuka naik dari 50.000 rial menjadi 100.000 rial per liter. Jika dikonversi ke rupiah menggunakan kurs sekitar Rp0,012847 per rial, harganya masing-masing setara sekitar Rp642 dan Rp1.285 per liter.
Kenaikan tersebut tidak berlaku untuk bensin bersubsidi yang masih diberikan kepada masyarakat melalui kuota bahan bakar.
Dikutip dari Astro Awani, pemerintah Iran menyatakan masyarakat masih bisa memperoleh bensin bersubsidi untuk 110 liter pertama menggunakan kartu bahan bakar. Setelah kuota tersebut habis, harga bensin tanpa subsidi akan berlaku.
Kebijakan ini diambil ketika Iran menghadapi tekanan ekonomi berat. Pemerintah juga mengakui adanya persoalan pasokan bahan bakar yang semakin terasa dalam beberapa pekan terakhir.
Pada akhir Agustus, antrean panjang kendaraan bahkan terjadi di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar. Di Teheran, pengendara dilaporkan harus mengantre hingga tengah malam untuk mendapatkan bensin.
Pemerintah Iran memastikan harga bensin bersubsidi tidak ikut dinaikkan.
Reuters melaporkan pengendara masih mendapatkan kuota hingga 110 liter per bulan dengan harga yang tetap. Sebanyak 60 liter pertama dihargai 15.000 rial per liter, sedangkan tambahan 50 liter berikutnya dibanderol 30.000 rial per liter.
Dengan kurs sekitar Rp0,012847 per rial, harga tersebut setara masing-masing sekitar Rp193 per liter dan Rp385 per liter.
Sementara itu, konsumsi yang melebihi kuota 110 liter akan dikenakan tarif 100.000 rial atau sekitar Rp1.285 per liter.
Pemerintah menyebut kenaikan tarif untuk konsumsi berlebih diperlukan karena tingginya konsumsi dan ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan bahan bakar.
Kebijakan tersebut muncul ketika kondisi pasokan bahan bakar Iran semakin tertekan akibat perang dan sanksi ekonomi Amerika Serikat.
Meski Iran memiliki cadangan minyak dan gas yang besar, kapasitas pengolahan minyak dalam negeri terbatas. Konsumsi bensin yang tinggi juga membuat negara tersebut dalam beberapa tahun terakhir harus mengimpor bahan bakar untuk memenuhi kebutuhan domestik.
Kondisi semakin sulit setelah fasilitas pengolahan minyak dan infrastruktur energi Iran terdampak serangan dalam konflik yang berlangsung sejak akhir Februari.
Pemerintah Iran sebelumnya telah berupaya menekan konsumsi bahan bakar. Namun, kenaikan harga bensin tetap menjadi kebijakan sensitif karena masyarakat Iran selama bertahun-tahun menikmati harga energi yang sangat murah.
Kenaikan harga bensin pada 2019 bahkan memicu gelombang demonstrasi besar di Iran.
Pemerintah kini berharap kebijakan baru tersebut dapat mengendalikan konsumsi sekaligus membantu mengatasi persoalan pasokan bahan bakar yang tengah dihadapi negara itu. (*)





