Keunggulan Demokrat di kalangan pemilih independen tersebut meningkat empat poin persentase sejak kuartal pertama 2025, ketika Presiden Donald Trump kembali ke Gedung Putih untuk masa jabatan keduanya. Perubahan serupa juga terlihat di antara pemilih yang secara langsung mengidentifikasi diri dengan salah satu partai politik.
Secara nasional, 31 persen pemilih kini mengidentifikasi diri sebagai Demokrat, meningkat dari 28 persen ketika Trump mulai menjabat. Mayoritas pemilih tetap tidak mengidentifikasi diri sebagai Republikan maupun Demokrat.
Menurut The New York Times, angka tersebut memberi Demokrat keunggulan terbesar atas Partai Republik sejak 2008. Penurunan sembilan poin sejak kuartal keempat 2022 di kalangan pemilih independen yang condong ke Partai Republik dapat menjadi tantangan bagi kandidat Republikan untuk menarik pemilih moderat.
Tingkat kepuasan terhadap kinerja Trump juga terus menurun selama masa jabatan keduanya, menambah kekhawatiran Partai Republik menjelang pemilu paruh waktu. Trump sebelumnya banyak berkampanye mengenai tingginya biaya hidup yang muncul pada masa pemerintahan mantan Presiden Joe Biden. Namun, inflasi tetap berada di atas target 2 persen Bank Sentral AS sejak konflik di Iran dimulai pada Februari.
Pemilih semakin menyebut ketegangan di Timur Tengah dan kenaikan biaya akibat gangguan pelayaran melalui Selat Hormuz sebagai alasan berkurangnya dukungan terhadap Trump.
Di sisi lain, Partai Republik berharap tokoh-tokoh sosialis yang menonjol di Partai Demokrat, termasuk Wali Kota New York Zohran Mamdani dan kandidat Demokrat untuk Senat AS dari Michigan, Abdul el Sayed, dapat membantu mereka dalam persaingan ketat di sejumlah daerah. Komite Nasional Partai Republik menggelar konvensi bergaya kampanye di Texas pekan ini untuk mempromosikan apa yang mereka sebut sebagai pertentangan antara “akal sehat versus kegilaan.”
Survei Gallup tersebut menggunakan sampel acak gabungan terhadap lebih dari 3.000 orang dewasa di AS dengan margin kesalahan sebesar dua poin persentase.
Akhir bulan lalu, miliarder asal AS, Elon Musk dilaporkan kembali mengaktifkan dana politiknya, America Political Action Committee (PAC), untuk memberikan dukungan finansial berskala besar kepada Partai Republik dalam pemilihan umum (pemilu) paruh waktu AS yang akan datang. Menurut laporan Axios, Rabu (29/7/2026), komite aksi politik Amerika PAC itu akan berfokus pada kampanye dari pintu ke pintu, iklan digital, dan surat langsung untuk menarik pemilih konservatif, yang biasanya tidak ikut serta dalam pemilihan sela.
Musk, orang terkaya di dunia versi Forbes itu, telah membahas bantuan tersebut dengan tim Presiden AS Donald Trump dan mempercayakan pengelolaan proyek tersebut kepada penasihat Trump, yakni Chris Young. Pada November nanti, AS akan menggelar pemilihan sela.
Menurut para analis, Partai Republik berisiko kehilangan kendali atas Dewan Perwakilan Rakyat dan diprediksi akan dimenangkan oleh Partai Demokrat. Para pakar mengaitkan potensi hilangnya mayoritas di Kongres AS itu dengan menurunnya tingkat dukungan terhadap pemerintahan Trump di tengah agresi militer melawan Iran dan kenaikan harga-harga.
Namun, Presiden AS Donald Trump mengatakan pada Selasa (21/7/2026), bahwa situasi terkait Iran tidak akan berdampak terhadap hasil pemilihan umum sela Kon




