JAKARTA, REDAKSI17.COM – Cara seorang pemimpin menunjukkan sisi religiusnya kembali menjadi sorotan. Kali ini, Yenny Wahid menyentil Presiden Prabowo Subianto di tengah polemik buku Islam ala Prabowo yang mencantumkan nama sejumlah tokoh agama.
Kemunculan buku tersebut menjadi perhatian setelah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) memberikan kartu tanda anggota NU kepada Prabowo usai Muktamar NU ke-35. Di tengah kedekatan dengan salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia itu, sisi keagamaan Prabowo pun tampak semakin mendapat ruang dalam narasi publik.
Namun, pertanyaannya kemudian bukan sekadar soal seberapa religius seorang pemimpin ditampilkan, melainkan apakah nilai-nilai agama memang harus selalu diperlihatkan secara terang-terangan kepada publik.
Sebab, bagi sebagian masyarakat, sisi religius seorang pemimpin justru dapat terlihat dari tindakan, kebiasaan, serta keputusan yang diambilnya sehari-hari. Tidak selalu harus dikemas dalam simbol atau narasi keagamaan.
Polemik buku Islam ala Prabowo semakin mencuat setelah sejumlah tokoh agama membantah keterlibatan mereka dalam penerbitan buku tersebut. Tuan Guru Bajang (TGB), KH Said Aqil Siradj, dan Gus Kautsar diketahui menyampaikan bantahan terkait pencantuman nama mereka.
Di tengah polemik itu, Yenny Wahid turut angkat bicara melalui unggahannya. Putri almarhum Gus Dur tersebut mempertanyakan apakah Prabowo memang mengetahui dirinya akan dijadikan subjek sebuah buku religi.
“Jangan-jangan presiden juga tidak tahu bahwa dirinya akan dijadikan subyek buku religi.. dan jangan-jangan beliau belum tentu suka,” tulis Yenny.
Yenny kemudian membawa publik pada sebuah contoh dari masa lalu. Ia menyinggung pidato Megawati Soekarnoputri saat menghadiri Harlah NU, ketika Megawati menceritakan masa kecilnya dan kedekatan ayahnya, Presiden Soekarno, dengan para kiai.
Megawati mengisahkan bahwa sejak kecil dirinya kerap melihat para kiai datang menemui Bung Karno. Namun, di sisi lain, Megawati juga secara terbuka mengakui bahwa Soekarno tidak membesarkan anak-anaknya dalam lingkungan yang religius.
Di sinilah pesan Yenny tampaknya ingin ditekankan: kedekatan seseorang dengan tokoh agama tidak serta-merta harus diterjemahkan menjadi pencitraan bahwa kehidupan keluarganya sangat religius.
Kejujuran mengenai latar belakang kehidupan justru dapat menjadi bentuk penghormatan terhadap publik. Tidak perlu mengubah sejarah keluarga agar terlihat lebih agamis dari kenyataan.
Dalam konteks kepemimpinan, nilai agama pada akhirnya tidak hanya dinilai dari seberapa sering simbol keagamaan ditampilkan. Publik juga dapat melihatnya melalui sikap, integritas, kepedulian, serta keputusan yang diambil seorang pemimpin.
Karena itu, kritik Yenny Wahid terhadap fenomena Islam ala Prabowo tidak hanya menyentuh soal sebuah buku.
Lebih jauh ia menekankan soal keberagamaan yang paling jujur bukanlah tentang seberapa besar agama terlihat di depan mata orang lain, melainkan seberapa dalam nilai-nilai agama itu benar-benar hidup dalam dirinya dan tercermin dalam setiap tindak-tanduknya sebagai pemimpin sekaligus manusia di muka bumi.




